
...Atau barangkali rindu itu...
...Seperti kereta api...
...Boleh naik dengan percuma...
...Namun tak berhenti lama....
Duucckk.., aauuuhh …
Benturan yang teramat keras, membuatku hilang kendali. Menyosor dada bidangnya di balik baju koko putihnya. Cup satu kecupan singkat mengenai pas pada detak jantungnya. Dia terpaku bahkan diam membisu sama seperti om — om waktu itu. Aku pun tarik - menarik melepas rambut panjangku yang terlepas begitu saja dari sanggul tanpa tali.
Arwahnya telah kembali dan tersadar mencoba menarik bajunya. Dasar wanita mesum berbuat tidak senonoh katanya. Hey kulkas kamu pikir aku mau dekat - dekat denganmu. Cckk ..., yang benar saja. Kamu tidak butakan rambutku tersangkut nih. Cepat lepaskan bajumu, perintahku.
__ADS_1
Dia meneguk ludahnya yang kering, dan juga wajahnya bagaikan tomat yang kemerah - merahan. Ada apa denganmu cepat lepaskan bajumu, aku tidak ada banyak waktu mengurusimu. Kata - kata ini, wanita ini kenapa berucap frontal seperti itu. Apakah dia tidak malu bagaimana bisa dia memintaku bertelanjang dada di depannya.
Laki - laki lamban, aku pun menarik tangan kekarnya menuju mobil alpardku. Dia menyuruhku masuk mobilnya, ini tidak bisa dibiarkan. Akan menjadi fitnah jika kita semobil. Aku pun mendorong tubuh kekarnya hingga terjungkal di belakang jok mobil, tanpa menutup pintu.
Aku berontak ini sangatlah tidak etis untuk kami yang bukan mahrom. Dia menekan dada bidangku untuk tetap diam di bawahnya. Apakah dia akan melakukan itu di mobil. Astagfirullah ini terlalu intim. Badan kecilnya kenapa kuat sekali. Aku hanya menekan badannya, jika dia banyak gerak.
Rambutku yang indah akan rusak. Akhirnya ketemu, aku menemukan gunting pakaian. Dia gugup, mata kami bertemu. Apa dia sedang malu. Aku ingin menggodanya sedikit ah pasti lucu. Dan dia menghindariku dengan memalingkan mukanya ke samping kiri. Hingga ciumanku tak menyentuhnya.
.
.
.
__ADS_1
Dan krak - kraks, suara gunting memotong. Dia memejamkan matanya sambil berucap kalimat aneh. Tidak ada orang aku pun melihatnya masih merapal dan membuatku tergoda dengan bibirnya. Cup, satu kecupan singkat untuknya. aku pergi melenggang meninggalkan nya mematung di belakang. Aku tersenyum tipis setelah memastikan dirinya benar - benar telah ke luar dari mobil ku.
Aku juga menaruh bunga mawar tanpa duri pada saku kokonya. Dan melenggang pergi menuju ke tempat dimana seharusnya aku berada. Laki - laki yang terlalu kaku dan polos. Tapi aku suka semoga kita bertemu lagi. Aku langsung menuju dimana papa dan mama duduk.
Reaksi mereka pertama melihatku seperti yang ku pikir. Kami hanya mengobrol ringan, hingga nama kakak terucap. Kakak menuju audium dan berterima kasih pada kami keluarganya. Dan banyak kata kebaikan membuat para hadirin bertepuk ramai, aku bangga pada kakak memang the best. Kakak menatapku tak percaya adik konyolnya ini berjuang kemari melihat wisudanya. Tanpa menghiraukan sakitnya.
Pada hal kakak tidak tahu sebelum kesini aku bahkan berkeliaran kemana - mana. Dan dalam sehari mendapatkan dua ciuman vigin dari dua laki - laki yang berbeda. Bagai durian runtuh datang padaku, meski sedikit bumbu gairah yang sementara.
Kami berfoto sekeluarga kakak dengan baju toganya, papa dan mama dengan baju sarimbitnya, dan aku dengan baju gamisnya kakak hehehe. Aku sudah mencari tukang foto tapi mereka masih di sibukkan dengan pemotretan wisudawan lainnya. Seorang laki - laki berhenti setelah mengobrol ringan dengan papa meminta waktunya sebentar untuk memotret kami.
...Jangan lupa sedekahnya ya para reader ku yang ku sayang. Berilah kami like, coment, hadiah dan dukungan. Jangan lupakan untuk stay tune di karya kami....
...Jangan lupa semangatin authornya dong biar tambah gereget di tiap karya - karyanya. Biarkan karyanya dapat mengguncangkan dunia. Author sangat matur thanks you, jangan lupa ya tinggalkan jejak kalian....
__ADS_1
...Salam hangat dari author...