
Mereka mencari Difa tapi tak ditemukannya, sampai keluar rumah.
***
Di depan gerbang rumah mewah terlihat gadis cantik yang sedang berdiri di sana, tas kecil di bahu nya dan kertas di tangan nya yang sesekali di kipas-kipas kan di wajah nya, di sisi lain ada orang yang tersenyum lega melihatnya.
Kedua orang yang tadi memperhatikannya, perlahan berjalan mendekat ke arahnya, kemunculan mereka yang secara tiba-tiba berhasil membuatnya kaget.
"Ternyata lo di sini," ucap kedua orang yang baru datang tadi.
"Mau ke mana, Dif?" tanya salah satu orang yang datang.
"Beli bahan," jawab Difa singkat.
Keduanya yang mengerti maksud beli bahan dari yang dikatakan Difa, langsung bicara.
"Gue temenin, Dif?" tawar Noval.
"Nggak usah, Val nggak papa aku bisa sendiri kok," tolaknya halus.
"Dif, nggak boleh nolak harus mau!" ucap Sarah dengan nada bicara sedikit tegas, seperti memerintah.
"Huuh iya deh," pasrahnya.
***
"Cari apa, Dif?" tanya Noval, berdiri di belakang Difa.
Terdapat rak-rak tinggi di sekelilingan mereka, yang mana disetiap rak-rak sudah ada perlengkapan sekolah yang tersusun rapi di sana sesuai dengan masing-masing tempatnya.
"Asturo warna," jawab Difa, mata nya mencari-cari.
"Cari di sana," tunjuk Difa, ke rak paling pojok.
Noval mengekorinya saja, jujur Noval nggak ngerti asturo yang dimaksud Difa. Asturo nama orang kah? tapi kenapa berwarna, orang berwarna kah, pikirnya memikirkannya.
"Nah dapat," ucap Difa sedikit teriak.
Teriakan kecil Difa berhasil menyadarkannya dari pikiran ter-nggak jelasnya itu.
"Dah dapat orangnya?" ucapnya ngawur.
"Orang?" Difa mengerutkan keningnya.
"Asturo warna maksudnya, dah dapat?" ucap Noval.
"Oh asturo nya, iya udah dapat nih," mengangkat beberapa asturo warna, menunjukan kepada Noval.
"Ini asturo nya?" ucapnya sambil mengambilnya dari tangan Difa.
"Iya," angguk Difa apa adanya.
"Memang kenapa?" tanya Difa yang melihat Noval yang memperhatikan kertasnya dari tadi.
Noval mendongak."Gue kira asturo nama orang Dif," ucapnya apa adanya.
"Haha ada-ada aja kamu orang kertas kok, dikira manusia apa," ucap Difa dengan kekehan kecilnya.
Noval menggaruk kepala nya yang tidak gatal.
__ADS_1
"Dif lucu ya," ucap Noval.
Difa menoleh."Liat," Noval mengangkat satu buku mewarnai di tangan nya.
Difa terkekeh,"Kayak cewek aja kamu."
Setelah semua bahan yang mereka cari sudah terkumpul, mereka langsung menuju kasir.
Semua barang dimasukkan satu per-satu ke kantung plastik oleh kasir, ketika barang terakhir kasir tersebut mengernyitkan keningnya."Ini juga?" ucap kasir itu singkat.
Difa yang sedang memainkan hp nya, mendongak. Difa mengerutkan keningnya melihat barang yang ditunjukan kasir, mata nya langsung beralih ke Noval.
"Lucu, Dif," ucap Noval dengan muka tanpa dosa, Difa hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Iya kak, itu juga," jawab Difa ramah kepada kasir.
Setelah selesai membayar mereka keluar menuju parkiran.
Di parkiran.
"Itu kak Deo, Dif," ucap Noval menunjuk ke arah orang yang berjalan menuju mereka.
"Kak Deo, mana Val?" ucap Difa antusias, akhirnya bisa liat kak Deo juga batin Difa senang.
"Itu," tunjuk Noval, Difa melihat ke arah yang ditunjuk Noval, senyum di bibir nya seketika menghilang setelah melihat orang di depannya itu. Why? bukan kah ia sangat senang jika bisa bertemu kembali dengan orang itu, bukan kah itu adalah harapannya untuk bisa bertemu kembali.
Rindu? bukannya ia rindu dengan sosok itu, mengapa ia seperti itu bukan kah ini adalah hal bagus untuknya bisa kembali melihat sosok itu yang sudah beberapa bulan ini tak dilihat sosoknya.
'Apa ini?' batinnya.
"Kak," sapa Noval disaat Deo telah dekat dengan mereka.
Deo sudah sadar kalau di sana ada Noval dan Difa, sejak ia keluar dari mobilnya di parkiran ia sudah tau atas keberadaan mereka, tapi ia pura-pura saja tak tau dengan gaya cool nya ia terus berjalan.
"Apa kabar kak," ucap Noval.
"Haha baik Val, elu gimana di sekolah masih sering dipanggil guru BK," canda Deo.
Noval dan Deo sudah saling mengenal, di sekolah pun mereka juga akrab. Pasalnya Noval yang sering buat ulah di sekolah yang mengharuskannya sering masuk ke BK, dan sebelum ke BK biasanya dia hadapkan dulu ke ketua osis untuk diberi hukuman jera yang mana ketos nya adalah Deo.
Bukannya dendam atau benci ke Deo, karena sering menghukumnya Noval malah jadi akrab dengan Deo.
"Haha dah tobat kak, ngeri gue buat ulah lagi.. sekarang ketos barunya sadis, senggol dikit bacok wkwk."
"Deo ayo ish.." ucap perempuan di sampingnya, sambil memeluk erat tangan kirinya.
Semua mata tertuju kepada perempuan itu, tak terkecuali Difa.
"Bentar ya," ucap Deo, mengelus rambut perempuan itu.
Sengaja atau tidak Deo menatap Difa, Difa yang memang saat itu sedang menatap Deo membuat mata mereka bertemu dan saling tatap cukup lama mereka bertatapan, hingga Difa tersadar dan segera mengalihkan pandangannya.
Lain hal dengan Deo, ia masih setia dengan tatapannya, menatap lekat mata Difa.
"Deo?" suara perempuan itu.
"Iya sebentar, Val gue duluan ya," ucapnya sebelum pergi.
***
__ADS_1
"Dapat semua?" tanya Sarah, melihat Difa dan Noval muncul dari balik pintu.
"Iya, Sar lengkap semua," Difa duduk di sofa disusul dengan Noval yang ikut juga duduk di sampingnya.
"Capek banget keliatannya," ucap Sarah melihat Difa.
Difa memejamkan mata nya dengan menyenderkan kepala nya ke sandaran kursi.
'Dia udah punya cewek lain ternyata,' batinnya, mata nya masih setia terpejam.
"Ini apa?" seketika mata nya terbuka, mendengar suara Sarah.
"Ini punya siapa? kasirnya pasti salah masuk barang nih," ucap Sarah melihat buku yang tak terlalu tebal di tangannya.
Difa buka suara."Nggak salah masuk kasirnya Sar."
Sarah mengernyitkan keningnya, meminta penjelasan.
"Noval yang mau," jelas Difa.
Mata Sarah membulat sempurna."Noval? nggak salah gue hahaha," tawanya pecah.
Difa menggeleng yang membuat Sarah tambah ngakak dibuatnya.
"Hahaha setres lu Val, buat apa lu beli buku mewarnai kek gini mana gambarnya barbie lagi wkwk, inget umur Val haah inget umur elu kan cowok ya, haha inget diri Val inget diri hahaha."
"Udah berisik lu, suka-suka gue dong," sewot Noval.
Haha Sarah masih ngakak dibuatnya.
3 jam kemudian..
Di depan gerbang rumah Difa.
"Dif, gue pamit pulang ya," ucap Noval sebelum melajukan motornya.
"Iya, Val hati-hati," angguk Difa.
"Sar gue duluan," ucapnya juga pada Sarah.
"Yoi," ucap Sarah sambil mengacungkan jempolnya.
Ngeeeng.. motornya melaju.
"Kamu tunggu taksi?" tanya Difa pada Sarah.
"Iya Dif," angguk Sarah.
"Aku temenin ya," ucap Difa.
"Eh nggak usah Dif, entar lama lho lo masuk aja nggak papa gue sendiri yang nunggu," tolak Sarah tak enak.
"Tapi.." belum selesai Difa bicara.
Ngeeeng suara motor datang.
"Lho kok balik lagi kenapa Val?" tanya Difa.
"Hehehe kayaknya buku mewarnai gue tinggal di dalem deh Dif, ambilin dong," ucap Noval.
__ADS_1
Sarah dan Difa melongok mendengarnya.
"Bener-bener setres lo Val," ucap Sarah menoyor kepala Noval.