Dari Aku Yang Hampir Menyerah

Dari Aku Yang Hampir Menyerah
49. Take off


__ADS_3

Pasien banyak kehilangan darah dok, sebaiknya kita melakukan transfusi darah. Seorang suster lainnya memasuki ruangan dan mengabarkan persedian darah telah habis. Tidak jauh dari ruanganku, Abi juga mengalami penyakitnya kambuh lagi sepulang dakwah dari kota P. Aku masih dalam kondisi kritis sedari itu para rumah sakit dibuat geger karenaku. Sementara Nan Luxiao menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Tetesan berwarna merah pekat mengalir dari celah jari - jarinya. Menangis dengan terisak meratapi diriku yang telah lama tak kunjung sadar. Sepertinya dia menyesal. Seorang wanita setengah baya mendengar kabar donor darah, tanpa pikir panjang dia mengiyakan. Saat ini suami nyalah yang paling penting. Wanita itu adalah Umi Nana Aulia istrinya Abi Imam Rosyid, tergesa - gesa ke ruangan dimana tempatku berada.


Saat ini beliau membutuhkan banyak uang untuk pengobatan Abi. Mereka tutup rapat - rapat keberadaan penyakit suaminya takut anaknya terbebani dan sebagainya. Umi adalah wanita sholekhah yang taat pada abi. Umi kesayangan abi dan satu - satunya membuat abi bisa berubah menjadi lebih baik. Beliau melihat dimana pasien yang membutuhkan donor darahnya. Seorang gadis cantik dengan rambut yang terbungkus rapi di balik hijau.


Menutup erat kedua mata indahnya. Semua pertanyaan umi simpan di dalam hati, dan berusaha tenang agar pendonoran berjalan dengan baik. Bibir begetar sambil berdzikir dan melihat ke arahku. Langkahnya dicegah oleh seorang suster untuk memberi ruang dokter. Bunyi suara panjang terdengar cukup jelas dari luar. Umi tak kalah menangisnya di samping laki - laki muda di dekatnya.

__ADS_1


Beliau berfikir aku sedang sibuk makanya tidak menghubungi. Padahal dalam jiwa umi sangat merindu padaku. Entah kenapa, saat berdekatan denganku merasa nyaman. Seorang dokter laki - laki muda membawanya ke sebuah ruangan untuk melakukan pengobatan. Darahnya hampir mengering, seberapa lama dia menahan ini semua. Sedangkan Nan Luxiao tidak menanggapi dia terlalu terluka pada hatinya.


Meminta segera mengobati luka di tangannya. Tak jauh Aisyah dan kakak keduanya mendekati umi yang sedang menangis bersedih. Tapi mengapa umi berada di ruangan kelas atas. Bukankah abi tidak di tempatkan disini, umi yang melihat keberadaan Aisyah langsung memeluk erat. Umi menumpahkan segala kesedihannya tanpa berkata. Mereka menduga sangatlah jauh dan umi hanya menggeleng meski masih tanpa berkata.


Aku tersadar sejenak dari mimpi panjangku. Aku meminta dokter Zaid untuk menuliskan sesuatu, aku sudah menduga beberapa hari yang lalu akan keadaan seperti ini. Aku kira mampu bertahan tapi nyatanya tidak. Aku akan membawa abi, umi, dan aisyah ikut bersamaku. Selain untuk mengobati penyakitku dan penyakit abi. Ada hal lain yang mengancam nyawa seseorang. Yaitu aku dan keluarga abi, aku belum tahu apa motipenya dibalik ini semua.


Jika mereka menginginkanku itu hal yang lumrah, tapi keluarga pesantren tidak ada kaitannya denganku. Maka dari itu membawa mereka jauh dari jangkauan musuh. Aku tidak mengatakan hal tersebut pada mereka, takutnya kewaspadaan mereka akan menurun. Karena ketakutan jauh lebih tinggi dari pada keberanian. Aku akan melindungi semua manusia yang kusayangi dengan sekuat jiwa dan raga.

__ADS_1


.


.


.


Jangan lupa sedekahnya ya para reader ku yang ku sayang. Berilah kami like, coment, hadiah dan dukungan. Jangan lupakan untuk stay tune di karya kami. Jangan lupa semangatin authornya dong biar tambah gereget di tiap karya — karyanya. Biarkan karyanya dapat mengguncangkan dunia. Author sangat matur thanks you, jangan lupa ya tinggalkan jejak kalian.

__ADS_1


Salam hangat dari author



__ADS_2