CUPU

CUPU
NGGAK MAU


__ADS_3

"Val, beli bahan gih!" perintah Sarah.


Noval yang sedang tiduran di sofa, seketika reflek membuka matanya."Gue kagak ngerti yang begituan Sarahh.. lu aja sana yang beli, gue capek, ngantuk juga," ingin memejamkan matanya kembali.


"Dih, capek? nggak salah denger gue, lu bantuin kita aja enggak, capek apaan lu," judes Sarah.


"Sana-sana beli cepet!" memukul-mukul Noval dengan bantal-bantal kecil.


"Ih.. apaan sih lu, gue capek Sarah," bangun duduk.


Sarah memutar bola matanya malas."Manja banget sih lu jadi cowok, tinggal beli aja, apa susahnya sih."


"Lu mah enak bilangnya, mudah, apa susahnya(menirukan gaya bicara Sarah) gue yang pusing nyarinya."


"Ya, lu juga.. enak-enakan tidur, gue sama Difa yang ngerjain semuanya."


"Lah salah siapa, kan lu juga yang nyuruh gue nggak boleh pegang apa-apa, entar rusak lah, entar berantakan, jauh-jauh sana kata lu. Lu sendiri kan yang nyuruh gue jadi... Gue nggak salah.. OKE." ingin merebahkan tubuhnya kembali.


Difa hanya geleng-geleng kepala doang.


"Ya iya sih, gue yang nyuruh.. Tapi tetep salah lo lah. Siapa suruh juga.. ngerjainnya berantakan kayak gitu," tak mau kalah.


"Ya, gue kan cowok.. ya wajar lah, kalau misalkan masih suka berantakan. Ini juga tugas cewek, jadi per-per aja dong."


"Udah-udah kok jadi ribut gini sih, nggak kelar nih tugas.. baru tau rasa," Difa angkat bicara.

__ADS_1


"Iya Dif, maaf," ucap keduanya kompak.


**


"Yaudah gini aja, Noval beli..." terpotong oleh Noval.


"Tapi Dif.." belum selesai bicara..


"Kebiasaan potong-potong orang lagi ngomong, dengerin dulu," tegur Difa.


"Hm iya maaf."


"Huuu.. lu sih kebiasaan tuh, suka potong orang lagi ngomong," ejek Sarah kepada Noval.


"Maaf Dif," ucap Sarah pelan.


"Oke lanjut.. jadi kayak yang tadi Sarah bilang, Noval yang beli bahannya. 'Hupph(Noval pasrah)' Tapi.. Noval nya nggak sendirian, ada yang bantuin gitu?" semua menatap Difa. "Sarah!" ucap Difa.


Sarah membulatkan matanya sempurna."Gue?" menunjuk dirinya.


Difa hanya mengangguk."OH, no... no... no.. gue nggak mau oke, ngeliat muka dia aja gue udah emosi terus bawaannya, apa lagi gue harus pergi bareng sama dia, berdua lagi," cerocos Sarah panjang kali lebar.


"Dih, lu punya dendam apa sih.. sama gue, perasaan gue tuh salah mulu dimata lu, nggak ada yang bener dah."


"Ya, lu sih nyebelin."

__ADS_1


"Dih, nggak nyadar dia.. ngatain orang nyebelin padahal dia sendiri yang nyebelin, dasar cewek."


"Apa lu bilang hah.."


"Lu nyebelin, dasar cewek," ulang Noval, dengan menekan setiap katanya.


"Ih.. lu," belum selesai.


"Udah-udah nggak usah ribut, kalau Sarah nya nggak mau udah, Noval juga.. kalau capek/ngantuk udah tidur lagi aja. Nggak papa biar semuanya aku yang urus, aku yang beli," ucap Difa.


"Lho, kok jadi Difa yang belinya.. nggak usah Dif nggak usah, biar Noval aja ya.. yang belinya," ucap Sarah yang seperti tak setuju dengan usul Difa.


"Lah.. lah sekate-kate lu, Sar. Malah nyuruh gue lagi lu," protes Noval.


"Lah.. terus mau gimana lu, mau Difa yang beli? lu nggak sadar, ini rumah siapa? dan lu juga nggak sadar, siapa yang udah siapin ini semua, untung-untung lu cuma disuruh beli bahan yang kurang doang, liat tuh semuanya.. barang sebanyak ini, Difa sendiri tau yang nyiapin," cerocos Sarah.


"Lu nyalahin gue, oke.. sekarang gue tanya ke elo.. elo siapin apaan kalau kata lo, Difa yang urus semuanya sendiri? udah tau Difa sendiri yang nyiapin barangnya, kenapa lu nggak coba bantu," jlebb Sarah terdiam seribu bahasa, Noval tersenyum jail(kena kan lu wkwk).


**


"Yaa.. yaa.. gu-e, gue.. ya Difa nggak bilang gitu, kalau dia minta bantu nyari? gue nggak tau-lah," jawab Sarah.


"Ngeles aja lu," dalam hatinya, Noval tertawa puas(puas banget gue liat lu gitu, wkwk dasar cewek.. Noval dilawan)puasnya.


"Lho-lho Difa kemana?" ucap Sarah, ketika menyadari bahwa Difa sudah tak ada lagi di sampingnya.

__ADS_1


__ADS_2