
...Tak Usah sedih ketika kamu selalu di salahkan....
...Ketahuilah, kadang kala bukan kamu yang salah...
...Tetapi karena hatinya yang salah menilaimu...
...🌿🌿...
Tepat sekali aku menjelajahi waktu yang terbilang cukup dekat. Aku berada di tahun dua ribu dua puluh tujuh. Hidup dengan kemajuan dan kecepatan adaptasi teknologi. Terakhir aku masih ingat aku baru berumur lima belas dan masih kelas satu sekolah menengah atas.
Aku termasuk murid termuda dan berprestasi. Aku masuk sekolah karena beasiswa dan ayah memaksaku tetap sekolah. Sudah tahu kelakuanku seperti ini suka membuat onar tapi sepertinya ayah tidak peduli. Aku begini juga ada sebabnya.
__ADS_1
Ibu tiriku sangat kejam, suka bermuka dua. Meskipun aku bagaikan berandalan tapi aku tak pernah menampilkan kehidupan seperti dirinya. Semua tetangga dan saudara ayah telah dicuci otaknya oleh istri janda ayah itu. mereka semua melihatku seperti bangkai yang menjijikkan. Jika aku melintas atau duduk di antara mereka, mereka langsung mengusirku dan berkata kasar.
Suatu hari aku saat itu masih berumur sepuluh tahun, duduk di ruang tengah bersama anak dan adik ipar ayah. Dia memanggil tukang pijit wanita untuk memijitnya. Sedangkan aku disuruh menjaga anaknya yang berumur empat tahun. Saat aku melihat kea rah televisi, ada sesuatu yang panjang menjalar di dinding.
Merayap tanpa suara dan berkali - kali menjulurkan lidahnya ke depan. Aku pun panik dan terkejut. Refleks berteriak mengatakan ular ular ular. Mereka pun bergegas membenahkan diri dan membopong anaknya. Sementara itu meninggalkanku berdiri dengan ketakutan.
Salah satu tetangga rumah kami laki - laki memasuki ruang yang kami temukan ular. Setelah selesai mengevakuasi, dia membuang nya entah kemana. Yang jelas jauh dari pemukiman warga penduduk. Aku biasanya memanggilnya dengan sebutan bulek.
Bulek marah besar dan memukul ku. Aku tidak tahu kenapa, apa salahku. Apa karena aku berteriak ular dan membuat si kecil menangis. Tapi bulek tak berhenti memukulku dengan tangannya ke tubuhku. Aku hanya menangis dalam diam dan meminta ampun agar dia menyudahinya.
Memeluk guling dengan erat membenamkan wajah dan menutupinya dengan rambut panjangku. Pertama masuk aku sangat hafal yang pertama kali dicari kakek adalah diriku. Sebab itu aku berada di kasur biar kakek mengira aku tidur siang sepulang sekolah.
__ADS_1
Dulu sewaktu aku masih sekolah di taman kanak - kanak, aku selalu dapat amarah ayah. Ayah kerap memukul dan juga menjeglukkan kepalaku ke depan berkali - kali. Dia sangat marah karena di malam hari aku tak mengerjakan tugas PR dari bu guru.
Dan di pagi inilah, aku di cecar oleh ayahku dan juga ada kalanya aku tak bisa menjawab soal. Ayah akan memukul punggungku dengan tangannya. Seandainya mereka tahu aku itu tidak bisa matematika. Otakku sangat dangkal untuk berhitung. Apakah dia akan menerima kekurangan ku.
Hingga suara kakek menghentikan layang tangan ayah dan berganti memarahinya untukku. Kakek akhirnya membantu ku berhitung sambil mengusap punggung yang sakit. Aku tak mau mengeluh aku takut kakek bersedih. Tanpa kuberi tahu kakek pasti sudah sedih. Aku menguatkan diriku di antar kakek dengan sepeda ontel tuanya ke sekolah.
Aku sempat bersedih melihat teman - temanku yang lain di antar orang tuanya dengan memakai motor. Di zaman kecilku motor tidaklak banyak yang punya. Punya sepeda ontel tua sudah membuat orang desa bersyukur.
Jangan lupa sedekahnya ya para reader ku yang ku sayang. Berilah kami like, coment, hadiah dan dukungan. Jangan lupakan untuk stay tune di karya kami.
Jangan lupa semangatin authornya dong biar tambah gereget di tiap karya - karyanya. Biarkan karyanya dapat mengguncangkan dunia. Author sangat matur thanks you, jangan lupa ya tinggalkan jejak kalian.
__ADS_1
...Salam hangat dari author...
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹