
“ Aku tahu aku lebih berisi dari yang terlihat ” aku tidak terima dikata olehnya. Jelas - jelas tubuhku ini gemoy dan montok.
“ Aku ingin menanyakan sesuatu, kenapa kamu mengajakku keatap membuatku lupa waktu ” suara dengan pelan dekat telinganya.
“ Tikus kecil, berhentilah berbisik ” menahan diri dari gejolak dibawah sana. Walau hanya mendapatkan hembusan nafas hangat mengenai telinganya.
“ Gema suaraku sangatlah merdu itu sebabnya, lagi pula aku bukan tikus kecil ” bagaimana bisa manusia disamakan dengan hewan. Apalagi dengan tikus.
“ Kalau masih berkata aku akan tinggal. Sial, berat sekali …” gerutunya dan secepat mungkin agar aku terlepas darinya.
“ Sudah ku kata aku tidaklah berat tapi aku ini berisi itu jelaslah beda. Jangan disamakan aku tidak mau ” aku memukul kecil punggung kokohnya.
Dia pun kembali lagi menyebutku dengan tikus kecil agar aku terdiam. Bukannya aku terdiam malah menjadi. Hingga langkah kakinya sempoyongan dan berhenti. Menoleh ke arah dimana aku tetap masih mengoceh. Aku yang terlalu tanggap ikut menoleh.
Cupp … satu kecupan mendarat pada pipi kanannya. Dia tampak bagaikan patung karena ulah bibirku. Begitu juga diriku yang telat respon, bibirku menyatu dengan pipi putihnya. Bagaikan tersengat lebah, tapi lebah tak beracun.
Aku membuang muka setelah ku jelaskan aku yang tak sengaja. Sementara dia diam tanpa merespon kembali ucapanku. Dan melangkah kembali hingga dia menemukan taksi yang berlalu lalang di jalan besar.
__ADS_1
.
.
.
.
Ku ucapkan sekali lagi permintaan maafku padanya, dia hanya diam tak berkutik. Karena tak ada tanggapan, mobil taksi yang ku tumpangi berjalan ke arah tempat dimana ku tinggal. Di sepanjang perjalanan banyak notipe bertebaran di salah satu aplikasi hijau. Dari papa, mama, dan juga kakak, aku pun membalas pesan kakak saja karena itu mewakili semua.
Yang pertama kali ku lihat adalah rumah besar yang menjulang bertiga tingkat atas. Kolam ikan air mancur di depan rumah taman kecil bunga di halaman samping rumah. Lampu nya di luar amatlah megah, tidak hanya itu interior nya sangat indah. Hingga sebuah pintu di bukalah oleh sosok wanita tua, yang tak lain adalah ketua pelayan.
Aku dibantu olehnya berjalan, hingga suara khawatir mama mendekatiku. Dia syok melihatku terluka membawaku duduk di sofa mewah ruang tamu. Papa datang karena mama tak kunjung kembali ke tempat mereka melihat pertandingan bola menemani papa.
Papa berjalan berdampingan dengan kakak membawa alat P3K. Aku di bantu mama mengobati luka di kaki ku. Yang mereka tahu aku hanyalah anak gadis mereka yang suka berulah. Pendiam dan tak suka di kekang. Aku bukanlah anak yang patuh seperti kakak yang sesuka hati menerima keputusan papa.
Aku mempunyai prinsip dan pandangan tersendiri mengenai hidupku. Papa melihatku terluka, bukannya bertanya aku mengapa seperti ini. Justru lebih memarahiku dan membanding - bandingkan dengan kakak. Memang aku bukanlah anak yang terlalu patuh seperti kakak, setidaknya aku pernah patuh padanya bukan.
__ADS_1
Ku tahan amarahku agar tak meledak bagaikan gunung berapi meletus. Aku tak sanggup jiwa asalku yang berandal melukai hatinya. Ku pejamkan kedua kelopak mataku sembari meringis menahan sakit antara kaki dan juga hati. Kakak merasa iba padaku dengan perlakuan papa. Dia tahu aku seperti ini karena tak tahan kekangan papa. Mencoba menguasai diri tanpa melibatkan orang rumah.
Sama seperti kakak dulu, tapi bedanya kakak telah taubat duluan. Aku tak ingat penyebabnya sebab itu aku agak sedikit heran dengan cara pakaian berbusananya. Tertutup dari ujung kepala hingga ujung kaki. Hanya kedua matanya yang terlihat berkedip, membantu mama mengurusi lukaku.
.
.
.
.
...Jangan lupa sedekahnya ya para reader ku yang ku sayang. Berilah kami like, coment, hadiah dan dukungan. Jangan lupakan untuk stay tune di karya kami....
...Jangan lupa semangatin authornya dong biar tambah gereget di tiap karya — karyanya. Biarkan karyanya dapat mengguncangkan dunia. Author sangat matur thanks you, jangan lupa ya tinggalkan jejak kalian....
...Salam hangat dari author...
__ADS_1