CUPU

CUPU
BELUM MOVE ON


__ADS_3

"Tapi Ma.." terputus.


"Udah kamu nurut aja sama Mama, Mama itu sayang sama kamu. Mama pasti juga udah mempertimbangkannya dengan baik," suara Papa nya.


"Udah Pa, biarin aja kalau Deo nggak mau.. Jangan dipaksa," ucap Mama nya.


Deo menatap lekat wajah Mama nya, terdapat raut penuh harap di sana.


Ia membuang nafasnya perlahan."I-iya Deo mau menikah dengan Dira."


Mama dan Papa nya saling tatap tak percaya."K-kamu beneran mau?" tanya Mama nya."Iya."


Mendapat jawaban yang sesuai harapannya, Mama nya tersenyum bahagia.


**


"Bagaimana para saksi sah?"


Sah..


Berakhir sudah masa lajangnya di umurnya yang masih 20 tahun.


'Dira memang sahabat gue, tapi gue sama sekali nggak punya perasaan lebih ke dia, selain rasa sayang sebagai sahabat. Gue nggak bisa bohongi perasaan gue sendiri, gue masih sayang cinta sama Difa. Hingga detik ini gue masih berharap untuk bisa kembali dengannya. Di sisi lain gue nggak mau buat Mama kecewa.. Huufh gue telah menerima perjodohan ini, gue nggak mau ngecewain Mama.. Gue bakal berusaha untuk nerima Dira.'


'Ini adalah perjalan hidup lo yang baru Deo, lo harus semangat,' ucapnya menyemangati dirinya sendiri.

__ADS_1


SAHHH... Suara terdengar menggema di dalam ruangan itu.


**


Bayangan-bayangan di saat ia menikahi gadis bernama Dira dua hari lalu itu kembali terbayang dipikirannya.


Arrrghh..


_____


Bandung.


'Sekarang, Kakak lagi ngapain ya?' ucapnya sembari memandangi foto laki-laki di layar ponselnya.


"Hey.. Lagi ngapain?" suara itu membuyarkan lamunannya.


"Eh, Kak Kevin? Nggak kok nggak ngapa-ngapain," ucapnya sembari menyimpan ponselnya.


'Semoga Kak Kevin nggak liat foto Kak Deo di ponsel aku tadi,' harapnya dalam hati.


"Em.. Kakak ngapain ke sini?" ucapnya mengalihkan pembicaraan.


"O-oh gue.. Tadi mau ke kantin nggak sengaja liat lo duduk di taman sendirian, yaudah gue samperin," jelas Kevin.


"Oh gitu," Difa hanya ber oh ria.

__ADS_1


"Lo mau ke kantin bareng?" tawar Kevin.


"Em boleh Kak, yok?" terimanya.


***


"Deo, sekarang status kamu sudah menjadi kepala keluarga, Papa rasa kamu harus bisa mandiri, tanggung jawab kamu kini telah bertambah Nak.. Ada istri kamu yang harus kamu hidupi, harus kamu nafkahi.. Nggak mungkin kalau kamu harus terus bergantung dengan Papa dan Mama, Papa dan Mama nggak masalah jika harus menghidupi kebutuhan kalian, tapi.. Kamu harus belajar mandiri.. Ini demi kebaikan kamu, demi kebaikan kalian suami-istri," ucap Papa nya.


Deo menatap wajah Papa dan Mama nya bergantian, ia tersenyum."Iya Pa, Ma, Deo ngerti Deo akan bekerja Deo akan mandiri untuk menghidupi kebutuhan Deo dan istri Deo sendiri," ucap Deo lembut.


Papa nya tersenyum."Kerja lah di kantor Papa, urus salah satu kantor Papa yang ada di bandung," ucap Papa nya.


Deo kaget."Pa, beneran?"


Papa dan Mama nya hanya tersenyum.


"Iya, Papa dan Mama belum kasih hadiah pernikahan buat kalian bukan? Nah, kantor Papa yang di bandung ini, Papa beri sebagai hadiah pernikahan kalian," ucap Papa nya.


Deo dan Dira saling pandang."Terima kasih Ma, Pa," ucap Deo dan Dira.


"T-tapi Pa, apa Deo sanggup mengurus semua itu sendiri?" ucap Deo.


"Kamu nggak ingat, di sana, di bandung ada Kevin, sepupu kamu, kalian bisa bekerja sama mengurusnya.. Papa percaya sama kalian berdua."


"Iya, Pa."

__ADS_1


__ADS_2