Dari Aku Yang Hampir Menyerah

Dari Aku Yang Hampir Menyerah
32.


__ADS_3

...Sanksi paling pedih itu...


...Di hukum nurani sendiri....


...Karena hati tempat yang paling jujur...


...Tak menyisakan ruang...


...Untuk pembenaran....


...🌿🌿...


Dari semua pilihan papa mengusulkan aku mengikuti audisi menyanyi saja. Mama lebih menyarankan aku memilih audisi kecantikan, sementara kakak terserah aku ikut apa. Jika boleh kakak usul mengikuti audisi debat. Seperti dirinya selalu menjadi yang pertama di usulkan namanya mengikuti lomba debat.


Tak ayal kakak pintar dulunya di rumah dengan ku juga suka berdebat. Meskipun aku biang keroknya si hehe. Aku akui potensi kakak dalam mendebat di akui jempolan tangan. Banyak piala dan prestasi - prestasi berjejer rapi dalam rak kaca ruang tamu.


Sebagai tanda kebanggaan putri kesayangan papa. Bagaimana denganku pintar saja tidak hanya bikin malu. Sedari itu sejak kecil papa menutup akses menyembunyikan diriku dari nama keluarganya. Dan sedari kecil papa mewarisiku sifat keras kepalanya.


Aku bahkan menentang ajuan papa untuk menyekolahkan ku satu sekolah dengan kakak. Dan mengurung diri beberapa hari dalam singgasana dan menjadi dingin dan acuh tak acuh. Aku selalu muak ketika orang yang ku sayangi selalu membanding - bandingkan. Apalagi dibandingkan dengan kakak aku mah jauh. Seperti lagu yang lagi viral saat ini.

__ADS_1


Wong kok ngene kok di banding - bandingke


Saeng - saengke yo mesti kalah


.


.


.


Semenjak itu aku dan keluarga ku tak seharmonis lagi padaku. Mama dan papa di sibukkan dengan prestasi kakak. Kakak selalu mendapatkan nilai nyaris sempurna. Membuat mereka bangga dan selalu menghujani dengan kebahagiaan dan kasih sayang.


Lalu bagaimana dengan nasibku. Pernah suatu kali aku ingin membuktikan kepada mereka aku bisa sepintar kakak. Dan akan mendapatkan hal yang sama dari mama dan papa. Tapi itu tidak, hanya omong kosong saja.


Bagaimana pun anak kecil sepertiku juga menginginkan kasih dan sayang dari kedua orang tua. Kenapa mereka begitu nyata dalam membeda. Setiap kepulangan sekolah kami yang berbeda.


Papa dan mama selalu menyambut kehadiran kakak, aku bagikan anak yang terasingkan. Aku masih tahan mungkin karena memang aku belum bisa pintar. Jadi papa memilih kakak dibandingkan aku, jika ku pintar berarti mereka akan menyayangiku. Pikirku saat itu.


.

__ADS_1


.


Libur semester telah tiba, kami yang bersekolah di liburkan dua minggu lamanya. Ini kesempatan untuk ku mendekat dengan papa. Kakak yang masih kecil sudah aktif dengan buku sekolahnya. Meski hari libur telah datang dalam jangka panjang.


Katanya pintar tidak bisa di wariskan jika kamu tak berusaha. Percuma saja kamu menyia - nyiakan kesempatan yang ada. Sedari kecil kakak memang langsung di bawah kendali papa. Ucapan - ucapannya sedari dini memang telah bermutu, tapi untuk ku hanya angin lalu.


Yang bisa ku lakukan saat ini adalah bagaimana cara papa dekat denganku. Jika menjadi juara masih tidak membuat papa bangga. Lalu dengan cara apa ?


Saat ini papa meliburkan sehari dari pekerjaan yang membuatnya lelah. Di umur ini papa telah menjadi pengusaha sukses, hingga papa harus berusaha membagi dengan baik antara bisnisnya dengan waktu bersama kami.


Di ruangan outdoor papa menikmati kopi hitam di pagi hari. Menikmati suasana sambil membaca berita di Koran. Dan mengawasi gerak - gerik kami takut kenapa - kenapa. Papa tak terlalu risau karena mendapati anak kesayangannya tengah fokus membaca buku. Dan tidak terlalu mawas dengan kehadiranku.


.


.


.


...Jangan lupa sedekahnya ya para reader ku yang ku sayang. Berilah kami like, coment, hadiah dan dukungan. Jangan lupakan untuk stay tune di karya kami....

__ADS_1


...Jangan lupa semangatin authornya dong biar tambah gereget di tiap karya - karyanya. Biarkan karyanya dapat mengguncangkan dunia. Author sangat matur thanks you, jangan lupa ya tinggalkan jejak kalian....


...Salam hangat dari author...


__ADS_2