Dari Aku Yang Hampir Menyerah

Dari Aku Yang Hampir Menyerah
11.


__ADS_3

Bersyukurnya jatuh tidak dari atas dan tidaklah menyakitkan tubuh. Hanya sedikit luka ringan di dengkul terlihat memar. Ini tidaklah seberapa sakitnya tapi cukup berasa nyerinya. Suara kaget ku yang memekikkan dan juga benturan tas besarku pada tiap tangga membuat suara jatuhan terlihat sangat kasar dan keras.


Dia baru sadar gadis cupu tak melangkah di belakangnya. Mendengarku seperti itu dia berlari dari lantai sebelas ke atas tempatku berada lantai tiga belas. Dasar payah, jalan saja kayak siput lamban.


Meskipun dia menggerutu dia cukuplah baik menolongku. Seorang gadis berambut kucir satu belakang duduk melimpir memperhatikan luka dengkul yang terlihat memar. Haiissh, wanita selalu merepotkan. Aku beradu argument dengannya karena masalah sepele diriku terjatuh.


“ Sial, kenapa harus jatuh gak etis seperti ini sih ” lah, tu anak kemana tinggalin anak gadis sembarangan.


“ Hidupku sungguh sial ” menangisi sesenggukan perih yang tak seberapa tapi tetaplah luka.


“ Apa, tampaknya kamu belum pergi juga” tanpa melihat sedikitpun sumber suara, aku yakin dialah orangnya.


“ Makanya jalan tu matanya di pakek. Udah gede juga masa harus ku beritahu. Pegang tanganku dan berdiri ” mengulurkan tangan kirinya agar ku berpegangan untuk berdiri.


“ Baiklah, sudah tahu temannya buta malah gelidik sendiri. Gimana sih jadi teman kok gak pengertian blass ” jawabku tak kalah sewotnya walau kenyataannya aku juga yang salah.

__ADS_1


“ Huuffh, buruan nanti gerbang sekolah keburu ke tutup ” ucapnya dengan muka setengah di tekuk, tak mengurangi cahaya tampan miliknya. Bahkan seperti laki - laki yang sedang merajuk pada kekasihnya.


“ Iya, bawel amat kayak emak - emak aja ni anak …” berusaha menggapai tangannya tapi malah ke bablasan mengenai belalai gajahnya di balik kain.


“ Oh, shitts jaga tanganmu, kau coba menggodaku ya ? ” menyingkirkan tanganku dari benda keramat yang siap - siap akan berontak.


“ Sebelah matamu yang mana melihatku menggodamu. Kamu tak lihat aku ini bagaimana tanpa kacamata ” dalam hati aku bersorak girang tahu sesuatu.


“ Aku tak berminat meraba - meraba benda kecilmu itu ” jelasku sedikit kesal.


“ Kecil bagaimana, kau jangan sok tahu bahkan milikku lebih besar dari yang kau perkirakan ” seperti ini dinyata kecil olehnya bahkan milikku lebih besar dari pergelangan tangannya. Lalu yang besar seperti apa.


Dia pun menyudahi pertengkaran kami membalikkan tubuhnya dan duduk jongkok di depanku. Menepuk punggung mengisyaratkan aku naik ke atasnya. Aku menurut saja toh kakiku juga terluka di tambah lagi gemetar dalam berjalan menuruni tangga yang bertumpu - tumpu ke bawah.


Ku mengalungkan kedua tanganku menelisip leher panjangnya. Aroma rambutnya enak sekali dan tubuhnya ini juga baunya wangi. Tubuhnya yang teramat tinggi jangan lupa tubuhnya tak kalah berotot kekar. Dia menggedongku dengan diam sesekali menimpali perkataanku yang banyak mutiara padanya. Sejenak dia berhenti lalu melanjutkan kembali melangkah pergi menggendongku turun ke bawah.

__ADS_1


“ Kau kecil - kecil ternyata berat juga. Siapa yang kau panggil tetangga ?” tanpa melirik sedikit pun ke arah ku.


.


.


.


.


.


.


...Jangan lupa sedekahnya ya para reader ku yang ku sayang. Berilah kami like, coment, hadiah dan dukungan. Jangan lupakan untuk stay tune di karya kami....

__ADS_1


...Jangan lupa semangatin authornya dong biar tambah gereget di tiap karya - karyanya. Biarkan karyanya dapat mengguncangkan dunia. Author sangat matur thanks you, jangan lupa ya tinggalkan jejak kalian....


...Salam hangat dari author...


__ADS_2