
Aku tidaklah teramat tahu semuanya yang terjadi, tapi lambat laun aku mulai mengerti. Aku bukanlah satu intentitas melainkan ada tiga. Aku memasuki tubuh Laura dalam keadaan seperti semula tidak tahu apa - apa. Bahkan aku seakan dipaksa oleh kenyataan aku harus menerima semua kekurangan dan kelebihannya. Aku masih menggali ingatan terakhir miliknya sebelum aku mendiam diri menggantikannya.
Berbicara kekurangan pasti tak ada habisnya. Bila kelebihan seperti miliknya saat ini tentunya amatlah membahayakan ku. Aku gadis yang teramat luka bahkan jauh lebih luka dari padaku saat itu. Entah apa yang terjadi tapi seakan terbangun dari mimpi tidur panjangku. Akan menjadi nyata dan mengenai sasaran dengan tepat. Aku seakan diciptakan dan ditugaskan untuk selalu mendampinginya dimanapun berada.
Aku tidak dapat melihat wajahnya dengan pasti. Dia adalah anugrah dan juga ancaman nyata bila aku salah singgung. Aku melihat seorang berpawakan kecil bisa melayang di udara, aku tidak tahu siapa dia keluar dari kediaman yang terbakar dengan api membesar. Dia bagaikan dewa penyelamat yang menyisakan dua bola matanya dan juga geraian rambut panjangnya.
Selama hampir satu tahun lamanya aku berada di negeri orang, menyisakan tanda tanya bagi siapapun yang mengenalku. Sementara Abi, Umi, dan Aisyah sudah kembali sekitar sembilan bulan yang lalu. Berat hati mungkin adanya, tapi mengingat beban kewajiban yang tidak bisa lelama di tinggalkan. Abi memilih mengikuti saran Kak Ramli untuk kembali, dengan syarat semua informasi tentangku harus tersimpan rapat.
Mengingat pengaruh gadis kecil yang luar biasa tidak bisa disinggung. Dan juga sudah menganggapku sebagai putri mereka, maka dari itu Abi dan Umi hanya bisa menitipkan Aisyah untuk menemaniku. Aisyah membenarkan menemaniku sampai kesembuhanku benar - benar ada. Aisyah dan keluarga Abi termasuk Umi masih belum tahu perihal penyakit langkaku ini. Dengan telatennya Aisyah mau menggantikan suster untuk merawatku.
__ADS_1
Memandang wajah cantik bagaikan boneka yang hampir tak bernyawa. Tidak jauh dariku disini setiap saat menggelar sajadhah selalu bermunajat memanjatkan doa untuk kesembuhanku. Di ruangan gelap aku seakan mendengar kalimat - kalimat aneh seperti mama pernah bacakan untukku. Uluran tangan dari sosok wanita bercahaya menggandengku menuju cahaya terang. Senyumnya begitu lembut menenangkan.
.
.
.
Beliau sangat bahagia mendengar kabar baikku, dan menantikan kepulanganku dengan syukuran. Saking senangnya umi langsung menemui abi di kebun belakang untuk melihat sekilas perkembangannku. Ada cahaya kebahagian yang selama ini aku cari. Kak Ramli dengan sigapnya menangkap ponsel yang Aisyah lempar padanya. Dia terburu - buru menahan sesuatu sejak obrolan dengan umi berlangsung.
__ADS_1
Umi sudah tahu kedekatanku dengan kak Ramli begitu juga dengan Abi, dan mereka biasa - biasa saja mungkin tahu jika putri angkatnya ini butuh bimbingan. Jadi step by step dalam berqolla halus agar hatiku tak luka. Meskipun aku luka tapi bukanlah mulut dan perutku, jadi baik - baik saja bila hubungannya dengan makan tak ada lawan. Beliau berdua meskipun telah menua masih romantic. Membuat jiwa jombloku merona saja.
.
.
.
Jangan lupa sedekahnya ya para reader ku yang ku sayang. Berilah kami like, coment, hadiah dan dukungan. Jangan lupakan untuk stay tune di karya kami. Jangan lupa semangatin authornya dong biar tambah gereget di tiap karya - karyanya. Biarkan karyanya dapat mengguncangkan dunia. Author sangat matur thanks you, jangan lupa ya tinggalkan jejak kalian.
__ADS_1
...Salam hangat dari author...