
Sebuah ketukan berkali - kali mengenai pintu. Hari masih petang kenapa berisik banget sih, ganggu aja orang tidur. Aku masih enggan keluar dari selimut aku mengumpat di balik selimut. Menghindari panggilan kakak.
Kakak sudah benar - benar gemas mendapatiku meringkuk tanpa menghiraukan panggilannya. Dengan sekali tarik selimut melayang ke udara. Kakak memperhatikanku yang masih mencoba menutup mata. Ku kira dia akan memarahiku dan menyeretku seperti ibu tiri untuk masak pagi. Itu tidaklah benar, kakak tanpa kata lagi menjewer telingaku dan membawaku ke kamar mandi.
Dia berkata akan sholat berjamaah bersama papa mama di mushola rumah. Dan menempatkan diriku di kamar mandi untuk berwudhu. Wudhu, sholat apa itu aku baru mendengarnya. Apa itu serangkaian pemujaan, entahlah aku juga tidak tahu caranya berwudhu.
Aku hanya membersihkan wajahku sabun cuci muka, tak hanya itu aku juga menyiram kedua tanganku sekali dan kaki. Aku pun mengikuti langkah kaki kakak dan memakai kain yang di taruh kakak di kasur. Di sinilah papa dan mama telah rapi dan wangi, mereka serba putih.
Papa berada di paling depan sementara aku, mama dan kakak berada di belakangnya. Sudah siap, kami bertiga hanya menjawab iya dan sudah.
__ADS_1
Aku melihat papa mengangkat kedua tangannya ke atas dan menghadap tembok sambil berucap bahasa asing. Begitu juga kakak dan mama juga sama seperti papa Aku yang tidak tahu apa - apa hanya bisa ikut - ikutan, kami melakukan dua kali.
Dan saat kami berdiri yang kedua aku melirik kakak dan mama mengangkat kedua tangan di balik kain putih itu. Papa mengucapkan kalimat aneh lagi, dan dijawab kata aamiin oleh kami. Dan berakir dengan salam, mereka bertiga kembali lagi mengucapkan untaian kalimat yang tak dapat ku mengerti.
Dan di pertengahan mereka berucap saling geleng - geleng kepala. Dan seperti menghitungnya dengan jari mereka.
Aku leluasa memperhatikan karena mereka menutup kedua matanya. Bibir mereka bergerak - gerak sesuai intruksi papa dan lagi — lagi aku melihat mereka mengangkat kedua tangan seperti meminta sesuatu.
Papa berhenti berucap dan berbalik badan menatap kami. Aku mengikuti hal yang sama seperti kakak lakukan. Akhirnya selesai juga, aku segera beranjak ingin melanjutkan mimpi indahku di alam tidur.
__ADS_1
Tapi suara berat papa menghentikan langkah kakiku. Dan menyuruhku tetap disini, aku dengan berat hati menutup kembali pintu. Aku melihat kakak memegang sesuatu, mama juga sama bedanya punya mama agak sedikit besar darinya.
Aku mengambil sama seperti milik mama yang terlihat tulisan asing besar - besar, aku sangat kepo dengan kakak. Aku melihat kakak buka tutup mata dan bersuara seperti sedang menghapal buku tebal yang dibawanya. Ku lihat tulisan bagaikan semut bercecer bergandengan ada juga yang berpisah.
Kakak melihatku dan menyuruhku duduk di dekatnya dan membaca kembali. Aku melirik ke tempat arah tuju mata kakak buku tebal. Aku sangat lelah kaki ku juga masih sakit, tanpa malu ku selonjorkan kedua kakiku ke depan dekat papa.
Aku memukul - mukul kecil seperti kelelahan sekali, mama yang tahu langsung menimpukku dengan alat sujudnya. Tidak terlalu kasar tapi mengena. Katanya aku tidak sopan.
Aku segera menekuk keduaku kesamping seperti mama, dan hanya membuka lembar demi lembar tanpa niat membaca. Papa menyudahi bacaannya dan menatapku untuk maju ke depan. Ku letakkan buku besar itu di hadapannya dan memintaku membaca.
__ADS_1
Yang benar saja papa, aku bahkan tidak bisa membaca. Papa menungguku membaca, tapi tak kubaca. Aku hanya meneguk air ludahku dengan susah payah. Aku yang mendapat tatapan horror papa nyaliku menciut untuk menjawab bantahannya. Kakak dan mama menghampiriku yang hampir menitikkan air mata. Mereka menyemangatiku untuk membaca seperti biasanya.