
Karena kemaren aku ultah yg ke-17, jadi insyaallah special aku bakal crazy up.. pantengin terus ya😊
Lanjut..
"Dan Ranti tak sempat dilarikan ke rumah sakit, ia meninggal ditempat kecelakaan itu terjadi, dan semenjak kejadian itu. Bang Alex yang semula memang lagi nggak baikan sama Bang Deo, malah tambah marah dan ya gini deh, seperti yang kita ketahui marahnya Bang Alex ke Bang Deo sampai sekarang," akhir cerita Kevin.
'Ternyata dibalik kehidupannya, begitu banyak cerita pahitnya yang tak dapat terduga," Difa membatin.
"Dif?" Kevin membuyarkan lamunannya, dan berhasil menyadarkannya.
"Eh, iya?" gelagapnya.
"Jadi gitu ceritanya," ulang Kevin.
Hening tidak ada obrolan di antara mereka.
"Maaf, apa pada saat itu Kak Deo merasa kehilangan. Disaat cewek itu meninggal?" akhirnya Difa bersuara, walau dapat ditangkap jelas kegugupan disetiap kata yang keluar dari mulutnya itu.
Kevin yang dapat menangkap jelas kegugupan Difa, tersenyum tipis."Just ordinary, no need to be nervous like that I won't eat you."
"Hehe, iya," ucap Difa dengan senyum kikuknya, Kevin menggeleng-geleng kecil.
"Abang merasa kehilangan banget, jangan ditanya kenapa. Kita sendiri juga tau lah yang pertama ya karena Ranti adalah sahabat Abang, yang kedua juga karena penyebab atas kematian Ranti juga ada sangkut paut juga sama Abang."
Difa mendengar penjelasan Kevin dengan seksama mencoba mencerna disetiap perkataan demi perkataan yang dijelaskan oleh Kevin.
Tidak ada respond dari Difa."Mau tanya lagi? silakan gue bakal jawab," tawarnya.
Masih tak ada respond."Semampu gue," tambahnya, dan berhasil membuat Difa menatapnya."Kenapa? masih ragu." Difa menggeleng."Yaudah tanya aja nggak usah ragu." Difa mengangguk kecil.
"Sepertinya, kamu tau banyak hal ya tentang kehidupan Kak Deo."
__ADS_1
"Ya, gitu. Di keluarga kita, Abang bisa dibilang paling deket sama gue. Dari kecil kita memang selalu akur dibanding dengan saudara yang lain, Abang selalu cerita sama gue, sering curhat, saling tukar cerita, gitu lah."
"Berarti kamu tau banyak hal tentang Kak Deo?"
"Hm, bisa dibilang," Kevin membenarkan ucapan Difa.
"Apa kamu tau alasan Kak Deo putusin aku?" pertanyaannya berhasil membuat Kevin mengendarkan pandangannya darinya.
"Gue cukup tau banyak hal tentang kehidupan Abang, tapi nggak untuk masalah privatnya. Gue cukup ngerti privasi yang mungkin gue sendiri nggak perlu tau itu, sorry, gue duluan," ucapnya dan pergi.
"Emh, maaf aku lancang," ucap Difa setengah teriak.
Kevin menoleh dan balas menjawab."Santai aja Dif," mengacungkan jempolnya, dan pergi.
'Apa aku lancang ya, nanya kayak gitu,' pikirnya yang terus kepikiran Kevin, ia merasa tidak enak dengan Kevin.
'Auh ah, Kak Kevin juga bilang nggak pa'pa kok,' tak mau ambil pusing Difa berlalu pergi.
***
Tes.. Air mata jatuh dari pipi chubbynya.
'Kamu sekarang lagi apa, aku kangen kamu Kak.' lirihnya.
'Bodoh, bodoh, bodoh...' dia merutuki dirinya sendiri.
'Bodoh kah aku Tuhan, aku merindukannya. Seseorang yang jelas-jelas telah melukai perasaanku sendiri, tak bisa kupungkiri aku sangat merindukannya Tuhan hikss..'
'Aku rindu kamu, hiks.. hiks..'
'Aku, selalu merindukkannya disetiap malamku.
__ADS_1
Aku, merindukannya.. Tuhan.'
***
Di sekolah, di kelas.
"Dif, hari ini jadi kan kerja kelompoknya?"
"Emh, iya Val jadi kok."
"Val, lo satu kelompok sama Difa?" tiba-tiba Sarah datang.
"Iya, Sar," jawab Noval yang merupakan teman sekelasnya Difa.
"Emh gitu ya, Dif?"
"Iya?"
"Gue, gue bo-leh nggak ikut kelompok kalian, kelompok yang lain udah pada penuh soalnya."
"Emh.. gimana ya,"
"Val, gimana?"
"Terserah lo aja Dif,"
"Emh, iya Sar.. boleh kok."
"Hah.. seriusan?"
"Iya."
__ADS_1
"Yeay makasih ya, Dif, Val, akhirnya gue punya kelompok juga." senangnya.
"Iya sama-sama," jawab keduanya.