
"Yaang," panggil Deo tiba - tiba.
Difa menoleh, ke arah sumber suara itu.
"Kak," ucap Difa.
Deo berjalan mendekati Difa ketika ia sudah berada di depan Difa, dan ia dapat melihat dengan jelas wajah Difa ia langsung panik.
"Kamu kenapa nangis? siapa yang udah nyakitin kamu, siapa orangnya siapa bilang sama aku?" tanya Deo dengan khawatirnya.
Pasalnya Deo melihat wajah Difa penuh di banjiri dengan air mata.
"Oh aku tahu, ini pasti karena dia kan?" ucap Deo geram dan menunjuk wajah Cica.
Difa menggeleng."Enggak kak, Cica enggak salah, enggak ada orang yang nyakitin aku aku nangis itu karena aku bahagia aku terharu kak," jelas Difa.
"Emang bener?" tanya Deo meyakinkan.
"Iya kak," angguk Difa.
"Kamu terharu karena apa kok sampe nangis kayak gitu?" tanya Deo.
Difa menceritakan....
Setelahnya.
"Ca, elo benerkan tulus minta maaf sama Difa?" tanya Deo sedikit meragukan.
"Iya kak, aku tulus dan juga aku minta maaf atas kelakuan aku terhadap Difa kemaren. Aku sadar aku salah aku pasrah kak kalau misal kalian mau laporin aku ke kepsek aku akan terima resikonya," ucap Cica sendu.
__ADS_1
Deo melihat Cica merasa iba.
Deo melirik Difa, Difa menggeleng.
"Gue enggak akan laporin elo," ucap Deo pada Cica.
Cica yang dari tadi hanya menundukkan kepalanya, kini beralih menatap Deo.
"Gue enggak akan laporin elo, elo tenang aja," ucap Deo lagi.
"Bener kak?" ucap Cica tak percaya.
Deo mengangguk."Iya."
"Terima kasih kak," ucap Cica senang.
"Elo enggak perlu terima kasih sama gue. Elo harusnya terima kasih sama Difa, dia yang suruh gue agar enggak laporin elo gue hanya ngikuti katanya aja. Andai Difa enggak larang gue mungkin sekarang elo udah out dari ini sekolah," jelas Deo pada Cica.
Difa tersenyum."Iya, Ca."
Cica menarik Difa ke dalam pelukannya, mereka menangis rasa hati bercampur aduk rasa haru, rasa bahagia semua mereka rasakan rasa saling menguatkan di antara keduanya.
Semua bertepuk tangan.
Difa melepas pelukannya."Teman - teman hari ini kan adalah hari spesial bagi aku, baik karena Cica udah berubah dan juga karena semua masalah Cica sama aku udah selesai. Kelar nggak ada lagi masalah jadi hari ini aku mau traktir kalian makan," ucap Difa senang pada teman - teman kelasnya.
"Hah ... serius Dif?" tanya semua kompak.
Difa mengangguk.
__ADS_1
"Yeyy," teriak mereka senang.
"Dif, kamu beneran mau traktir kita makan, kita orang banyak lho Dif?" ucap salah satu dari mereka.
"Iya Dif, kamu yakin mau traktir kita?" sahut teman lainnya.
"Iya teman - teman," jawab Difa yakin.
"Emh ... karena ini juga menyangkut sama aku jadi aku juga akan ikut bantu Difa, buat traktir kalian makan," ucap Cica langsung.
"Eh ... Ca enggak usah biar aku aja yang traktir," tolak Difa.
"Enggak Dif, enggak apa - apa anggap aja ini sebagai perayaan hari damainya kita berdua. Kata kamu ini adalah hari bahagia kamu berarti hari ini juga hari bahagia aku dong, hari ini adalah hari bahagia kita berdua masak di hari bahagia kita berdua ini, Kamu doang yang traktir mereka makan aku enggak. Kan itu namanya enggak adil jadi enggak apa - apa ya aku bantu kamu traktir mereka," ucap Cica dan tersenyum pada Difa.
Difa tersenyum."Iya Ca."
"Gue juga ikut bantu Difa sama Cica buat traktir kalian," ucap Deo tiba - tiba.
"Lho kok kakak jadi ikutan sih?" tanya Difa bingung.
"Iya nih kak Deo, kalau aku ikut bantu kan wajar karena ini ada sangkutannya juga sama aku. Lah kakak apa hubungannya kok ikut bantu iya enggak Dif? hehehe," ucap Cica dan terkekeh.
"Iya juga sih," ucap Deo dan
menggaruk - garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Hahaha" semua tertawa.
"Tapi enggak apa - apa lah, Difa kan pacar gue jadi supaya adil ya gue bantuin dia buat traktir kalian," ucap Deo cengeesan.
__ADS_1
"Nah kalau gini alasannya baru di terima," Canda Cica.
"Hahaha" semua tertawa.