
Jangankan membaca bahkan aku saja tak tau huruf - huruf di dalamnya. Seakan memori kebaikan dalam tubuh cupu sirna setelah datang tubuhku. Aku berterus terang pada mereka bahwa aku tidak bisa membaca dan aku menjelaskan bahwa tulisan ini aneh dan asing.
Mereka tidak percaya sudah ku duga, aku ingin membantah papa karena menuduhku tidak mau belajar mengaji lagi. Ingin ku jawab tapi rasa pening dan nyeri di kepalaku lebih kuat dari yang kemarin. Aku mencoba ingat - ingat kembali tulisan asing di depanku.
Nyatanya malah membuatku terasa pusing dan ketika papa ingin memarahiku lagi berhenti. Mereka terkejut melihatku berteriak histeris memegang kepala dan pingsan dalam rangkulan mama.
.
.
.
..
.
Papa begitu syok melihatku dan segera berlari membopong tubuhku ke kamar tempatku bersemayam. Dan menelpon dokter pribadi keluarga besar kami untuk segera datang. Jika tidak tepat waktu nyawa melayang. Papa mondar - mandir di samping tempat tidurku, mama dan kakak cemas.
__ADS_1
Setelah pemeriksaan benar adanya aku mengalami depresi ringan, dan memperlihatkan banyak luka di sekujur tubuhku. Dalam keluargaku bahkan tidak ada yang berani menyakiti anak mereka sedikitpun. Lalu luka ini di dapat darimana. Mereka bertanya — tanya, dan memberi tahu bahwa sepertinya aku sering pingsan.
Setelah memeriksa dan memberi resep dokter, mama mengantar dokter wanita yang umurnya tak jauh dari mama. Dokter itu menolak uang yang diberikan, karena dia telah menganggapku seperti putri mereka sendiri.
.
.
.
Aku tak tau sebenarnya apa yang terjadi padaku, badan ini terlalu lemah untukku. Mama tak kuasa melihatku berbaring tak berdaya, begitu juga dengan kakak. Mereka menemaniku dan tertidur di kanan kiriku mendekapku dengan sayang.
Di seberang sana tampak suami istri di kejutkan suara dering telephon memekik di telinga mereka. Papa marah besar setelah mendapatkan informasi bahwa aku menjadi korban bulliying di sekolah, tak hanya itu aku juga menjadi pendiam karena ancaman teman - teman.
Merepal tangan dengan genggaman kuat meninju udara saking kesalnya. Selama ini di balik sikap berontaknya di rumah karena perubahan psikis dari teman - teman sekolahnya. Papa bersedih cukup dalam, mengingat betapa marahnya dulu pada putri kecilnya.
Bahkan karena ulahnya, dia tak mengakui di media bahwa dia memiliki dua gadis cantik sebagai anaknya. Hanya satu dan tetap selamanya hanya dia anaknya. Tanpa mengakui identitas anak keduanya.
__ADS_1
Sebagai pebisnis sukses di asia tenggara, papa memiliki banyak musuh. Bukan karena ingin tapi mereka berdatangan satu persatu ingin menggulingkan papa sebagai orang nomor satu. Mereka merasa iri dan dirugikan, padahal itu pemikiran konyol mereka sendiri.
Toh, papa tidak menggelapkan dana, tidak bertindak di luar hokum. Apa yang disalahkan, manusia benar - benar akan melupakan segalanya karena tahta, harta dan wanita. Hari ini papa akan memberi mereka pelajaran sebagai mana mereka telah menyakiti putrinya.
Tanpa disadari itu akan membuka berita baru bahwa keluarga besar. Menyembunyikan putri yang kedua, dari pemberitaan public.
Ayam berkokok di belakang agak jauh dari kediamanku. Aku hanya terdiam di kasur empuk enggan pergi. Kepala masih merasa nyeri teramat dalam, bahkan aku tak mengingat apapun setelah ku berpindah. Memori ingatan bagaikan lenyap di telan bumi. Aku pun merebahkan kembali aku bahkan tak sanggup duduk terlalu lama. Hingga ku terlelap kembali dalam diam.
.
.
.
...Jangan lupa sedekahnya ya para reader ku yang ku sayang. Berilah kami like, coment, hadiah dan dukungan. Jangan lupakan untuk stay tune di karya kami....
...Jangan lupa semangatin authornya dong biar tambah gereget di tiap karya — karyanya. Biarkan karyanya dapat mengguncangkan dunia. Author sangat matur thanks you, jangan lupa ya tinggalkan jejak kalian....
__ADS_1
...Salam hangat dari author...