
...Semua orang...
...Tampak normal sampai...
...Kamu mengenal mereka...
...πΏπΏ...
Dewi berjalan menuju tempatku berada dan menyuruhku menyingkir agar dia bisa duduk berdekatan. Wanita satu ini langsung sigap amat, tahu aja yang tampan. Aku tak terbiasa dengan hal berbau yang baru aku pun mengiyakan saja.
Ku rapikan buku dan menggeser kursi. Saat aku ingin pergi suara dingin dan seraknya mengagetkanku. Tak hanya itu dia dengan aura iblisnya menyuruhku duduk kembali. Aura yang menegangkan membuatku mati saja.
Dewi mencoba memohon dan memasang wajah cantiknya tapi taka da tanggapan. Dia tersepelekan dan memilih melihat ke arah depan. Tepat dimana guru mata pelajaran masuk. Dewi kembali ke habitatnya mendengus dengan teramat kesal.
Aku dengan hati - hati mengupas permen dari kulitnya. Bunyi krusek - krusek pelan sambil ku lirik arah sekitar sepertinya mereka tidak tahu. Aku pun dengan cepat melahap dan munutupnya dengan kedua buku yang besar dan panjang. Dengan tubuh pendekku ini tidak akan ketahuankan, apalagi aku berada paling belakang pojok.
__ADS_1
Sementara tetangga bangku satu mejaku ini menutup sebelah tinganya dengan aerphoon mini. Sebelas dua belas denganku, aku menikamti permen bulan rasa strobery dan susu melekat menjadi satu.
Aku mengeluarkan memasukan berulang kali hingga tak sengaja mengeluarkan suara seperti kecupan. Meskipun tidaklah keras tapi tetanggaku ini sewot menatapku. Aku mengulangi lagi dan kali ini dia cukup kesal dengan ulahku.
.
.
.
.
.
Aku tahu wajahku buruk rupa biarlah saja dia berfikir sama dengan yang lain. Dia kesal dan memintaku membuang permen yang ku makan. Seenaknya saja memerintah, dia tidak tahu siapa aku.
__ADS_1
Karena persaingan sengit itu terjadilah adegan tarik menarik antara aku dengannya. Suara bising terdengar cukup keras dalam ruangan. Sebuah suara menghentikan kami, permen pun patah. Dia membuang gagangnya dengan kesal.
Aku tidak rela karenanya aku tanpa sengaja menelan permen sekecil biji kelengkeng. Nyawaku hampir melayang di tangannya. Tidak bisa di biarkan begitu saja. Mentang - mentang tampan berulah. Oh tidak bisa, aku memainkan kepalaku kekiri ke kanan seperti boneka yang mau lepas dari badannya.
Dia menatapku cukup lama, dengan ekspresi tak terbaca. Aku dapat melihatnya dengan ujung mata tanpa harus menolehkan kepalaku. Banyak tatapan tak suka di tujukan padaku, berbanding sebaliknya menatap kagum padanya.
β Huoaahhhh β¦β aku menguap dengan sebebas - bebasnya di luar kelas.
β Dasar wanita tak tahu malu nguap aja segede gaban, gak di tutupin lagi β cebiknya menyindirku.
Aku tak perduli dengan berbagai ocehannya saat ini. Tubuhku sangat mudah lelah akhir - akhir ini, rasanya aku ingin tidur di sembarang tempat. Bahkan dia menghitung tiap aku menguap katanya lebih dari tujuh belas. Benar dia tidak mengada - ngada aku juga menghitungnya demikian. Aku masih berdiri hingga dua jam mata pelajaran selesai.
Sial, aku benar mengantuk. Ku raba sak kemeja dan jasku tak ada cemilan atau permen satu pun singgah. Dua jam yang membosankan meski di temani laki - laki tampan seperti dirinya. Saking capeknya aku mulai menutup mata bersilang tangan di dada. Beralaskan dinding luar kelas. Aku tidak perduli sekitar, aku tidak mau di ganggu.
Jangan lupa sedekahnya ya para reader ku yang ku sayang. Berilah kami like, coment, hadiah dan dukungan. Jangan lupakan untuk stay tune di karya kami.
__ADS_1
Jangan lupa semangatin authornya dong biar tambah gereget di tiap karya - karyanya. Biarkan karyanya dapat mengguncangkan dunia. Author sangat matur thanks you, jangan lupa ya tinggalkan jejak kalian.
...Salam hangat dari author...