
Di gudang tua diberhentikannya motornya.
'Bang,' panggilnya ketika ia memasuki gudang tua itu.
'Kemana dia?' gumamnya.
Matanya tak berhenti meniti satu persatu sudut ruangan.
'Kemana dia, arghh...' ucapnya mengacak-acak rambutnya frustasi.
Diambilnya Hp dari kantung celananya.
"Halo bang elo ada di mana?" tanyanya to the point.
"Bukan urusan elo," jawab orang di seberang telepon sana.
"Bang gue ada di base camp kalian," ucap Kevin.
"Gue nggak lagi ada di sana, ngapain elo ke sana. Buruan balik sana," perintah Alex.
"Nggak gue nggak akan balik, sebelum gue ketemu lo bang," keukeuh Kevin.
"Buang-buang waktu gue aja, gue banyak kerjaan," ucap Alex dan ingin mematikan sambungan telepon.
Belum sempat ia mematikan sambungannya, Kevin kembali bicara.
"Tapi bang ini beneran serius, ada yang mau gue omongin ke elo dan ini PENTING," ucap Kevin serius dan menekan kata-kata akhir yang diucapnya.
"Mau bahas pembunuh itu lagi, elo mau bilang ke gue untuk berhenti ngusik kehidupan pembunuh itu? iya?" ketus Alex.
__ADS_1
Belum sempat Kevin menjawab, Alex kembali berucap...
"Gue nggak bakal berhenti untuk ngusik kehidupan pembunuh itu sampai pembunuh itu habis tewas digenggaman tangan gue sendiri."
"Bang gue ngomong baik-baik ya sama elo, kenapa elo makin lama makin ngegas jawabnya," kini Kevin bicara ketus.
"Mau elo apa?" kini Alex tak menanggapi Kevin, ia malah balik bertanya.
"Gue mau bicara sama lo dan ini penting," ulang Kevin.
"Gue tunggu elo di Cafe biasa," ucap Alex lalu memutuskan sambungan telepon.
Kevin yang mengerti maksud Alex Cafe biasa, langsung bergegas ke tempat yang Alex tadi maksud.
Setelah kurang lebih 30 menitan perjalanan, kini Kevin telah sampai ke tempat tujuannya.
Itu dia orangnya, batinnya ketika melihat seseorang laki-laki yang tengah duduk disalah satu bangku di sebelah pojok.
"Bang," sapanya dan langsung duduk.
Alex hanya menatap wajahnya sekilas, lalu kembali melanjutkan aktivitasnya kembali yaitu memainkan ponselnya.
"Bang," panggilnya sekali lagi.
Hemm, hanya deheman dari Alex.
"Bang," panggilnya lagi dan lagi-lagi hanya deheman yang keluar dari mulut Alex.
"Bang ALEX," kini Kevin meninggikan suaranya.
__ADS_1
Spontan orang-orang yang berada di Cafe itu menatapnya, tatapan bingung dari orang-orang terhadapnya.
"Aneh," terdengar cibiran salah satu pengunjung Cafe yang sedang duduk tidak jauh dari meja mereka.
"Elo itu malu-maluin gue banget sih," kesal Alex.
"Sorry bang, elo sih dari tadi dipanggil kagak nyaut-nyaut malah hem-hem, elo kira Nissa Sabyan."
"Nggak lucu," ketus Alex.
"Dihh, siapa juga yang ngelawak," ucap Kevin tak kalah ketus dari Alex.
"Mau ngomong apa lo?" tanya Alex.
"Abang kan yang nyulik Difa?" ucap Kevin langsung.
"Bukan gue," jawab Alex santai.
"Jangan bohong bang, kalau bukan abang siapa lagi," ucap Kevin.
"Ya mana gue tau," jawab Alex cuek.
"Bang, gue minta elo sekarang lepasin Difa, kasian bang dia nggak bersalah, dia nggak tau apa-apa," mohon Kevin.
"Udah gue bilang gue nggak tau Difa di mana," lagi-lagi Alex berbohong.
"Bang nggak usah pura-pura deh, gue tau elo kan yang nyulik Difa," ucap Kevin.
"Nah elo udah tau kan, Difa gue yang nyulik. Jadi stop deh nanya terus-terusan sama gue."
__ADS_1