
...Aku selalu sibuk dengan...
...Kesimpulan yang aku buat...
...Sendiri...
...πΏπΏ...
β Sirik aja ini kulkas, kalau lihat orang lain seneng β ckk, rupanya permainan tadi belum membuatnya jera.
β Sirik, tidak ada yang pantas ku sirikkan dari dirimu β menatapku dengan pandangan sengit.
β Hayoo ..., apa mau lagi ! β ucapku mampu mengalihkan perhatian semua orang.
Aku menaikkan alisku bergerak ke atas, dan tersenyum penuh kemenangan. Dia bahkan langsung kicep mendengar ucapanku terakhir. Dadanya naik turun mengontrol emosi yang memuncak.
Aku akan benar - benar gila bila melihatnya, aku pamit pada abi dan umi dan juga keluarga besarnya Om Leo. Mau langsung pergi mengajar ke kampus terkenal di kota B. Tak kusangka selain jadi anaknya abi dia juga jadi dosen.
__ADS_1
Menarik benar - benar menarik bahkan tempat tinggalnya tidak jauh dari rumahku. Hmm, mainan baru. Setelah ini jangan sampai berfikir bisa kabur lagi dariku.
.
.
.
Sore hari β¦
Umi dan aisyah merasa berat melepaskanku, dan memintaku untuk menginap dua hari lagi. Umi seneng punya putri lagi apalagi sekonyol dan sekocak diriku. Bahkan asiyah memeluk tanganku dengan cukup erat. Dan bergeleng kecil mengisyaratkan tidak boleh membawa teman barunya pergi.
Karena si kecil merengek dan hampir menangis papa akhirnya mengizinkannya. Dia bersorak riang, dan langsung membawaku menuju kamar kecilnya. Dia sangat senang karena kehadiranku, dia sungguh gadis kecil yang cerewet.
Aku menuju kamarnya dan mendudukkan ku di tempat tidurnya, dia ingin aku menemaninya tidur. Bahkan aku menyuruhnya tiduran dulu dia tidak mau. Aku menuju kamar mandi dan ingin tidur tapi aku lupa baju saja ini pinjam kakak mana lagi basah pula.
Aku pun berteriak panggil - panggil nama umi, tapi yang ku dengar suara jawaban deheman seorang laki - laki. memang tak akan dengar karena letak kamar mandi tepat bagian dalam rumah bagian ujung. Tolong, kasih tahu umi aku mau pinjam baju. Bajuku jatuh dan basah.
__ADS_1
Hanya hitungan menit aku telah menggigil di kamar mandi ini. Ini benar - benar airnya kayak es dingin kali. Lama kali tu orang jangan - jangan dia lupa lagi pesananku.
Tak jauh dari sana, ada yang mengetuk pintu kamar mandi. Aku langsung menarik baju dan segera membalutnya pada tubuhku yang sudah menggigil. Pakaian ini tidak lengkap mana hijabnya, aiih pasti umi lupa karena buru - buru. Di dalam kamar mandi aku merasa nyeri hebat di bagian kepala.
Aku keluar membuka pintu dan tidak mendapati orang laki - laki. Aku lega, karena aku malu saat ini tak memakai hijab. Karena ini ternyata masih area pesantren dan abi adalah pemilik nya.
Aku berjalan pelan - pelan dengan pandangan tak jelas melihat ke sekeliling. Rasa denyutan di kepala dan badanku yang menggigil. Membuat ku meringkuk di lantai, badanku sangat lemas.
Aku hanya mendengar teriakan dan pertanyaan cemasnya. Tapi aku tak tahu siapa dia, hangat aku meringkuk dalam dekapannya. Dia sungguh sangat hangat, aku ingin memeluknya lebih lama. Aku benar - benar tak tahan, aku lupa dimana aku berada. Dengan entengnya mandi dengan air biasa.
Tubuh ku terlalu sensitive, dengan banyak hal. Seperti hal terjadi saat ini, meski cantik tapi banyak pantangannya. Aku cukup kuat menggenggam kuat kemeja yang di pakainya. Hingga aku benar - benar pingsan tak berdaya dalam dekapannya. Lantas dia membopongku dengan panic menuju kamar adiknya dengan berhati - hati.
...Jangan lupa sedekahnya ya para reader ku yang ku sayang. Berilah kami like, coment, hadiah dan dukungan. Jangan lupakan untuk stay tune di karya kami....
...Jangan lupa semangatin authornya dong biar tambah gereget di tiap karya - karyanya. Biarkan karyanya dapat mengguncangkan dunia. Author sangat matur thanks you, jangan lupa ya tinggalkan jejak kalian....
...Salam hangat dari author...
__ADS_1