CUPU

CUPU
PERTUNANGAN


__ADS_3

Jakarta


Di rumah keluarga Dirgantara


Orang tua Difa dan orang tua Kevin sudah menyetujui permintaan Kevin untuk mengajak Difa bertunangan.


Sekarang semuanya tengah sibuk, membahas persiapan pertunangan Kevin dan Difa.


"Aduh Jeng.. Ini bagus juga lho," Mama Kevin menunjuk gambar bentuk dekorasi di hp-nya.


"Iya Jeng.. Bagus. Tapi kayaknya yang ini lebih bagus deh," Mama Difa menunjuk gambar lain.


"Iyaa Jeng.. Aduh ini bagus semua ya, jadi bingung deh pilihnya," ucap Mama Kevin kepada semuanya.


"Maa.. Kok Mama yang ribet sih ini kan acaranya anak-anak, biarin aja mereka yang pilih siapa tau mereka mau pilih sendiri," ucap Papa Kevin.


"Ih Papa.. Mama kan sama Mamanya Difa cuma mau bantuin aja," ucap Mama Kevin.


"Iya Papa tau, tapi kan anak-anak juga mau kali Ma.. Pilih sendiri," ucap Papa Kevin.


"Papa juga setuju apa kata Pak Beri, Ma... Biarin aja kali anak-anak yang pilih," ucap Papa Difa.


"Ih kok Papa malah ikutan sih," cemberut Mama Difa.


"Udah.. Pa, om biarin aja," ucap Kevin lembut.

__ADS_1


"Ma? Mama sama Tante yang pilih-pilihnya yaa.. Kevin sama Difa ngikut aja," ucap Kevin.


"Iya Ma, Tante.. Kita ngikut aja, lagi pun Kak Kevin sama Difa gak ngerti ngurus-ngurus yang begitu," ucap Difa.


"Nah.. Anak-anak aja setuju kita yang pilih, kenapa Bapak-bapaknya pada ribet," ucap Mama Kevin yang diangguki Mama Difa.


"Iya-iya.. Kami Bapak-bapaknya yang salah," ucap Papa Kevin.


"Memang kalau debat sama istri.. Pasti suami yang kalah ya Pak," ucap Papa Difa kepada Papa Kevin.


"Iyaa Pak," ucap Papa Kevin.


Hahaha..


***


"Iyaaa," jawab semuanya.


Di taman kota tak jauh dari rumah Difa.


"Dif? Kok ngelamun aja dari tadi?" tanya Kevin.


"G-gak Kak.. Gak papa kok," tersenyum.


"Dif.. Kita sudah mau tunangan, dan jika tidak ada halangan juga kita akan menikah.. Jangan sembunyi-sembunyikan masalah yaa, kalau memang ada masalah cerita.. Siapa tau aku bisa bantu, jangan dipendam sendiri," ucap Kevin lembut.

__ADS_1


"I-iya.."


"Gak papa cerita aja.. Kalau mau cerita," ucap Kevin.


"Kak? Aku keinget sama Kak Deo.. Taman ini, tempat di mana kisah cinta kami dimulai dan taman ini.. Tempat berakhirnya juga kisah kami," ucap Difa sendu.


"Sabar ya, Dif.." Kevin membawa Difa ke dalam pelukannya.


"Iya Kak.."


"Tuhan.. Aku mencintainya, jadikanlah ia takdirku.." Kevin membatin.


Tess(air mata)


"Kak? Kakak nangis?" Difa melepaskan pelukannya, merasakan setetesan sesuatu jatuh di lengannya, yang diyakininya itu air mata Kevin.


Kevin menghapus air matanya cepat, di saat Difa melihat tetesan di lengan Difa sendiri.


"Gak.. Gak nangis kok," ucap Kevin.


Difa mendongak menatap Kevin."Ini air mata siapa?" tatapan Difa yang sendu, membuat Kevin tak tega untuk berkata bohong.


Kevin diam."Kak.. Kenapa Kak Kevin nangis?"


"Aku tau.. Kak Kevin nangis kan," ucap Difa, namun Kevin masih saja diam.

__ADS_1


"Kak.. Kita ini bentar lagi mau tunangan, dan kalau kita berjodoh kita akan menikah, apa Kak Kevin ada masalah? Jika ada masalah cerita sama aku, aku akan bantu jika aku bisa.." ucap Difa mengikuti bicara Kevin.


Kevin tersenyum simpul."Gak ada masalah kok."


__ADS_2