CUPU

CUPU
DEO DIFA


__ADS_3

Tok.. Tok..


"Iya siapa, sebentar?" teriak Kevin dari dalam rumah.


Berjalan dengan sesekali berlari kecil, ia mendekat ke arah pintu dan membuka pintu."Abang?"


Tos tangan ala laki-laki


"Haha, apa kabar adek gue?" goda Deo.


"Sekarang ya baik entahlah besok," berjalan masuk ke dalam rumah."Masuk.. Bang."


Ruang tamu


"Bang, elu nggak bilang mau ke sini? Mama Papa juga.. Nggak ada yang bilang," ucap Kevin.


"Gue bilang ke elu juga percuma.. Apa kalau gue bilang, elu bakal bikin persiapan gitu, atas kedatangan gue.. Kagak kan?" ucap Deo.


"Ya iya sih, ngomong-ngomong nih ya.. Tumben-tumbenan lu Bang, nyamperin gue, udah setahun gue di bandung nggak ada lu ke sini tuh, baru kali ini lu.. Ada apa?"


"Gue ngurus kantor Papa yang ada di sini," ucap Deo.


"Kantor? Elu nggak kuliah, kuliah lu belum selesai kan Bang, gimana cerita?"


"Masalah kuliah Papa yang ngurus, palingan gue masuknya satu bulan, satu bulan," ucap Deo.


***


Aduh..


"Eh sorry-sorry, gue.." ucap Deo terhenti.


"Difa/Kak Deo?" ucap keduanya barengan.


Difa memutar badannya, ingin pergi.. Namun terhenti karena Deo menahannya.


"Tunggu," ucap Deo, tangannya menahan tangan Difa.


Difa melihat tangannya, yang dipegang Deo. Deo yang tersadar langsung melepaskan pegangan tangannya dari tangan Difa."Eh.. Sorry," maaf Deo.


Difa hanya diam.


"Kamu ngampus di sini?" ucap Deo kikuk.


"Iya," jawab Difa singkat.


5 detik, 15 detik, 30 detik..


"Kakak ngapain di sini?"


Deo kaget tak percaya.'Setelah sekian lama.. Gue bisa denger kata itu lagi,' batinnya senang.


"I-ini buku Kevin, ketinggalan di mobil.. Kakak mau nganter ke Kevin," ucap Deo berusaha tenang, jantungnya? Jantungnya sedang berpesta di dalam sana.

__ADS_1


Difa hanya mengangguk kecil."Bisa bantu Kakak buat nyari Kevin?" minta Deo.


Ragu untuk mengiyakan permintaan Deo, namun.. Difa tetaplah Difa, si gadis baik hati.. Ia mengiyakan permintaan Deo.


***


Mereka berdua mencari keberadaan Kevin, selama berjalan Deo sesekali mengajak Difa mengobrol. Walau jawaban/respond Difa singkat namun itu tak membuat Deo geram ataupun marah, ia cukup mengerti dengan perasaan Difa sekarang.


Hampir dua jam mereka berkeliling kampus, untuk mencari Kevin namun yang dicari tak juga ada.


"Capek? Mau ke kantin," ucap Deo.


Difa mengangguk, sungguh dia memang-memang sedang capek, rasa hausnya, rasa laparnya semua menjadi satu.


Di kantin kampus.


Mereka sedang menyantap makanan/minuman yang mereka pesan.


Selesai makan, masih di kantin."Nggak aktif," ucap Deo yang sedang berusaha untuk menghubungi Kevin.


"Masih belum bisa dihubungi?" tanya Difa.


"Belum," geleng Deo.


Drrrtt.. Drrttt.. "Iya halo Sis, ada apa?"


"O-oh iya-iya Sis, thanks ya."


Selesai telpon."Kak, aku duluan.. Kelas bentar lagi mulai, maaf nggak bisa bantu nyari Kak Kevin."


"Iya nggak papa, thanks udah nemenin tadi," terima kasih Deo.


"Iya," jawab Difa dan berlalu pergi.


***


Masih di kantin..


'Kemana tuh anak dicari nggak ada, di telpon nggak nyambung. Udahlah pulang aja gue,' ucap Deo sendiri.


Di rumah Kevin..


Membuka Pintu dari luar."Lah, elu ada di rumah?" ucap Deo ketika melihat Kevin sedang tiduran di sofa ruang tamu.


Kevin yang mendengar ada suara berisik, terbangun dari tidurnya.


"Abang?" ucapnya dan merubah posisi tidurannya menjadi duduk.


Deo memandangi wajah Adik sepupunya itu, tangannya sudah menempel di kening Kevin."Lu sakit?" tanyanya.


"Cuma pusing Bang," jawab Kevin lemas.


"Elu pulang, emang nggak dimarahin dosen lu?"

__ADS_1


"Dosen di kelas gue hari ini nggak ada yang dateng, Bang."


"Hm syukurlah, Abang ke kamar dulu," ucap Deo lalu beranjak pergi.


"Minum obat!" ucap Deo.


Di kamar Deo.


'Cantik,' ia menyunggingkan senyumnya.


Momen di saat tadi ia bertemu dengan Difa dari mengobrol, makan, semua kembali menguasai pikirannya.. Sambil terus tersenyum ia membayangkannya.


Ia tak tersadar bahwa sejak tadi ponselnya berbunyi, hingga suara geduran pintu terdengar dari luar kamarnya.


"Bang? Elu tidur, ponsel lu bunyi tuh dari tadi," teriak Kevin dari luar kamar.


Parah sebegitunya ia terhanyut ke dalam pikirannya itu, telpon di sampingnya berbunyi pun tak didengarnya bahkan Kevin dari luar saja mendengar kalau ponselnya berbunyi.


Deo yang tersadar."Iya Vin, Abang nggak tidur," sahutnya.


Ia mengambil ponselnya yang sedari tadi berbunyi.'Dira?'


"Hallo?" sahutnya.


"Sayang? Kamu ke mana kok nggak diangkat-angkat telponnya," ucap wanita itu dari seberang telpon.


"E-aku aku tadi di kamar mandi sayang," bohongnya.


"Oh dari kamar mandi, pantes hehe."


"Hehe iya," balas Deo.


"Sayang tadi Papa nyuruh aku nanya ke kamu, kamu tadi kok nggak ke kantor.. Kenapa?"


Deg...


"Oh itu sayang, aku nggak bisa ke kantor soalnya Kevin lagi sakit," alasan Deo.


"Oh gitu, yaudah nanti aku bilangin ke Papa.. Soalnya tadi Papa bilang, kamu di telponin nggak ngangkat maka dari itu Papa nyuruh aku buat telpon kamu, disuruh nanyain," ucap Dira.


'Papa nelpon?' batinnya.


Ia melihat layar ponselnya, melihat riwayat panggilan.. Yaa 5 panggilan masuk tak terjawab dari Papa nya, ia menepuk jidatnya pelan.


"I-ya sayang, nanti bilangin aja ya ke Papa."


"Iya, sayang udah dulu ya Mama manggilin aku tuh dari tadi, dadah."


"Daah," balas Deo.


Panggilan telpon putus.


'Maafin gue Dir, gue bohong.. Gue nggak mau, kalau sampe lu tau kalau gue tadi ketemu sama Difa mantan pacar gue, pasti nanti lu sedih.'

__ADS_1


__ADS_2