
Lanjut....
"Hem iya juga sih," angguk Raffa.
Tiba - tiba.
"Hai guys," teriak seseorang dari arah belakang mereka.
Semua menoleh kecuali Difa.
"Baru dateng lo?" tanya Raffa.
"Yo'i," jawabnya, Deo tak menyadari adanya Difa.
"Elo, berangkat sendirian?" kini Andy yang bertanya.
"Ya iyalah Ndy sendirian, kalau enggak sendirian gue harus bareng sama siapa coba? bareng kalian emang kalian mau kita bonceng tiga pake motor gue hahaha," ucap Deo dan tertawa.
"DIFA," ucap Raffa dan berhasil membuat Deo langsung terdiam.
"Saayang" ucap Deo baru sadar bahwa di sana ada Difa.
"Kamu kenapa nangis yaang?" tanya Deo dan langsung menghampiri Difa dan ia berjongkok di depan Difa yang sedang duduk di kursi.
Difa hanya diam air matanya semakin tak bisa di bendungnya lagi tangisnya pun pecah.
"Yaang kamu kenapa kok nangis, cerita coba sama aku kamu kenapa nangis," ucap Deo lembut.
Tak ada tanggapan dari Difa.
"Bro elo kemaren jalan sama siapa," ucap Raffa to the point.
Deg..deg.. seketika Deo langsung terdiam.
"Ya ampun apa yang udah gue lakuin gue bodoh gue bodoh, kenapa gue bisa lupa kalau gue punya pacar arghh ...
bisa - bisanya gue lupa bahkan yang lebih parahnya lagi. Gue nggak ngasih kabar ke Difa dari kemaren sore padahal gue udah janji kalau gue bakal ngabarin dia kalau gue udah sampe rumah argghh," rutuk Deo dalam hati.
Deo yang sudah mengerti alasan kenapa Difa seperti ini langsung meminta maaf.
"Yaang maaf," hanya kata itu yang mampu Deo keluarkan dari mulutnya, Deo sudah tak bisa berkata - kata lagi sakit hatinya melihat wanita di depannya itu menangis karena dirinya.
"Yaang," lirih Deo.
"Maafin aku."
Difa sedikit tak menggubris perkataan Deo, Difa bangkit dari duduknya dan berlalu pergi sebelum pergi ...
"Kak Raf, kak Andy. Difa ke kelas duluan," ucap Difa datar dan langsung pergi tanpa menoleh Deo sedikit pun.
"Yaang," panggil Deo.
__ADS_1
Difa tak menghiraukan panggilan Deo, ia malah semakin mempercepat jalannya.
"Yaang tunggu," teriak Deo dan mengejar Difa.
"Ndy yok kita ikutin mereka, gue takut nanti ada sesuatu yg terjadi sama mereka berdua," ucap Raffa.
"Yok gue juga khawatir Raf," ucap Andy juga.
Raffa dan Andy mengejar Deo..
"Yaang," panggil Deo sesekali, ia masih berusaha mengejar Difa.
Difa semakin mempercepat jalannya, sekarang mereka menjadi pusat perhatian banyak orang.
Bagaimana tidak Difa yang berlarian dengan bercucuran air mata di pipinya, dan Deo yang terus mengejar Difa sesekali memanggil nama Difa, dan tak habis di situ kedua lelaki yang notabennya adalah teman Deo ikut juga mengejar.
"Kenapa lagi ini."
"Kayaknya mereka lagi ada masalah deh."
"Kasihan Difa, kayaknya dia lagi sedih banget."
"Semoga, hubungan mereka nggak ada masalah."
"Iya, semoga aja hubungan mereka
baik - baik aja."
"Yah kok mereka berantem sih padahal gue ngeship banget sama pasangan ini."
"Iya bener banget gue juga ngeship pasangan ini nggak tau kenapa gue juga bingung kok bisa - bisanya gue bisa suka sama couple mereka, yang cewek baik cantik gitu juga yang cowoknya udah keren cakep lagi pokoknya couple mereka the best lah," ucap siswi itu yang merupakan salah satu pengagum couple Deo dan Difa.
Difa sampai di kelasnya, ia masuk dan duduk ketempat duduknya.
Deo yang sudah berada di depan kelas Difa, dan ingin masuk ke kelas tersebut namun di hentikan oleh Raffa dan Andy.
"Bro," Raffa dan Andy memegang lengan tangan Deo.
"Ada apa jangan halangin gue, gue mau bicara sama Difa," emosi Deo.
"Bro ... elo tenang dulu elo nggak boleh emosi kayak gini, elo tenangin diri elo elo tau kalau elo tetep kekeh kek gini ingin ketemu Difa di saat emosi lo membludak itu bisa berakibat fatal bro. Elo bisa aja terbawa emosi dan melampiaskannya ke Difa elo nggak mau kan nyakitin Difa ngecewain Difa," ucap Raffa tegas.
Deo terdiam."Tapi gue cuma mau jelasin sama Difa Raf," lirih Deo.
"Iya gue tau maksud elo itu baik elo mau jelasin sama Difa, tapi nggak sekarang Deo, Difa juga nggak akan dengerin elo dia udah terlanjur kecewa jadi percuma. Mending elo kasih waktu dulu buat Difa elo biarin dia untuk nenangin dirinya," ucap Raffa.
"Iya bro elo kasih waktu dulu buat Difa nenangin dirinya. Entar kalau dia udah bisa tenang elo bisa bicarain ini
baik - baik," ucap Andy juga.
"Apa gue jahat sama Difa?" tanya Deo lirih.
__ADS_1
"Elo nggak jahat elo nggak jahat bro, ini cuma lah sebatas kesalahpahaman aja," ucap Raffa.
"Tapi gue udah jahat Raf. Gue udah buat Difa kecewa," sesal Deo.
"Enggak, elo nggak jahat kita tau De. Elo itu orangnya kayak gimana elo nggak mungkin sengaja buat Difa kecewa. Pasti elo punya alasan jadi elo berhenti untuk terus - terusan nyalahin diri elo," ucap Andy.
"Elo harus semangat, elo nggak boleh lemah kayak gini elo cintakan sama Difa. kalau elo cinta elo harus buktiin sama Difa elo tunjukin keseriusan elo," ucap Raffa.
"Elo harus semangat buat pertahanin hubungan kalian ini, kalian saling cinta kalian saling sayang jangan sampai hanya sebuah kesalahpahaman hubungan kalian malah hancur," ucap Andy.
"Jangan sampai sebuah penyesalanlah yang akan datang menghampiri kalian di kemudian hari," sambung Andy.
"Abang," teriak Kevin dan menghampiri Deo.
"Kak, abang gue kenapa?" tanya Kevin khawatir kepada Raffa dan Andy.
Raffa dan Andy menceritakan masalah, yang tengah melanda hubungan Deo dan Difa.
Kevin mengangguk paham."Bang, abang ke kelas ya bentar lagi bel masuk entar abang telat lho," ucap Kevin hati - hati.
"Tapi difa Vin," lirih Deo.
"Abang tenang aja, abang nggak usah pikirin masalah itu. Nanti kita bantu abang untuk nyelesain masalah ini ya kan kak?" tanya Kevin kepada Raffa dan Andy.
"Iya bro elo tenang aja kita bertiga bakal bantuin elo kok," ucap Andy.
"Iya bro sekarang kita ke kelas, nanti urusan ini kita bicarain lagi pas waktu jam istirahat," ucap Raffa dan di angguki oleh Deo.
"Vin kita duluan ya ke kelas," ucap Raffa dan Andy.
"Iya kak," sahut Kevin.
"Vin, abang ke kelas duluan," ucap Deo sudah cukup tenang.
"Iya Bang," sahut Kevin.
Setelah kepergian Deo, Raffa dan Andy Kevin pergi ke kelas Difa ia menemui Difa.
"Dif," panggil kevin.
Difa mendongakkan kepalanya.
"Ada apa?" tanya Difa.
"Maaf sebelumnya kalau misal gue udah ikut campur sama urusan kalian, tapi gue cuma mau bilang kalau elo itu udah salah paham sama abang gue," ucap Kevin pada Difa.
Difa tak bergeming ia hanya mendengar
baik - baik ucapan Kevin, dan mencoba mencerna ucapan Kevin.
"Gue pergi," pamit kevin dan pergi.
__ADS_1