
Dia menyeretnya dan membawanya pada sebuah gudang gelap. Disana dipukul dan masih banyak hal terjadi lain menimpa padanya. Tak ada yang berani menegurnya kembali, mereka para brandalan berkelas licik. Semua nya pedagang tunduk membayar pajak pada mereka.
Jika tak sesuai habislah, mereka akan mengamuk membabi buta seperti ini. Wanita kecil dengan berpenampilan jeleknya tanpa gentar maju membawa keranjang sayur anyaman.
Melangah dengan pasti, memukul mundur hingga taka da celah untuk mengelak kembali. Meskipun badannya kecil tapi untuk kehebatannya tidak dapat diremehkan. Setelah para brandalan terbujur kaku, banyak para pedagang yang membantu polisi mengeksekusinya. Tak lama dewi penyelamat tumbang dengan sendiri di pelukannya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, akhirnya Dokter Zaid menemukanku.
Pencariannya yang begitu sangat sulit, identitasku bahkan tidak dapat dilacak oleh temannya. Aku berada dalam sebuah brankar dengan tak berdaya, saat itu dia masih sedang berdinas di rumah sakit biasa. Seperti aku pernah melihatnya, batinnya kemudian menyamai langkah para suster yang mendorongku. Benar, akulah manusia yang sedang dicari olehnya. Dengan senang hati meminta jatah pemeriksaan berganti dengannya.
Dia sangatlah genius, tapi entah mengapa bakatnya terpendam. Berkutat tidaklah lama, tapi dengan telatennya memberikan perawatan baik mengenai penyakit langkaku. Aku tidak habis pikir, ada keluarga yang tega mengusir anaknya sendiri. Hanya untuk sebuah kesalahpahaman yang tidak mau terdengar lagi.
.
.
__ADS_1
Anak muda laki - laki itu adalah Kak Ramli, dia adalah manusia terdingin kedua setelah si kulkas putra pertama Abi. Dia tidak pandai merangkai kata, setiap keluar dari mulutnya. Kata yang menyayat hati bila di dengar. Bukan bermaksud begitu hanya saja pembawaannya terlalu kaku. Dan juga pelit bicara, awalnya aku pikir dia tidak bisa bicara. Setiap ku bertanya dia hanya menitikkan air mata tanpa kata.
Aku terbangun dengan sigapnya dia bergerak gelisah memperhatikanku. Aku tersenyum ringan, baru pertama kali sejak ku kecil. Ada yang seperhatian ini, setelah bibi dan juga Dokter Zaid. Untuk pertama kalinya dia berkata meskipun dingin tapi perhatian juga.
“ Apa kau baik - baik saja ?” memegang keningku secara tiba - tiba dan menggelengkan kepala.
“ Ya ”.
“ Ya, bawalah kemari ! ” kenapa aku juga menyamainya irit bicara. Apa aku ini suka menirukan orang.
Aku tersenyum melihatnya berjalan mendekatiku membawa makanan yang berisi banyak. Aku tahu ini semua ulah Dokter Zaid, aku dapat melihatnya tersenyum keluar dari ruanganku. Dia dengan telaten menyuapiku, aku bagaikan bayi yang tak kuasa. Aku membuka sebuah sendok di tempatnya lainnya, aku mengikuti ekor matanya yang mengarah pada makanan yang ku buka.
Aku menyendokkan tepat di mulutnya, dia tak kalah gengsinya. Dia menyerah aku terlalu pintar memainkannya membuatnya patuh. Kita seperti kekasih kecil yang sedang suap - suapan. Setelah selesai aku menyuruhnya agar beristirahat kembali di brankar kosong sampingku. Aku menatap lekat wajahnya, wajah yang penuh akan penderitaan sama sepertiku.
__ADS_1
.
.
.
.
Jangan lupa sedekahnya ya para reader ku yang ku sayang. Berilah kami like, coment, hadiah dan dukungan. Jangan lupakan untuk stay tune di karya kami.
Jangan lupa semangatin authornya dong biar tambah gereget di tiap karya - karyanya. Biarkan karyanya dapat mengguncangkan dunia. Author sangat matur thanks you, jangan lupa ya tinggalkan jejak kalian.
...Salam hangat dari author...
__ADS_1