Dari Aku Yang Hampir Menyerah

Dari Aku Yang Hampir Menyerah
47. Sisi lain


__ADS_3

Dua kata membuatku senang perfect and delisious. Baru kali ini ada yang memuji masakanku setelah bibi pelayan dan yang kedua beliau mommy Bei Zijin. Aku senang melihat beliau menyukai masakanku. Aku lega saat mengetahui wanita paruh baya di depanku adalah orang yang baik. Setelah selesai aku membantu beliau membawa masakan terakhir tanpa beliau mau lepas dari pergelangan tanganku.


Beliau sudah menganggapku seperti halnya dengan Bei Zijin. Tiga manusia berbaris rapi menempati tempat duduknya masing - masing, menunggu wanita satu - satunya yang mereka sayangi. Mereka rela menahan lapar hanya untuk menunggu kedatangannya. Tanpa mereka tahu bahwa yang mereka cari telah menghabiskan semangkuk kepala ikan secara diam - diam.


“ Nona A. King ” ucapannya menggantung sambil menerima uluran tangan dariku. Aku menyalimi beliau karena untuk menghormati yang lebih berumur dariku. Dan beliau juga adalah daddynya teman sebangku ku.


“ Salam Tuan Bei ” sapaku dengan lembut, aku tahu beliau cukup terkejut dengan keberadaanku secara tiba - tiba.


“ Tikus kecil … !” aku juga mau menyaliminya sebagai paman tapi malah om mesum tanpa tahu malunya mengecup singkat keningku. Saat aku tengah meraih tangannya tanpa duga responnya lain dari pada lain.

__ADS_1


“ Tikus kecil ? Nau …u ra kamu teman cupuku kan ” masih sempatnya dia mengejekku.


“ Iya, baby Zi ini Naura teman kamu. Mommy yang temuin berlian ini di dalam kamar kamu ” ucapnya sambil mendudukanku di ruang makan.


“ Ka …, ka kamar ?” dua manusia lainnya tidak percaya tapi melihatnya mengangguk menjadi sedikit curiga dalam persepsian berbeda.


“ Zi, cepat jelaskan semua ini pada daddy. Kenapa kamu membawa Nona A.” ucapan terjeda mana kala aku memberi isyarat.


Mereka terkekeh sambil memegang perut menahan tawa. Apakah aku lucu tanyaku tapi disambut gelengan kepala oleh daddy nya, dua insan anak dan mommy masih terpingkal - pingkal di kedua sisiku. Mommy yang berusaha mengatur nafasnya, Bei Zijin menepuk pelan meja di depannya dengan garpu.

__ADS_1


Sementara satu manusia yang tahan tawa, dia adalah om mesum menatapku dengan tatapan dingin. Tatapannya bagaikan mayat hidup, dan mencoba tersenyum terpaksa saat Zi melihatnya. Beruntungnya Mommy memahami perutku sudah berbunyi di tengah mereka masih tertawa. Dan dibuat tawa lagi oleh perut kecilku. Aku membantu mommy mengambilkan makanan untuk mereka.


Mereka terlihat sangat senang, tapi dalam hati siapa tahu. Aku berjalan memutar pertama adalah daddy. Beliau gugup mana kala aku berdiri di sampingnya, keringat dingin mengalir begitu saja. Aku pun mengambil tisu dan memberikan padanya. Aku bergumam sedikit dan hanya diketahui oleh kami berdua. Akhirnya daddy lega dan tidak canggung lagi padaku. Aku memutar lagi dimana mommy berada.


Tenanglah semua ini bebas tanpa kolestrol dan diabetes. Mendengar itu semua daddy dan mommy sangat senang, apalagi beliau teramatlah rindu dengan masakan Indonesia. Aku mengambilkan mereka sesuai permintaan, dengan segera mereka menikmati tanpa banyak kata. Dan ketiga kalinya kini aku berada di tengah antara Nan Luxiao dan juga Bei Zijin. Dia memilih opor ayam, rempela ati pedas dan masih banyak lainnya.


Sementara om mesum menyuruhku duduk, dia bisa mengambilnya dengan porsi bar - bar dan menggunung. Dan meletakkannya di depanku, piring berisi penuh dengan lauk hingga nasinya tidak kelihatan. Mereka menatap kami secara bergantian


Jangan lupa sedekahnya ya para reader ku yang ku sayang. Berilah kami like, coment, hadiah dan dukungan. Jangan lupakan untuk stay tune di karya kami. Jangan lupa semangatin authornya dong biar tambah gereget di tiap karya — karyanya. Biarkan karyanya dapat mengguncangkan dunia. Author sangat matur thanks you, jangan lupa ya tinggalkan jejak kalian.

__ADS_1


Salam hangat dari author


__ADS_2