Dari Aku Yang Hampir Menyerah

Dari Aku Yang Hampir Menyerah
27


__ADS_3

...Wah, kamu baik sekali ya ?...


...Tapi sayang pas ada maunya aja...


...Terharu aku ?...


...🌿🌿...


Semenjak kejadian beberapa hari yang lalu banyak yang takut. Ada yang berlari ketika melihat ku, ada yang berjalan menunduk, dan ada beberapa surat permintaan maaf karena dulu telah membuli. Dan ada juga memberi banyak bingkisan hingga satu kresek dan juga berbagai kado.


Aneh benar -benar aneh aku merasa ada konspirasi besar saat aku tak masuk sekolah. Perubahan bagaiakan kilat, dulunya aku di campa bagaikan sampah. Sekarang di puja bagaikan dewi. Dunia memang tempat tipu - tipu. Lalu bagaimana cara aku mengatasinya.


Pptts, ppttss …, aku mengirimkan sinyal ke tetangga sebangku ku. Aku bertanya apakah sudah mengerjakan tugas matematika mengenai banyak rumus sulit. Aku mengerti tapi entah kenapa ketika ada soal beda tempat dan juga ada perubahan membuatku bingung kembali.


Berhenti di tengah jalan, sambil melirik hasil jawabannya. Lima soal yang membuatku mati kutu, aku tak berkutik. Aku dibuat kagum hanya beberapa menit dia telah selesai dengan cepat. Bukannya membantu malah melaporkanku yang katanya mencontek dirinya. Aku gelagapan karena memang aku mencontek hanya saja beda nomer.

__ADS_1


.


.


.


.


Cara rumusnya terlalu ribet seperti pak guru itu. aku mengandalkan kemampuan cerdas ku yang dulu untuk mengerjakan kembali. Berjalan dengan tegas dengan gagang penggaris kayu berada di tangannya. Beliau adalah guru tergalak seuprik abad ku, auranya begitu pekat.


Antara membenarkan perkataan tetangga sebangku ku atau membenarkan kalau caraku benar. Tak berkata hanya mengarahkan kepalan tangan tertekuk dan ibu jari berdiri tegak. Aku sih yes … untung saja pemikiranku jernih kembali karena tadi malam. Aiiih, membuatku bergidik ngeri saja.


Baru kali ini dalam sepanjang sejarah beliau tersenyum dan memberi tanda kode seperti itu. karena memang pelajaran ini tak kalah horornya dengan sikap beliau. Aku jadi merinding, aku penasaran bagaimana kalau beliau marah. Aduh, aku ini bagaimana seharusnya bersyukur terlepas dari jeratnya.


Jika tidak habislah aku. Semua ini karena tetangga sebangku yang nyebelin. Aku menoleh padanya menatap tajam, semua kerutan bersatu di keningku. Geratan suara gigi seperti dalam asahan. Dia berbalik menatapku dengan wajah polosnya. Apa β€” apaan ini anak.

__ADS_1


β€œ Gimana masih mau meremehkan ku, kamu tu ya mau mu apa sih ganggu aja ” membenarkan kacamata baruku yang sedikit miring.


β€œ Gangguin kamu kurang kerjaan aja ” tak kalah menirukan logatku berbicara. Membuatku semakin kesal.


β€œ Jangan banyak omong, ayo ikut denganku” menyerahkan paper bag besar berwarna hitam.


β€œ Hei, mau kamu kemanakan aku. Lepas kagak mau ku pukul ” aku berusaha menyeimbangi langkah kaki panjangnya.


Banyak pasang mata menatap kami ada banyak komentar yang membuatku ingin segera lenggang pergi. Aku tak perduli, tapi suara mereka terdengar begitu jelas di telingaku. Inginku solasi itu mulut pada lemes banget. Ini juga main gandeng - gandeng tangan orang, sampai di tempat dimana aku menghabiskan waktu sepulang sekolah sebelum aku kesakitan.


Untungnya lift berguna, jadi tak terlalu menyusahkan dan memakan waktu berjalan. Di tempat atas kami duduk berdua berhadapkan banyak makanan siang yang sangat enak.


...Jangan lupa sedekahnya ya para reader ku yang ku sayang. Berilah kami like, coment, hadiah dan dukungan. Jangan lupakan untuk stay tune di karya kami....


...Jangan lupa semangatin authornya dong biar tambah gereget di tiap karya - karyanya. Biarkan karyanya dapat mengguncangkan dunia. Author sangat matur thanks you, jangan lupa ya tinggalkan jejak kalian....

__ADS_1


...Salam hangat dari author...


__ADS_2