
...Aku benci ketika kamu hanya...
...Memikirkan pendapatmu sendiri...
...Dan lupa untuk mempertimbangkan...
...Pendapat yang aku ajukan...
🌿🌿
Kenyataan dalam lain teman ku yang satu kelas saat kelas empat meminta bibi mengajarinya. Dia langsung mengiyakan dan membawanya ke ruang depan. Meninggalkanku sendiri dengan tumpukan tugas sekolah yang belum selesai. Begitu seterusnya temanku yang lain juga meminta bantuan kepada bibi mengerjakan tugas dan di sanggupi.
Sejak kecil bibi selalu terlihat ingin menonjol dan tak pernah menyukaiku. Dalam keluargaku yang benar - benar tulus hanyalah kakek. Hingga aku kelas empat aku mulai belajar dengan keras, mengulang berkali - kali dan membaca materi yang di sampaikan guru padaku. Mengantarkan diriku meraih prestasi. Selalu menjadi juara kelas dan selalu mendapat nilai Sembilan dan delapan. Tidak ada yang dibawahnya.
Semua temanku iri tiba - tiba gadis bodoh seperti aku menjadi juara kelas. Mereka mulai membuliku dan tidak mau menjadi temanku karena nilai bagusku. Mereka tidak ingin aku selalu unggul. Biasanya temanku laki laki yang memimpin rengking kelas. Setelah naik kelas tiba - tiba begitu jungkir balik kepada mereka.
__ADS_1
Karena setelah kepergian kakek kehidupanku mulai berubah. Aku sering sakit - sakitan, tak berteman, di bulli, dan ketika pulang di pukul dan di jambak dan masih banyak kenyataan pahit menungguku.
.
.
.
.
.
.
Menerima perlakuan buruk di sekolah, teman, lingkungan keluarga membuat ku ingin berhenti sampai disini saja. Tapi setiap keinginan itu begitu kuat, kakek selalu datang dalam mimpiku. Selalu ada banyak petuah dan keajaiban di depan sana. Bila aku terus berjuang dan bersabar.
__ADS_1
Salah satunya aku di kirim ke dunia lagi dan diberi kesempatan hidup kedua kalinya. Aku memasuki kelas pas bel istirahat telah habis berbunyi. Aku sekarang duduk di paling belakang pojok kiri dekat dengan jendela. Sibuk menyiapkan buku mata pelajaran dan aku mengkeroscek apa ada tugas tidak.
Beruntung tidak ada jadi aku sedikit beban berfikir berkurang. Seorang wanita berumur tiga puluh empat keatas berjalan dengan tegap dan tegas. Semua siswi terdiam, fokus kami tertuju seseorang yang dibawa di belakangnya. Semua mata terkagum terpana akan wajahnya bak dewa kayangan yang amat tampan.
Dengan baju dan jas merah rapi, tatanam rambut yang jatuh ke depan dan tak lupa jam merk terkenal di pakai pada pergelangan tangan miliknya. Berwarna hitam dan bertabur sedikit berlian atau apa itu. Membuat mata silau bila menatapnya.
Tak lupa sepatu putih mahalnya. Di balik semua kemewahan tak sepadan dengan perangainya. Dia adalah salah satu musuh terbesarku sejak dulu. Dia melebihi segalanya hingga pantas membuatnya congkak. Itu pemikiran ku pada awalnya.
Dia si lelaki tampan dan berhati licik dan dingin. Dia pelit dalam berkata dengan siapa pun. Tak terkecuali dengan guru dan kepala sekolah. Setiap kata yang terucap darinya bahkan berharga. Ssshh ...., coba ku lihat seberharga apa sih perkataan loe itu. tatapan matanya tajam ke araku, dia bahkan tak menanggapi bu guru yang memperkenalkanya di kelas.
Tanpa kata di berjalan ke arahku, maksudnya kea rah meja panjang tempatku. Dewi ketua kelas tidak terima melihat aku duduk dengan murid baru ini. Aku tidak perduli, bagiku dia biasa saja. Meskipun dalam hatiku ada rasa sedikit ingin tahu banyak tentangnya.
Jangan lupa sedekahnya ya para reader ku yang ku sayang. Berilah kami like, coment, hadiah dan dukungan. Jangan lupakan untuk stay tune di karya kami.
Jangan lupa semangatin authornya dong biar tambah gereget di tiap karya - karyanya. Biarkan karyanya dapat mengguncangkan dunia. Author sangat matur thanks you, jangan lupa ya tinggalkan jejak kalian.
__ADS_1
...Salam hangat dari author...
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹