
Pelangi selalu menampakkan dirinya bahwasannya dia bewarna dan kamu selalu menyuarakan dirimu bahwa kamu itu ada
"Sini ikut naik"
Pinta Gea melihat Aldo yang masih tetap berjalan di bawah.
"Gua udah besar ngga anak kecil lagi! "
"Siapa juga yang ngira kalo lu itu anak kecil? Semua orang juga tau kalo lu dan gua pake seragam SMA bukan seragam TK! "
Gea masih tetap asik menikmati langkah kakinya. Meniti trotoar adalah satu cara bagaimana Gea mengingat masa kecilnya.
"Malu Gea.. Otak gua juga masih sehat"
"Its Okay"
Gea menikmati langkahnya sembari menatap jalan yang ramai sedangkan Aldo harus di buat malu dengan tingkah aneh Gea. Karena terlalu fokus menatap kedepan Gea tak sadar jikalau ada batu yang membuat dirinya hampir terjatuh. Untung saja Aldo berada di posisi yang tepat. Aldo langsung menangkap tubuh sahabatnya itu. Saat ini tubuh Gea memeluk Aldo karena Gea hampir terjatuh. Waktu seakan berhenti seketika saat mereka saling melekat satu sama lain.
"Kebiasaan! "
Decak Aldo yang kemudian melepaskan pelukannya karena merasa bahwasannya Gea sudah baik - baik saja.
"Siapasih yang naruh batu disitu!"
Ujar Gea tak mau disalahkan. Geapun langsung melepaskan pelukan itu dan kembali berjalan di atas trotoar.
"Makannya dari dulu gua ngga mau ikutan naik ke trotoar karna gua ramal lu bakal jatuh, bahkan sampai lu sebesar ini lu masih tetap saja jatuh"
"Alasan bisa di terima"
Gea turun dari trotoar dan berjalan di samping Aldo untuk sampai di halte tempat bus berhenti. Aldo dan Gea menaiki bus yang searah karena rumah Gea dan Aldo hanya terpaut beberapa rumah saja.
Bus sangat penuh sehingga mengharuskan Gea dan Aldo sebagai orang yang lebih muda berdiri untuk menghormati orang yang lebih tua.
"Gea.. Jujur gua ngga enak banget sama lu"
"Santai aja kali, gua tau Aldo itu orangnya emang ga enakan apalagi sama gua"
"Coba aja kalo lu ngga pulang bareng gua pasti lu ngga ikut desak desakan kayak gini"
"Namanya aja mahluk sosial yang penting gua ngga papa.. Udah gitu aja pokoknya"
Aldo menatap Gea yang terlihat sedang kepanasan karena di dalam bus terlalu banyak orang sedangkan udara hanya masuk dari beberapa celah jendela.
Sesampainya di jalan dekat rumah Gea dan Aldo turun bersamaan. Jarak rumah Gea dan Aldo hanya terpisah beberapa rumah saja.
"Lu tau ternyata pak jamal punya selingkuhan.. "
Kata Gea memulai untuk bergosip. Aldo mengkerutkan keningnya pertanda Gea akan berbicara ngelantur setelah ini.
"Kata siapa? "
"Kemarin ibu² komplek pada gosipin gitu.. Kalo gua jadi bu Jamal mungkin gua akan menggugat cerai pak Jamal langsung"
Aldo menghentikan langkahnya. Telapak tangan Aldo langsung menabok wajah Gea yang sedang mengoceh itu.
"Auu.. Aldoo!! "
"Udah deh Ge, ngga usah urusin rumah tangga orang *****! "
__ADS_1
Gea merapikan poninya karena tercak - acak oleh tabokan tangan Aldo yang besar.
"Aldo.. Lu ya bener²!"
Gea membalas Aldo dengan mencubit tangannya. Lalu lari mendahului Aldo agar Aldo tak bisa membalas serangannya itu.
"Satu banding satu.. Mwekkk"
Teriak Gea sembari mengejek Aldo. Tak terasa Gea sudah sampai di depan rumahnya.
"Mau mampir ngga nih? "
"Engga dulu, masih banyak tugas"
"Okayy deh"
Aldo pergi meninggalkan Gea tapi sebelum itu Aldo mengacak² poni Gea terlebih dahulu.
"Dadaa Aldo..!! "
Teriak Gea sembari membenarkan posisi poninya. Gea melambaikan dada ke Aldo begitupun juga dengan Aldo.
---0---
Hari sudah mulai terang. Gia terbangun menatap tubuh Riri yang tertidur disampingnya. Raut wajah Gia terlihat heran apa yang barusan terjadi dengannya?. Gia mencoba untuk keluar kamar menemui Bu Rumi yang sedang sibuk di dapur. Gia mengambil segelas air minum dan duduk di ruang makan.
"Sudah bangun kamu teh? "
Ujar Bu Rumi sembari memotong daging di dapur yang melihat Gia dari arah kaca.
"Umm.. "
"Bu, Gia udah sehat kok"
"Beneran udah sehat?"
"Iya.. Oiya bu, kemarin Riri sama Gia pulangnya gimana? kok Gia udah sampai di rumah sih"
Gia meletakkan gelasnya dan menuju ke arah dapur.
"Temen kamu yang nganter.. anaknya baik, ganteng lagi"
Mata Gia terpelongo. Teman? bukankah selama ini Gia hanya berteman dengan Foa saja tapi kenapa Bu Rumi bilangnya ganteng? berarti cowo dong. Gia memukul mukul kepalanya pelan untuk berusaha mengingat siapa yang mneghantarkannya pulang semalam.
"Gia ngga tau kalau akhirnya bakal ada petasan.. Kemarin Gia pasti nyusahin Riri"
Decak Gia sembari memotong sayur bayam yang ada di hadapannya.
"Ya.. seperti yang kamu bayangkan, kamukan juga tau teh kalau Riri deket banget sama kamu, apalagi dia perginya sama kamu pastinya dia merasa bersalah banget sama kamu"
"Ahh.. Riri pasti suka giu! Bu, Gia mau mandi dulu ya"
"Iya teh, jangan lupa bangunin adek adekmu"
Gia keluar dari dapur. Gia masih berfikir siapa teman Gia yang menolongnya semalam. Gia mendecak kesal karena tidak bisa mengingat sama sekali siapa orang yang menghantarkan dia dan Riri pulang.
---0---
Nata meraih tasnya dan menatap tubuhnya sendiri di kaca. Merapikan rambutnya yang terlihat belum rapi.
__ADS_1
"Na.. Makanan udah siap nih"
Teriak wanita paruh baya yang selama ini mengurus Nata dengan penuh kasih sayang. Nata keluar dari kamarnya dan menemui keluarganya yang sudah menunggu untuk sarapan bersama.
"Morning sayang"
Sapa mami Nata dengan senyuman lebar diwajahnya.
"Morning.. "
Mami Nata meraih roti dan mengoleskan selai nanas diatasnya. Didepan Nata juga sudah tertata nasi goreng dan segelas susu yang masih hangat.
"Na, sarapan nasi goreng aja mam"
"Akhirnya kamu mau sarapan nasi, mami jadi senang deh"
Mami Nata meletakkan kembali roti dengan selesai di piring kosong. Nata terlihat menyantap beberapa suap nasi goreng dengan lahap.
"Kak.. Tolongin teteh"
Ucapan Riri yang masih teringiang ngiang di pikiran Nata.
"Kira - kira si cupu berangkat sekolah ngga ya? Gila sih kalo dia berangkat berarti dia kuat banget! "
Decak Nata dalam hatinya sembari mengunyah pelan nasi goreng yang disantapnya.
"Na.. Kalo makan jangan sambil melamun"
Kata Papi Nata yang memperhatikan Nata dengan serius. Nata masih melamun dengan memikirkan kondisi Gia.
"Na.. "
Kata Mami Nata yang membuat Nata terbangun dari lamunannya.
"Mam Na.. Minta bekal nasi goreng ya"
Ujar Nata spontan. Entah apa yang dipikirkan Nata sampai Nata bisa mengucapkan hal itu, padahal Nata paling anti membawa bekal ke sekolah.
"Hah? Kamu serius? "
Nata sendiri terkejut dengan perkataannya. Namun ada baiknya dia membawakan sekotak nasi goreng untuk Gia sekalian menjadi alasan agar Nata bisa bertemu dengan Gia.
"Serius mam.. Oiya, nanti Na nyetir mobil sendiri ya.. "
"Tumben banget kamu tiba - tiba minta bekal terus mau nyetir mobil sendiri? "
Ujar Mami Nata heran. Mami Nata beranjak dari tempat duduknya untuk menyiapkan bekal.
"Na.. Bukannya papi melarang kamu, tapi sebaiknya kamu diantar supir aja atau kalo kamu mau sendiri naik motor aja ya"
"Ayolah Pa.. Sekali aja"
"Na.. Papi ngizinin kamu kalo itu diluar sekolah, Na.. Papi harap kamu bisa ngerti ya"
Nata terlihat kecewa. Kemudia Nata meneguk segelas susu sebelum berangkat. Mami Nata memasukkan bekal Nata ke dalam tas Nata.
"Na, berangkat dulu Mam Pa"
Nata langsung pergi meninggalkan keluarganya begitu saja.
__ADS_1