
"Den, ada Den X (sebut saja namanya X) di bawah," ucap salah satu Art rumahnya.
'Mau apa dia kesini?' gumamnya.
"Tumben abang kesini?" ucapnya.
X tersenyum sinis."Enggak usah sok drama lo."
Y (sebut saja ia Y) ia hanya diam.
"Lo mau berkhianat," ucap X langsung.
Y hanya diam.
"Elo ngapain lindungin dia," ucap X lagi.
"Apa salahnya bang, kalau gue lindungin dia. Toh dia juga enggak bersalah kok," ucap Y bersuara.
X tersenyum sinis."Gue nggak peduli, dia mau bersalah atau enggak sekali pun. Di mata gue dia akan tetap sama akan salah juga."
"Egois lo," ucap Y kini ia berbalik badan dan ingin melangkah pergi.
"Egois lo bilang, egois mana dibanding abang lo satu itu," ucap X sinis.
Y berbalik badan.
"Jelas egois elo," ucap Y.
"Masih nggak ngerti juga lo," ucap X.
"Gue ngerti bang, malah gue sangat-sangat mengerti," ucap Y.
"Ngerti kata lo, tapi faktanya sekarang elo belum juga ngerti," ucap X sinis.
"Iya gue nggak ngerti bang, gue nggak ngerti sama jalan pikir lo. Puas lo," ucap Y mulai emosi.
"Sekarang, lo mulai berani ya ngelawan gue. Dipelet apa lo sama abang lo itu, dulu gue enggak pernah liat lo ngomong kasar kayak gini," ucap X.
"Gue enggak dipelet bang, gue enggak berubah. Gue tetep sama kayak dulu, gue bisa ngomong kasar kayak gini itu semua karna elo sendiri. Sikap elo sendiri yang membuat gue bisa bicara kayak gini, gue sudah muak bang sama sikap lo," ucap Y.
X emosi, tangannya terangkat. Ingin menampar Y namun terhenti disaat Y bicara.
"Tampar bang, tampar gue kenapa lo berhenti. Kalau dengan nampar gue bisa buat lo puas, silakan bang gue bakal ikhlas. Tampar gue bang, tampar gue, gue bener-bener muak sama lo," ucap Y.
__ADS_1
Plak... X menampar Y.
Y tersenyum kecut, cukup lama dia terdiam. Sebelum ia pergi dari hadapan X tanpa menolehnya sedikit pun.
Tok... tok... tok... terdengar suara ketukan dari kaca luar kamarnya.
'Suara apa itu,' gumam Difa.
Ia berjalan mendekat ke arah suara itu.
'Suaranya dari sini,' ucapnya menunjuk jendela kaca kamarnya yang tertutup gorden.
Tok... tok... tok... lagi-lagi terdengar suara ketukan.
Dipegangnya gorden, dibukaknya perlahan-lahan gordennya.
Aaaaaa, teriaknya sebelum ia terjatuh pingsan tak sadarkan diri.
Keesokan harinya.
"Dif, Difa sayang, bangun sayang," ucap Mamanya.
"Kamu kenapa bisa tidur di bawah sayang."
"Tidur di bawah?" ucap Difa pelan.
"Iya sayang tidur di bawah."
Difa mengingat-ingat kejadian yang terjadi kepadanya semalam.
"Ma," ucapnya pelan.
Difa baru mengingat.
"Iya sayang ada apa?" ucap Mamanya lembut.
"Tadi malem Difa liat hantu Ma," ucap Difa.
"Hantu?"
"Iya Ma, hantu."
"Di mana sayang, enggak ada hantu di sini," ucap Mamanya.
__ADS_1
"Ma bener Ma, Difa nggak bohong semalem Difa liat hantu Ma. Hantunya ada di sana," ucapnya menunjuk ke arah jendela kamar.
"Nggak ada sayang, enggak ada hantu. Kamu pasti mimpi, kamu kecapean ya? yaudah kalau kamu capek hari ini sekolahnya libur aja dulu."
"Enggak Ma Difa nggak mimpi itu beneran Ma, hantunya cewek, rambutnya panjang, terus mukanya-mukanya rusak, dan ada darah-darahnya Ma."
"Enggak sayang semua itu enggak ada, kamu pasti kecapean makanya kamu mikir yang enggak-enggak kayak gitu."
"Tapi Ma..."
"Udah kamu istirahat aja ya."
"Enggak Ma, Difa mau sekolah," ucapnya dan berdiri dari duduknya di lantai.
Mamanya ikut berdiri."Mama keluar ya," ucap Mamanya dan diangguki oleh Difa.
Dilain tempat...
"......"
"Enggak, Gue nggak mau."
"......"
"Gue nggak mau, lo tau nggak sih risiko yang bakal terjadi? kalau lo tetap kekeh dengan rencana lo ini."
"......"
"Gue tetap nggak mau."
"......"
"Terserah lo, gue nggak mau ikut-ikutan."
Pulang sekolah...
Difa berdiri di depan gerbang sekolah, ia menunggu taxi lewat. Ya hari ini memang Deo tak menjemputnya dikarenakan Deo yang ada pelajaran tambahan di kampusnya.
Difa telah mendapatkan taxi...
Di jalan...
"Pak ini bukan jalan rumah saya lho pak," ucap Difa heran.
"Pak..." panggilnya namun tidak digubris oleh sopir taxi.
__ADS_1