
Melangkah bersama seorang sahabat adalah sebuah hal yang mampu mengukir raut wajah ini menjadi tersenyum bahagia.
Gea langsung mematikan layar hpnya.
"Gua pikir lu udah mati tau ngga!"
Celetuh Gea sambari menatap serius Aldo. Tawa Aldo langsung menciut seketika. Menatap gadis yang sudah ada kehidupannya sejak dia berumur 10 tahun.
"Gua punya sahabat jahat bangett"
"Orang baik gini di bilang jahat.. Lu tau satu kelas tanya sama gua kenapa lu ngga masuk dan gua ngga tau apa alasan lu ngga masuk kelas sebelum Pak Saripan ngasih tau! "
Gea mengomel terhadap Aldo karena kesal. Gea meniup poninya untuk menguapkan kekesalannya terhadap Aldo.
"Maafkan gua sahabat.. "
"Lu tau gimana rasanya jadi gua? Gua kayak ngga ada harga dirinya sahabatan sama lu.. Masa iya gua ngga tau lu kemana"
Aldo tersenyum gemas melihat tingkah Gea yang terus terusan mengomel kepadanya. Sudah watak Gea seperti ini jadi Aldo hanya menyikapinya dengan senyuman.
"Nih, susu cokelat dan roti cokelat khusus buat sahabat gua yang paling cantik"
Aldo mengeluarkan Susu kotak rasa cokelat dan roti cokelat dari tangannya yang dia sembunyikan di belakang tubuhnya.
"Ngga usah nyuap gua! Gua mampu beli susu cokelat dan roti cokelat sendiri"
"Ngga ada yang mau nyuap lu, ini udah jam berapa? "
"Sok sokan bilang ngga ada yang mau nyuap, tapi lu bawain ginian supaya lu bisa berharap kalo gua ngga marah lagikan sama lu? "
"Dimakan dulu tuan puteri baru lanjutin marah - marahnya"
Aldo menancapkan sedotan ke susu kotak dan membukakan bungkus roti cokelat untuk Gea. Benar saja perkiraan Aldo, Gea langsung menyeruput susu kotak itu dengan cepat.
"Kalo ginikan enak"
Ujar Aldo. Aldo mengacak - acak rambut Gea karena merasa gemas sekali. Gea memasukkan hpnya ke laci mejanya secara peelahan - lahan.
"Siniin tangan kanan lu"
Kata Gea sembari memakan roti cokelat yang di berikan Aldo.
"Buat apa? "
"Udah siniin aja"
Aldo yang mau aja di suruh langsung meletakkan tangan kanannya di hadapan Gea. Gea memang memiliki akal yang cerdik. Tanpa pikir lama Gea mencubit tangan kanan Aldo sebanyak tiga kali.
"Mau aja gua bodohin, hahahaaa"
Gea tertawa bahagia karena sudah menjahili sahabatnya itu. Sedangkan Aldo yang hakikatnya seorang atelit hanya menggelengkan kepalanya sambil mengelus - elus bekas cubitan Gea yang cukup sakit.
"Yang sabar aja yaa lu jadi tangan gua"
__ADS_1
Decak Aldo sendiri. Gea yang masih tertawa itu merasa puas melihat Aldo menggerutu seperti ini.
"Awas ya lu kalo ngga menang, gua pecat jadi sahabat"
"Jangan meragukan kemampuan gua! "
"Sombong banget lu, pokoknya kalo lu menang lu harus traktir gua makan ice cream!"
"Kalo cuman ice cream lu bisa beli sendiri"
Beberapa siswa yang berasal dari kantin sudah kembali masuk ke dalam kelas artinya sebentar lagi jam istirahat sudah habis.
"Aishhh... Ternyata ngga mau ikut ke kantin karena mau ketemu sama Aldo"
Ejek Lila yang sudah kembali ke kelas. Lilah melihat kedekatan antara Gea dan Aldo seperti halnya sepasang kekasih yang sedang kasmaran.
"Iri bilang bos! "
Sahut Aldo kepada Lila. Lila langsung duduk di samping Gea untuk ikut mengobrol meskipun kadang Lila suka beda frekuensi dengan Aldo dan juga Gea.
"Hah.. Siapa yang iri? "
Tanya Lila sedikit telmi. Gea mengerutkan keningnya dan Aldo menatap Lila dengan aneh.
"Ge lu tau ngga, kenapa temen lu yang satu ini aneh? "
"Kenapa? "
"Kebanyakan makan nasi pecel! "
"Awas lu! "
Teriak Lila meskipun Aldo sudah tidak menampakkan dirinya di dalam kelas. Gea tertawa mendengarkan ucapan Aldo.
"Percuma lu teriak Aldo juga ngga bakal denger"
"Gea gua ngga ngerti kenapa lu pungut Aldo jadi sahabat lu sih"
"Siapapun orang yang selalu ada buat gua, suka ngehibur gua, selalu menjadi alasan kenapa gua bisa hidup adalah dia yang gua panggil sahabat"
"Artinya semua orang yang bisa membuat lu ternyum juga termasuk sahabat lu? "
"No! Tidak semuanya.. Untuk menjadi seorang sahabat seseorang perlu melakukan banyak hal, tidak semua orang yang mampu membuat gua tersenyum gua anggap sebagai sahabat, sekarang mungkin lu bersama orang yang menurut lu itu nyaman buat lu tapi lu ngga pernah tau bagaimana keadaan lima tahun ke depan apakah dia tetap membuat lu nyaman atau dia lebih banyak membuat lu menangis.. Tolak ukur seorang sahabat sebenarnya ngga bia di cari dari aspek manapun meskipun dia selalu membuat kita tersenyum"
Lila terpelongo karena terpukau mendegarkan penjelasan Gea yang sudah seperti orang - orang dewasa.
"Ngga salah gua pilih lu jadi sahabat gua"
Kata Lila sembari tepuk tangan.
---0---
Waktu pulang sekolah tiba, seperti biasanya jikalau salah satu dari Gea dan Aldo ada yang tidak mengakuti pelajaran maka salah satu dari mereka juga harus memberikan buku catatannya untuk di pinjamkan.
__ADS_1
Gea menunggu Aldo di depan tempat Aldo berlatih renang. Gea duduk sembari memainkan ponselnya untuk mencari tahu kembali tentang Gia.
"Udah lama?"
Tanya Aldo yang tiba - tiba muncul. Aldo hanya memakai kaos jaket dan celana olahraga berbeda dengan Gea yang mengenakan seragam sekolah.
"Kira - kira sepuluh menitan"
Gea melihat jarum jam tangan yang di pakainya. Aldo langsung duduk di sebelah Gea dan membenarkan posisi jaketnya.
"Nih"
Gea menyodorkan beberapa buku catatannya kepada Aldo.
"Mantapss.."
Aldo mencabut buku Gea dan memasukkannya ke dalam tasnya.
"Yuk pulang"
Gea beranjak dari tempat duduknya.
"Tapi gua lagi ngga bawa montor, naik bis ngga papakan? "
"Ahh lu mah.. Mau naik bis mau naik montor yang penting sampai rumah"
Gea menarik tangan Aldo yang masih duduk terdiam. Gea tersenyum karena merasa tubuhnya terlalu lemah untuk menarik tubuh Aldo yang lebih kuat darinya bahkan saat ini Aldo sedang menjahili Gea untuk tetap bertahan duduk.
"Sok - sokan narik, mana kuat lu narik gua"
"Aldoo.. Ayoo cepet berdiri ngga!"
Ketus Gea kesal. Aldo langsung beranjak berdiri karena sudah puas mengerjani Gea lagi. Aldo berjalan sejajar dengan Gea meskipun langkah Gea terlalu pendek bagi Aldo.
"Kalo jalan tuh langkahnya harus panjang kayak gini"
Aldo memperagakan cara dia melangkah dengan langkahan yang panjang berbeda dengan Gea.
"Ooo... Kayak gini ya? "
Gea langsung ikut memperagakan apa yang diajarkan oleh Aldo. Gea melangkah dengan langkahan kaki yang cukup panjang bagi dirinya tapi tetap saja itu masih pendek bagi Aldo. Tapi Gea masih saja melangkah bahkan Gea tidak lagi sedang berjalan tapi sedang melompat agar kakinya sampai di garis yang sejajar dengan kaki Aldo.
"Lu mau jalan atau mau loncat - loncat? "
"Gua sedang berusaha menirukan langkah kaki Lu! "
Aldo terdiam melihat Gea yang terus terusan melompat. Gea berada di depan Aldo karena Aldo membiarkan Gea untuk tetap melompat sedangkan dirinya hanya terdiam di tempat.
Karena Aldo rasa jarak antara dirinya dan Gea sudah cukup jauh maka Aldo memutuskan untuk lari mengejar Gea. Gea terdiam terlihat kelelahan sehabis loncat - loncat.
"Masih kurang itu"
Tanya Aldo tertawa bahagia melihat penderitaan sahabatnya.
__ADS_1
"Bodoamat!"
Gea langsung melanjutkan langkahnya yang pendek. Gea berjalan menaiki trotoar dengan kedua tangan yang di rentangkan untuk menyeimbangkan tubuhnya. Aldo yang melihat tingakah Gea selayaknya anak kecil hanya bisa tersenyum heran. Aldo memilih untuk masih tetap berjalan di bawah namun masih sejajar dengan Gea.