Dari Aku Yang Hampir Menyerah

Dari Aku Yang Hampir Menyerah
44


__ADS_3

Ku tutup hidungku mencium aroma menyengat dan amis bercampur jadi satu. Segera ku lari keluar area perutku mual - mual, tak jauh dari kami seorang bapak - bapak tua memberikanku air kelapa. Aku berterima kasih atas kebaikannya, aku masih memegangi perutku yang masih terasa mual.


Sementara Bei Zijin memijat kepala ku mengurangi rasa nyeri pusing. Bapak itu menepuk pundak Bei Zijin memberi nasehat bermanfaat. Inginku getok Bei Zijin mengiyayakan saja ucaapan bapak penjual tanpa mengatakan kebenarannya. Aku tidak hamil dan juga aku bukanlah istrinya.


Kami masih bersekolah bagaimana bisa menikah apalagi dengan patner yang baru menjadi teman sebangku ku. Dia yang buat ide dia juga yang kena. Aku sudah menyarankan untuk berbelanja di tempat Al yang terjangkau kebersihannya meskipun memang mahal.


Tapi tidak masalah untukku dari pada seperti ini. Ada baiknya juga jika tikus kecil mau menjadi pasangan pelengkap hidupku. Aku menghedikkan bahu tanda menyudahi pertengkaran konyol kami. Aku mengambilkan masker untuknya agar tidak mual kembali. Dia pandai menego tak kalah hebatnya seperti mommy. Bahkan dia menjual ketampananku untuk mendapatkan discone sebanyak - banyaknya.

__ADS_1


Dia tidak memperdulikanku kembali di sibukkan dengan belanjaan pokok di depannya. Sementara aku berjubel dengan ibu - ibu dagang. Meminta foto bersama, tak lama dia menarikku disisinya.


“ Sudah ya ibu - ibu, kita mau pulang. Kasihan suami saya jika jadi rebutan ” sekali tarikan aku terhempas kesisi tikus kecil.


“ Tapi mohon maaf sekali lagi dia sudah ada yang punya ” ektingnya memang luar biasa. Membuat emak - emak kecewa.


Di dalam mobil dia mulai bertanya padaku bagaimana, bagaimana apanya tanyaku kembali. Dia terlihat kesal seharusnya dia masih memerlukan beberapa daging ayam. Tapi dongkolnya pada emak - emak memintaku pulang saja.

__ADS_1


Disini tidak ada tempat peribadatan, jika ingin bisa saja tapi harus menempuh jarak cukup jauh. Di kawasan perumahan elite semua serba mandiri. Berbeda di desa seperti cerita tikus kecil yang serba - serbi sraung tetangga. Ada baiknya tidak saling mengganggu privasi, tapi jika ada apa - apa juga kerepotan. Menurut mereka jika butuh sesuatu bisa menyuruh pelayan atau apalah karena uang bisa berbicara.


Mereka di sibukkan dengan rutinitas di luar rumah. Kebanyakan pekerja kantoran dan pebisnis seperti daddy. Aku adalah anak tunggal Tuan Bei Ming dan Nyonya Sangguan Li. Karena tuntutan hidup mereka lebih menyayangi uang dari pada aku sebagai anaknya. Meskipun hidup serba mewah tapi kali ini aku akan pelahan terbuka kembali pada mereka. Tikus kecil memang benar, aku tak boleh terluka terlalu lama.


Aku juga sudah yakin dengan pembuktian mereka. Setelah beberapa bulan yang membuatku renggang dengan mereka. Bibi pelayan memberitahukanku akan kedatangan surprise daddy dan mommy dari London. Sesuai rencana aku akan membuat kejutan special bersama tikus kecil. Perkiraan mereka akan tiba pukul sebelas siang. Jadi aku sebaik mungkin membantu tikus kecil berkecimpung langsung di dapur.


Aku melihatnya dari belakang pintu, tikus kecil lihai memotong dan secepat kilat meminim waktu. Dia bagaikan peserta master chef yang harus siap sedia, hidangan tepat waktu dalam penyajian yang sempurna. Aku hanya membantu menguleni adonan, merebus bahan - bahan lainnya.

__ADS_1


Jangan lupa sedekahnya ya para reader ku yang ku sayang. Berilah kami like, coment, hadiah dan dukungan. Jangan lupakan untuk stay tune di karya kami. Jangan lupa semangatin authornya dong biar tambah gereget di tiap karya - karyanya. Biarkan karyanya dapat mengguncangkan dunia. Author sangat matur thanks you, jangan lupa ya tinggalkan jejak kalian.


...Salam hangat dari author...


__ADS_2