CUPU

CUPU
TEMUKAN DIFA


__ADS_3

"Bang, gue mohon sama lo, lo lepasin Difa sekarang ya."


"Vin lo denger ya, gue mati-matian susah payah buat bisa berhasil nyulik Difa. Dan lo dengan mudahnya dateng dan minta gue buat lepasin Difa, otak lo di mana Vin, mikir lo."


"Bang gue tau, gue tau tapi nggak seharusnya lo kayak gini, mungkin lo benci sama bang Deo oke fine dan lo berniat buat balas dendam sama bang Deo. Tapi..." belum selesai ia menyelesaikan bicaranya, Alex langsung memotong bicaranya. Tampak terlihat raut kesal di wajahnya.


"Terus masalah buat lo apa?" ucap Alex datar, tanpa memandang Kevin.


"Nggak ada untungnya juga kan lo, mati-matian nolong Difa," sambung Alex lagi.


"Iya bang nggak ada untungnya sama sekali buat gue, tapi gue cuma berusaha untuk nyadarin lo bang. Supaya lo balik ke jalan yang baik, lo tau kan kalau perbuatan lo ini adalah perbuatan nggak baik? gue harap lo ngerti maksud gue bang."


"Nggak usah sok perhatian lo, gue bisa ngerti sendiri. Gue tau mana yang baik dan mana yang buruk," ucap Alex dingin.


"Nggak usah sok perhatian? ulang Kevin, gue memang perhatian bang sama lo. Gue ini adik lo, gue juga adik bang Deo, kalian berdua abang-abang gue, gue sebagai adek nggak bakal tinggal diam kalau abang-abang gue berada di jalan yang nggak bener. Dan gue nggak bakal berhenti sampai misi gue itu berhasil," tekan Kevin diakhir-akhir kalimatnya.


Huh... Alex membuang nafas kasar.

__ADS_1


"Semua ini gue lakuin hanya untuk Putri," ucap Alex sebelum ia memalingkan mukanya dengan sempurna.


***


Di sisi lain...


Duarr... suara tembakan terdengar dari luar ruangan.


"Bom, suara apa'an?" tanya Odon panik kepada Bom temannya, dan hanya dibalas gelengan kepala dari Bom.


"Angkat tangan!" teriak 2 orang polisi yang tiba-tiba muncul dari dua arah secara bersamaan.


Belum sempat mereka keluar, polisi dengan sigapnya melepaskan tembakan tepat ke kaki mereka, setelah polisi 2 kali melepaskan tembakan peringatannya.


"Duaarr.." Bom dan Odon mendadak terkulai lemas di lantai, sebelum kedua polisi meringkus keduanya.


"Yaang," panggil seseorang dari arah belakang Difa.

__ADS_1


Difa yang sudah sangat hafal dengan pemilik suara itu, sontak membuatnya mengangkat kepalanya yang memang sedari tadi hanya menunduk saja.


Difa yang memang mudah merasa trauma, tidak sanggup menyaksikan kejadian di depannya.


"Kak Deo," lirihnya ketika kepalanya sudah sempurna mengangkat, dan menampakan sosok lelaki yang sudah tak asing lagi baginya sedang berdiri di depannya.


Deo berjongkok di depannya, menatap matanya sendu.


Raut muka yang tak bisa diartikan oleh Difa sendiri, tatapan mata sayu, penampilan yang acak-acakan serta lebam-lebam di sekitaran wajahnya. Membuat Difa merasa iba kepada kekasihnya itu.


"Kakak kenapa?" tanya Difa pelan, dengan masih terus menatap sendu Deo.


"Maaf," hanya itu yang keluar dari mulut Deo.


Nb: Difa masih terduduk di kursi, tangan dan kakinya masih terikat.


Difa menatap lekat mata Deo, begitu juga dengan Deo.

__ADS_1


"Bang Deo," panggil seseorang sambil berlarian kecil mendekat ke arah Deo dan Difa.


__ADS_2