
Gadis itu tampak lesu tak bersemangat, duduk dengan menopang dagu sesekali ia menoleh ke samping ia duduk, terlihat di sampingnya gadis cantik dan pintar itu yang sedang berkutik dengan buku-buku besar dan tebal itu(sangat membosankan)."Dif, bosen nggak sih?" tanya Sarah menoleh Difa, kini kepalanya sudah menempel di atas meja, masih setia menunggu jawaban Difa.
Yang ditanya hanya menggeleng dengan mata yang masih fokus ke buku-bukunya.
Huuph.. Sarah menelusupkan wajahnya di sela-sela tangannya yang sudah ditaruhnya di atas meja.
"Lo nggak capek Dif, baca-baca buku pelajaran kayak gitu sampe diulang-ulang bacanya, nggak capek emang?" masih dengan posisi yang sama, hanya matanya saja yang sedikit dilihatkannya.
"Kalau ditanya capek, ya pasti capeklah Sar bohong banget kalau nggak capek ya kan? hehe baca buku setebel ini."
"Iya sih pasti capek," kepalanya sudah terangkat, duduknya kini sudah sempurna."Tapi lo nggak bosen gitu Dif secara ini tuh kan jamkos yang artinya ini adalah jam kebebasan kita dari pelajaran-pelajaran yang amat mempusingkan kepala, elu nggak manfaatin waktu ini buat ngefresh-in otak lu gitu, elu bisa main-main hp kan, bisa ngobrol-ngobrol, ya maksudnya elu nggak usah terlalu over banget dalam belajar, bisa santailah."
Difa tersenyum sebelum berkata."Udah candu banget, gimana?"
1 detik 2 detik 3 detik
Aaaaa..
"Astaga(kaget Difa) kenapa Sar?"
Aaaa Sarah memeluk Difa singkat.
Difa hanya mengerutkan keningnya yang artinya ia sendiri tak mengerti, ia membalas pelukan singkat Sarah.
__ADS_1
"Elo tuh best banget sih Dif, sumpah gue jadi ngerasa kayak jadi penggemar lo deh Dif. Elo tuh ya kalau ditanya sama orang/diminta penjelasan gitu, lo tuh jawabannya nggak ribet gitu lho, nggak banyak embel-embel, bisa dibilang singkat sih jawabannya tapi jawabannya lo itu lho berdamage gitu lho, jadi kesannya tuh kayak... aah best pokoknya mah Difa."
"Apa sih Sar, biasa aja kok jangan berlebihan deh, aku biasa aja nggak ada best-bestnya iisss."
"Itu kan elo sendiri, kalau menurut gue yaa sebagai penglihat, sebagai penilai, lo mah paling-paling best Dif serius deh," ucap Sarah tak lupa tangannya membentuk huruf v.
"Udah ah, ke kantin yuk?" ucap Difa mengalihkan pembicaraan.
"Gasss," seru Sarah.
Karena jamkos, dan murid juga diperbolehkan untuk keluar kelas walau hanya untuk sekedar ke perpustakaan, ke taman, atau pun ke kantin hanya untuk mengisi perut, diperbolehkan asal mereka tidak menyalahi aturan sekolah, dan selalu melakukan hal-hal positif.
Seperti rencana awal di kelas, Sarah dan Difa akan ke kantin dan sekarang mereka sudah berada di kantin.
Di kelas Difa.
"Eh.." ucapan teman kelas Difa terhenti.
"Ssst.. jangan bilang," ucap seseorang, sebelum pergi ia menaruh sesuatu di dalam laci meja Difa.
Entah apa yang ia taruh, tak ada yang berani menanyakannya, atau pun berusaha mengkepoi, takut!
Jam pulang sekolah tiba, sebelum keluar kelas seperti biasa Difa selalu membersihkan kolong laci mejanya dulu membereskan buku-buku yang disimpannya di sana.
__ADS_1
"Apa ini," tangannya meraih sebuah kotak berisi yang ukurannya sedikit panjang namun tak terlalu panjang.
"Coklat?" gumamnya.
"Apa Dif?" dengan masih memasukkan buku-bukunya ke dalam tasnya, Sarah bertanya karena sedikit ia mendengar gumaman dari Difa.
"Ini," Difa menunjukkan coklat yang tadi ditemukannya di laci mejanya.
Memberhentikan aktivitasnya Sarah mengambil coklat di tangan Difa.
"Buat kamu!" baca Sarah di secarik kertas kecil yang menempel di sisi kotak coklat tersebut.
"Dari siapa Dif?" tanya Sarah dengan senyum menggoda.
"Nggak tau," Difa mengangkat bahunya.
"Ciyee ada pengagum rahasia nih yee," goda Sarah, Difa hanya diam.
"Nih simpen dari pengagum lo itu," Sarah memberikan kotak coklatnya lagi ke Difa.
"Udah pulang yok," ajak Sarah dan diangguki oleh Difa.
Bersambung..
__ADS_1
Hayoo siapa itu? Komen yaa yang tau