
Ketika dua insan yang di pertemukan, namun tak seirama.
Perjalanan menuju ke sekolah Nata mencoba untuk berhenti memikirkan keadaan Gia. Nata menatap jendela luar untuk mengubah pikirannya. Mata Nata terdiam melihat seorang perempuan yang mengayuh sepedanya dengan sekuat tenaganya.
"Cupu.. "
Kata Nata dengan pelan. Nata memastikan kembali apakah itu Gia dengan membiarkan mobil melaju duluan di hadapan Gia.
"Pak berehenti! "
Teriak Nata menginstrusikan. Nata keluar dari mobil menemui Gia yang semakin mendekat. Nata menyilangkan tangannya di belakang mobilnya sembari menatap tajam ke arah Gia.
"Mobilnya mogok lagi? "
Ujar Gia berhenti tepat di hadapan Nata. Nata tersenyum picik melihat Gia yang berkata seperti itu.
"Lu kenapa sekolah? "
Tanya Nata serius. Gia langsung terkejut mendengarkan perkataan Nata. Menurut Gia apakah Nata berkata bahwa Gia ngga pantes berada di sekolah?.
"Sekolah itu kewajiban!"
"Iya tau.. Tapi bukannya lu kemarin ngga baik - baik aja? Sampai adek lu minta bantuan ke gua? "
Ujar Nata terlihat sombong. Gia terkejut seketika mendengarkan hal itu. Jadi orang yang nolong Gia adalah Nata? Satu pertanyaan yang menghantui Gia terpecahkan tapi muncul beberapa pertanyaan lagi yang membuat diri Gia semakin malu. Gia berusaha menyembunyikan malunya dengan menggaruk bagian bawah kepalanya.
"Lu naik ke mobil gua sekarang! "
"Sepeda aku ngga rusak, kenapa harus naik ke mobil kamu? Bukannya mobil kamu malah yang rusak? "
"Siapa yang bilang mobil gua rusak? ".
Nata menatap Gia serius. Nata melangkahkan kakinya agar bisa lebih mendekat ke arah Gia.
"Itu diem aja disini, kalo ngga rusak terus apa? "
Tanya Gia dengan menurunkan pandangannya terhadap Nata.
"Ini udah jam tujuh kurang lima belas menit, lu mau kita telat? "
Nata langsung menarik tangan Gia untuk masuk ke dalam mobilnya. Dan memarkirkan sepeda Gia di jalan.
"Eh Nata.. "
Nata berjalan menemui supirnya yang sedari tadi menunggu dirinya.
"Pak, tolong turun sekarang biar gua yang nyetir mobilnya.. Dan lu bawa sepeda yang ada di belakang ke sekolah"
"Tapi den.. "
__ADS_1
"Udah ngga usa banyak omong, turun sekarang! "
Tanpa bisa membantah supir Nata langsung turun dari mobil. Nata membukakan pintu mobilnya untuk Gia dan menyetir mobil dengan dengan kecepatan yang sedang. Gia terdiam menunduk, tak ada sepatah katapun yang keluar darinya.
"Eh cupu, lu ngomong apa kek jangan diem dieman kayak gini"
Ujar Nata menatap heran Gia yang menunduk dan terdiam.
"Udah tau lu itu sakit kenapa lu masih sekolah?"
"Bagaimana bisa aku ngga sekolah jika aku sekolah saja mengandalkan beasiswa"
Ujar Gia keluar dari jeruji diamnya. Nata tersenyum mendengarkan ucapan Gia.
"Kenapa lu semalam sampai ketakutan kayak gitu? Sampai - sampai adik lu ngemis ngemis minta bantuan ke gua! "
"Aku ngga suka ya kalo kamu bilang Riri ngemis - ngemis ke kamu! Emangnya Riri pernah minta sesuatu apa ke kamu? Kamu boleh ngehina aku tapi tolong jangan bawa - bawa Riri.. Udah cukup penderitaan Riri selama ini! "
Ketus Gia yang bernada tinggi yang membuat Nata terkejut. Bagaimana bisa seorang Cupu mampu berkata seperti ini.
"Sorry.. Bukan gitu maksud gua"
Nata sadar bahwasannya dia salah dalam berucap. Memang benar kata Gia seharusnya dia tidak memakai kata ngemis dalam pertanyaannya.
"Cupu.. Maafin gua ya, gua salah ngucap.. "
Gia terdiam karena belum bisa memaafkan kata - kata yang barusan di lontarkan secara langsung oleh Nata. Gia tau Nata terlahir dari keluarga yang ada tapi Gia ngga suka jika harus berhubungan dengan orang yang tidak memiliki attitude seperti Nata.
"Lu boleh ngga maafin gua, tapi gua minta lu mau menerima ini"
Nata menyodorkan bekalnya yang bewarna biru itu ke arah Gia.
"In.. i ap-a? "
Tanya Gia gugup karena hampir seluruh siawa yang mau masuk ke dalam sekolah pandangannya menuju ke arahnya dan juga Nata.
"Isinya nasi goreng, udah terima aja daripada lu tambah malu dilihatin semua orang? "
Gia menerima nasi goreng itu karena terpaksa. Gia langsung pergi dari arah Nata dan memasang wajah ketakutan di hapadan siswa lainnya.
---0---
Bel istirahat telah berbunyi sedari tadi. Gia terdiam memandang papan tulis dengan tatapan kosongnya. Banyak sekali beban yang harus di fikirkan oleh Gia termasuk dengan perkataan Nata yang membuat sakit hatinya. Gia mengambil kotak nasi yang tadi di berikan oleh Nata di laci mejanya.
Brukk...
Suara gedoran pintu terdengar lantang. Mocca datang memasang wajah sinisnya dengan tatapan marah. Langkah mocca langsung mengarah ke arah Gia. Gia yang mengetahui kejadian itu langsung menundukkan kembali pandangannya. Mocca meraih paksa kotak nasi yang di berikan Nata itu dari tangan Gia.
"Lu kenapa sih selalu buat masalah sama gua? Lu kenapa harus deket deket sama Nata? Lu pikir lu siapa bisa dekat sama Nata? "
__ADS_1
Bentak Mocca membuat Gia terkejut. Gia hanya bisa terdiam menunduk dan mengikhlaskan kotak nasi yang tadi di berikan oleh Nata.
"Lu bisu, budeg, atau autis? Bodoh banget jadi orang! "
Bentak Mocca kembali. Gia meremas roknya dengan kuat agar menahan ketakutannya terhadap Mocca. Mocca membuang mukanya setelah menatap marah Gia.
"Udah ngga usah di tanyakan lagi, cupu itu paket lengkap! "
Jawab Lily sahabat dekat Mocca sekaligus anak buah Mocca. Mocca tersenyum picik sembari mengacak - acak pelan rambut Gia.
Suara langkah kaki lantang terdengar dari luar kelas. Semua siswa langsung berlarian menuju ke arah langkah kaki itu, meskipun begitu Mocca masih tetap saja melanjutkan niat piciknya.
"Sampai kapanpun lu bakal jadi target gua!! Dengar baik - baik si anak cupu"
Mocca menempelkan jari telunjukknya tepat di dahi Gia. Secara cepat jari telunjuk tangan Mocca langsung mendorong kepala Gia seketika.
Suara langkah kaki itu mulai memasuki ruang kelas Gia. Yapp.. Tepat dia adalah Nata. Entah kenapa Nata selalu muncul di hadapan Gia di waktu yang tepat. Dengan langkah kakinya yang tegas dan kedua tangan yang masuk di saku celanya membuat siswi siswi lainnya ssmakin terpesona.
Nata berjalan selangkah tepat di samping Gia dan berhadapan langsung dengan Mocca.
"Beb.. Ngapain kesini? "
Tanya Mocca berusaha untuk tenang. Nata mengeluarkan senyum piciknya sembari membuang tatapannya dari Mocca.
"Beb.. Ini ngga seperti yang lu bayangin, beneran! "
Lagi - lagi Nata hanya terdiam melihat tingkah Mocca yang keterlaluan. Wajah Nata benar - benar terlihat sempurna. Wataknya yang dingin semakin terlihat jelas.
Melihat Gia yang menunduk dan mecabik - cabik jarinya sendiri, kedua tangan Nata langsung menempel di dahi dan bagian belakang kepala Gia untuk membenarkan posisi kepala Gia agar tidak terus - terusan menunduk.
"Aishhh... Apakah Nata suka sama si cupu? "
"Baper banget anjim"
"Gila, sospett banget sih antara Nata dan Cupu"
"Gua pikir mocca bakal kalah deh"
Ucapan - ucapan itu terdengar jelas di telinga Nata, Mocca, bahkan sampai dengan Gia. Lily menarik tangan Mocca membawanya pergi keluar dari kelas Gia karena kondisi sudah tidak kondusif lagi. Nata membungkukkan badanya dan menatap wajah Gia sembari menghela nafas berat.
"Lu harus percaya sama diri lu kalau lu bisa ngelawan mereka!"
Sepatah kalimat yang di ucapkan oleh Nata masuk perlahan dengan tenang di telinga Gia. Gia menelan ludahnya karena dia mati kata seketika. Tak berselang lama Nata langsung pergi dari hadapan Gia dan menemui Ayok yang sudah menunggunya di depan kelas Gia.
Temen - temen minta tolong banget, hargai author yaa..
Author cuman ingin nerima vote dari kalian aja agar author bisa semangat!
Tapi kalau kalian mau nambahin koment author tambah senang banget..
__ADS_1
Makasih yang udah ngevote dan koment.. :)