CUPU

CUPU
Phobia Petasan


__ADS_3

Ayok merangkul ke tiga sahabatnya itu. Nata yang memilih menggunakan headshet ditelinganya tak mau berurusan dengan keributan yang terjadi antara Ayok dan juga Adit.


"Ehh, bentar lagi ada pesta kembang api"


Kata Dimas melepaskan rangkulan tangan Ayok.


"Yoi broo.. Kita langsung cuss ke tengah yuk"


Ayok menggeret tangan Nata dan Dimas sedangkan Dimas menarik tangan Adit.


"Broo.. Ngga usah narik - narik juga kali"


Ujar Adit yang sedari tadi moodnya sudah hancur tapi mencoba untuk menikmati.


Gia dan juga Riri masih menikmati pasar malam ini tanpa mereka ketahui bahwa pesta kembang api akan dimulai.


"Teh, Riri mau beli arumanis dulu ya"


"Biar teteh aja ya yang beli"


"Ngga usah teh, Riri aja"


Ujar Riri menyakinkan Gia.


"Ya udah.. Tapi Riri hati - hati ya"


Gia akhirnya menyerah karena dirinya juga cukup capek untuk hari ini.


"Iya teh"


Riri turun dari kursi dan pergi meninggalkan Gia. Gia yang masih asik makan es cream tak menyangka jika pesta kembang api sudah dimulai.


(Duar... Duar.. Duar... )


Suara petasan bergemuruh menggetarkan langit. Warna - warni dari petasan juga menghiasi langit malam ini.


Gia membuang es cream yang ada digenggamnya seketika. Gia menutup telinganua dengan kedua tangannya karena dari dulu Gia selalu parno dan takut dengan suara petasan.


"Aarghhh... "


Decak Gia mencoba untuk tenang. Gia menutup matanya rapat - rapat dan menundukkan dirinya.


"Teteh kenapa? "


Tanya Riri merasa khawatir melihat keadaan Gia.


"Teh Gia.. "


"Tehh.. "


"Tetehh.. "


Tanya Riri berulang kali tapi tetap saja Gia masih menutup matanya, menundukkan kepalanya, dan membungkam kedua telinganya. Riri mencoba untuk menenangkan Gia yang merasa ketakutan tapi Riri masih belum bisa menenangkan Gia.


"Teteh... Tunggu disini ya"


Ujar Riri sebelum pergi meninggalkan  Gia. Riri melihat kesana kemari untuk meminta bantuan kepada seseorang tapi Riri masih terlalu kecil untuk mereka percayai. Berulang kali Riri memohon kepada orang yang lebih tua dari Riri tapi mereka tidak ada yang mau sebab mereka lebih mementingkan untuk melihat pesta kembang api.


Riri melihat keberadaan Nata dan teman - temannya yang sedang berjalan menuju pusat keramaian yaitu di pusat kembang api.


"Kak, tolong kak"


Ujar Riri yang datang dihadapan Nata.


"Broo..broo tuh anak kenapa? "


Tanya Ayok menepuk nepuk pundak Nata. Setelah melihat keberadaan Riri yang tiba - tiba ada dihadapannya Nata akhirnya mencopot headshetnya.


"Kenapa dek? "


Ujar Nata menjongkokkan kakinya agar bisa bicara sejajar dengan Riri.


"Tolongin teteh, Riri kak"


Kata Riri memohon kepada Nata dengan mata yang berkaca - kaca.


"Nat hati hati itu modus pencopetan"


Seru Dimas kepada Nata yang menatap aneh wajah Riri.


"Hush.. Itu anak ngga terlihat kalo mau mencopet"


Ketus Ayok. Ayok dan Nata mencob untuk mendekatkan dirinya ke arah Riri.


"Dek, tenang ya.. Coba cerita sama kita kamu kenapa? "


Tanya Ayok serius.


"Ayuk ikut Riri.. "


Ucap Riri menggeret tangan Nata untuk mengikutinya. Sedangkn Dimas dan Adit memilih untuk mengikuti Nata dan Ayok dari arah belakang namun dengan jarak agak jauh untuk berjaga - jaga kalau ini modus penipuan.


Riri menggiring Nata dan Ayok menuju ke arah Gia. Namun Gia sudah menghilang dari kursi tempat duduk Gia dan Riri semula.

__ADS_1


"Teh Gia.. "


Teriak Riri menamati sekitarannya.


"Teteh.. "


"Teh Gia dimana?? "


Teriak Riri kembali.


"Dek.. Kenapa tetehnya? "


Tanya Nata serius kepada Riri yang sudah mulai menangis segukan.


"Teteh hilang.."


Ucap Riri. Riri berlari mencari keberadaan Gia kesana dan kemari tapi Riri masih tidak menemukan sedangkan petasan masih berulang kali terdengar keras dari telinga Riri.


"Emang teteh kamu kenapa? "


Tanya Ayok kepada Riri yang berjalan di depannya.


"Teteh takut sama suara petasan, Riri lupa kalau hari ini ada pesta kembang api.."


Ujar Riri sembari menangis. Nata dan Ayok mencoba untuk mengejar Riri yang masih berlari mencari keberadaan Gia.


"Kak, bantuin Riri cari teteh ya"


Kata Riri memohon kepada Nata dan juga Ayok"


"Iya pasti kita bantuin kok dek"


Sahut Nata dan Ayok.


"Teteh dimana sih, Riri khawatir sama teteh"


Rengek Riri. Riri menatap ke arah pohon yang besar dan gelap. Riri melihat ada Gia yang sedang ketakutan dibawah pohon.


"Itu teteh.. "


Teriak Riri berlari kencang menuju ke arah Gia.


"Teteh ngga papa? "


Tanya Riri menemui Gia yang menangis ketakutan. Gia masih membungkam telinganya.


"Broo, itu bukannya si cupu ya? "


"Iya yok, itu cupu"


Jawab Nata. Riri langsung memeluk tubuh Gia agar Gia merasa tenang.


"Teh maafin Riri, Karena Riri teteh jadi gini"


Kata Riri sambil mencoba menenangkan Gia.


"Cupu..."


Ujar Ayok. Mendengarkan kata Ayok Nata langsung menginjak kaki Ayok. Mana mungkin Ayok dan Nata bisa menyebut nama Gia dengan sebutan Cupu di hadapan adeknya.


"Upss.. Sorry"


Jawab Ayok menepuk bibirnya seketika.


"Teh Gia kalau teteh udah tenang kita langsung pulang ya"


Ujar Riri merapikan rambut Gia yang terlihat acak - acakan. Nata mencoba untuk menjongkokkan kakinya.


"Gi, lo ngga papa? "


Tanya Nata. Nata mengelus - elus rambut Gia dengan tulus.


"Emm.. Adek rumahnya mana biar nanti kakak antarin pulang? "


"Riri sama teh Gia ngga punya rumah, kami tinggal di panti asuhan kak"


Kata Riri. Nata masih mencoba untuk menenangkan Gia yang ketakutan.


"Kak, boleh ngga kakak meluk teh Gia? Soalnya kalau teteh kayak gini biasanya Bu Rumi meluk teh Gia tapi Bu Rumi ngga ikut ke pasar malam"


Seru Riri memohon kepada Nata. Nata terdiam seketika apa mungkin ia bisa memeluk wanita yang menjadi incaran satu sekolahan.


"Tentu boleh dong, itu namanya kak Nata.. Jadi kami itu teman sekolahnya teteh kamu"


Kata Ayok kepada Riri. Riri menatap ke arah Nata yang masih terdiam.


"Kalau kak Nata ngga mau biar Riri yang peluk lagi teh Gia"


Riri mencoba memeluk lagi Gia. Nata berdiri dan menggeret Ayok untuk berunding sebentar.


"Lo apa - apaan sih Yok, masak iya gua suruh meluk si cupu"


Protes Nata. Ini tak mungkin baginya karena perbedaan kasta baginya.

__ADS_1


"Nata, lo ngga kasihan sama si cupu? Apalagi dama adiknya noh.. Udahlah peluk aja bukannya lo juga pernah di tolong sama Cupu? "


Tanya Ayok berusaha menyakinkan Nata agar ia mau memeluk Gia.


"Lo aja sana yang peluk"


"Kan adeknya bilang sama lo bukan gua"


"Yok.. "


"Nata.. Kasihan tuh anak orang ketakutan"


Ujar Ayok. Apa kata Ayok juga ada benarnya menurut Nata. Nata juga tidak tega melihat Riri dan juga Gia. Tanpa pikir lama akhirnya hati Nata luluh. Nata membalikkan badannya dan lari menuju ke arah Gia untuk memeluk tubuh Gia agar merasa tenang.


Riri berdiri menuju ke arah Ayok yang melambaikan tangannya untuk menyuruh Riri bersamanya.


"Anjirr gua cari kalian kemana - mana ternyata ada disini"


Gumam Adit yang datang bersama Dimas.


"Itukan boneka Riri"


Kata Riri menatao bonekanya yang di bawa oleh Dimas.


"Ohh.. Jadi ini boneka kamu dek? "


Tanya Dimas.


"Iya kak, itu boneka tadi yang teteh Gia kasih buat Riri"


Ucap Riri menggemaskan. Dimas akhirnya memberikan boneka itu kepada Riri dan mencubit hidung Riri.


"Maaf ya tadi kakak pikir ini boneka ngga ada yang milikin"


Seru Dimas. Adit dan Dimas melihat ke arah Nata yang memeluk Gia dan mencoba untuk menenangkan Gia.


"Broo.. Itu cupukan? "


Tanya Dimas heran kepada Ayok.


"Hushh.. Ada adeknya nih, panggil aja Gia kalau sama adeknya"


"Nata suka sama Gia? "


Tanya Adit menatap serius ke arah Nata dan Gia. Nata terlihat sangat tulus memeluk Gia dan menenangkannya.


"Bukan, jadi Gia itu punya phobia sama petasan dan lo tau sendiri ini ada pesta kembang api"


"Ooo.. Kasihan juga ya si Gia"


Seru Adit. Setelah beberapa menit Gia dipeluk oleh Nata akhirnya Gia mulai mereda dan tenang. Gia mulai membuka telinganya dan matanya.


"Nata.. "


Tanya Gia kepada Nata yang sudah ada dihadapannya.


"Udah lo jangan banyak bicara"


Ujar Nata menghapus air mata Gia yang masih terlihat jelas.


"Riri mana? "


Tanya Gia mencari keberadaan Riri.


"Teteh.. "


Teriak Riri berdada - dada ke arah Gia.


"Gua antar lo sama Riri pulang ya"


Kata Nata yang melihat kondisi malam sudah semakin larut.


"Hummm"


"Yok lo ikut gua anter Gia sama Adeknya ya.. Dimas sama Adit lo naik taxi aja"


Ujar Nata. Nata membantu Gia untuk berdiri dan membawa Gia dan Riri untuk menuju ke mobilnya. Riri dan Ayok duduk di bangku belakang sedangkan Gia duduk di depan bersama Nata.


Perjalanan tak cukup jauh namun Gia sudah terlelap tidur sedangkan Riri masih asik mengoceh menceritakan kisah hidup Gia selama ini.


"Makasih ya kak udah anterin Riri sama teteh pulang"


"Iya sama - sama"


Riri turun dari mobil disusul oleh Ayok. Nata merasa sungkan untuk membangunkan Gia setelah kejadian tadi mungkin Gia merasa lelah. Nata memilih untuk menggendong tubuh Gia menuju ke kamarnya.


Bu Rumi menyaksikan Gia yang terbaring lemah merasa khawatir. Apalagi saat kejadia. Bu Rumi sedang tidak berada di sisi Gia. Nata menarik selimut Gia hingga menutupi tubuh Gia. Nata menghela nafas berat menatap Gia yang ternyata bukan seburuk apa yang dia pikirkan selama ini.


"Makasih ya semuanya"


Ujar Bu Rumi kepada Nata dan Ayok.


"Terimakasih sudah membuat saya terlelap dan merasa tenang." ~Gia Sabila Putri

__ADS_1


__ADS_2