
Gia mulai sedikit tenang. Nata melihat Gia yang menjadi sasaran Mocca merasa iba, entah kenapa rasa ini tiba - tiba muncul seketika.
"Udah nangisnya? "
Nata bertanya dengan nada dingin. Gia dan Foa yang mendengar kata Nata langsung menghadap ke arah Nata yang berdiri.
"Mma.. k.. "
"Iya sama - sama"
Nata langsung memotong kata Gia yang gugup mungkin karena efek habis nangis.
"Besok balikin jaket gua, eh cewek berkacamata temanin tuh si cupu"
Ujar Nata pergi meinggalkan Gia dan Foa dengan wajah dingin.
---0---
Nata menggaruk - garuk kepalanya membuat pesona sebagai cowok the most wanted di sekolah semakin bertambah. Banyak siswi yang menjerit pujian atas ketampanan Nata.
"Woi sob lo darimana? "
Ucap Ayok dengan nada ngos ngosan karena habis mengejar Nata. Ayok adalah salah sato anggota Breboo di sekolah tapi Ayok memang jalan muncul di grup wa karena Ayok lebih sering menghabiskan waktunya untuk bermain game online.
"Biasa tebar tebar pesona dulu sama mereka"
Seru Nata melirik ke arah segerombolan siswi yang sedang memperhatikan ke arahnya dan juga Ayok.
"***** ya lo mentang mentang punya wajah yang tampan"
Nata tersenyum meringis dengan jawaban Ayok. Ayok langsubg merapikan rambutnya dan ikut memasang muka dingin seperti halnya Nata.
"Eh sob tapi dilihat lihat kita punya kemiripan, hampir 11 12"
Elak Ayok berusaha menyamakan diriĀ agar tidak kalah saing dengan Nata.
"Najis gua"
Nata merasa tak setuju dengan ucapan Ayok. Nata menepuk nepuk pundak Ayok agar Ayok bisa bersabar dengan keadaan ini.
"Bebeb Nata"
Teriak Mocca lari menemui Nata.
"Anjayy ada bidadari turun dari surga"
Seru Ayok melihat Mocca dihadapannya.
"Nenek peyot kok dibilang bidadari"
Sahut Nata membuang muka. Nata benar - benar terlihat judes jika berada di dekat Mocca.
"Santai sob gua sepimikiran sama lo, untuk menyambut seseorang kita harus memujinya sedikit"
Jawab Nata. Wajah Mocca memerah dan raut wajahnya tampak marah. Mocca sudah tak tahan lagi dengan perlakuan Nata tapi Mocca harus mendapatkan Nata kembali.
"Eh kutu beras diam ya lo..!"
Ujar Mocca mengarah kepada Ayok.
"Idihh, ganteng ganteng gini dibilang kutu beras"
"Gantengan juga my baby sweet boy gua"
Nata langsung tersenyum miring. Sudah risih telingan Nata mendengarkan kata - kata basi dari Mocca. Nata berjalan melewati Mocca dan mendahului Ayok.
__ADS_1
"Beb tunggu.."
"Makan tuh cuek, hahahaha"
Tawa Ayok mengejek Mocca. Ayok mengikuti Nata yang pergi mendahuluinya.
"Sabar girl"
Seru anak buah Mocca. Mocca merengek kesal karena di tinggal pergi oleh Nata.
"Sumpah lo keren banget"
Seru Ayok dalam perjalanan menuju ke kelas.
"Dari dulu"
Jiwa kesombongan Nata meronta - ronta. Nata menyembunyikan kedua tangannya di saku celananya membuat ketampanannya semakin menambah.
---0---
Masih berada di taman belakang sekolah Foa dan Gia terdiam seketika.
"Nata baik banget sih"
Seru Foa sembari mengelus - elus jaket Nata yang dikenakan di Gia.
"Fo makasih ya udah nolongin aku"
"Heemm.. kita kan teman mana mungkin gua ngebiarin lo di habisin sama mocca"
Foa langsung memeluk tubuh Gia dengan hangat. Foa melihat jam tangannya yang menunjukkan mapel berikutnya akan dimulai.
"Gi yuk ke kelas"
ujar Foa menarik tangan Gia. mereka berdua merapikan roknya dan kembali menuju ke kelas.
---0---
Sebelum Gia dan Riri pergi sepertu biasa mereka harus berpamitan kepada Bu Sari terlebih dahulu.
"Ibu.. Riri mau pergi sama teh Gia sebentar ya"
Ujar Riri kepada Bu Sari yang sedang duduk di ruang makan.
"Iyaa.. Riri jangan banyak jajan ya kasihan teh Gia"
"Siap bu, Riri janji Riri ngga akan jajan banyak - banyak"
Ucap Riri sambil tersenyum manis.
"Kami pamit dulu ya bu"
Ujar Gia mencium tangan Bu Sari yang diikuti oleh Riri.
"Kalian hati - hati ya"
Jawab Bu Sari mencubit pipi Riri yang menggemaskan.
Gia dan Riri berjalan menuju pasar malam yang jaraknya lumayan dekat dengan panti asuhan. Sesampainya di pasar malam Riri langsung tersenyum senang menatap beberapa permainan yang terlihat menarik.
"Teh Riri mau main itu"
Ujar Riri menunjuk ke sebuah permainan.
"Ya udah yuk kesana"
__ADS_1
Gia menggenggam tangan Riri menuju ke sebuah permainan yang sebelumnya telah ditunjuk oleh Riri.
Riri dan Gia menaiki sebuah permainan yang membuat mereka berdua tertawa bahagia. Senyuman Gia yang terukir di raut wajah Gia mampu menghapuskan tangisannya selama ia berada di sekolah.
"Seru banget teh"
Seru Riri menikmati permainan. Setelah menaiki permainan itu Gia dan Riri pergi mencari permainan yang lain.
"Teteh, Riri mau boneka itu"
Riri menunjuk ke arah permainan lempar gelang yang berhadiah boneka jika mampu memenangkan permainan.
"Riri bisa mainnya?"
Tanya Gia menunduk ke arah Riri.
"Kan nanti teh Gia yang main, Riri cuman mau bonekanya aja"
Jawab Riri membuat Gia tersenyum gemas. Gia dan Riri berjalan menuju ke permainan lempar gelang.
"Mau main pak"
Ujar Gia kepada bapak bapak yang menjaga permainan lempar gelang itu.
"Ini neng, harganya cuman sepuluh ribu tapi hadiahnya neng bisa milih sendiri kalau neng menang"
Kata bapak - bapak itu membuat Riri semakin senang.
"Wahhh.. Boneka bolehkan pak? "
Sahut Riri bersemangat.
"Boleh boleh"
"Ya udah pak saya mau coba"
Gia menyodorkan uang sepuluh ribu yang ditukar dengan lima biji gelang untuk ia lemparkan agar gelang gelang itu masuk mengelilingi beberapa botol yang berdiri acak.
Gia mulai melemparkan satu persatu gelang ke arah botol. Sampai gelang terakhir Gia masih mampu menembus target dan Riri terlihat senang karena dapat memilih boneka yang sudah ia incar.
"Riri suka? "
Tanya Gia menatap Riri yang memeluk hangat boneka itu.
"Suka teh, makasih ya teh"
"Iya sama - sama tapi jangan lupa belajar ya"
"Siap teh"
Gia dan Riri duduk di sebuah bangku untuk menikmati pasar malam ini. Gia sengaja membelikan dua es cream untuk dapat ia makan bersama Riri.
"Ini satu buat Riri, satunya lagi buat teteh"
Gia menyodorkan es cream kepada Riri yang asik bermain boneka.
---0---
Nata, Ayok, Adit dan Dimas berjalan memperhatikan area pasar malam.
"Sumpah lo yok kayak anak kecil banget ngajak keluar tapi kok di pasar malam"
Decak Adit menggerutu kepada Ayok.
"Ayolah.. Sekali - kali kita hidup kayak anak kecil lagi"
__ADS_1
Sahut Ayok yang menikmati malam ini.
Bersabalah meskipun itu sulit. Tuhan tak akan pernah bercanda tentang nikmat yang diberikan kepada hambaNya.