
...Di terima apa adanya...
...Tanpa harus berpura β pura...
...Menjadi orang lain...
...Itu amatlah indah....
...πΏπΏ...
Aku duduk dengan kursi berhadapan dengannya. Tatapan pias dan dingin, tangan bersilang di depan dada. Kaki kanan terangkat ke atas menyilang juga. Dalam diam dia cukup lama menatapku. Sebenarnya kenapa dia mengajak ku kemari. Apa dia ingin aku melihatnya makan, seperti yang pernah membulli ku.
Apa kejadian ini akan terulang kembali sama dengan sebelum - sebelumnya. Tidak kali ini, jika dia berulah aku juga tidak akan tinggal diam. Apa, kenapa dia hanya diam saja. Apa dia tidak tahu maksudku membawanya kemari. Apa harus aku yang mulai duluan berkata.
Aku menyuruhnya menghabiskan makan yang ku bawa untuknya. Aku tahu pasti dia tidak sarapan, dan masih takut berada di kantin. Dia terlalu rajin masuk pagi sebelum gerbang terbuka. Katanya dia ingin ada ekstra tambahan tapi aku belum tahu itu apa.
β Apa yang ingin ku lakukan, membersihkannya ?! β sejenak aku kembali menatap hidangan makanan dan juga berbagai lauk di meja sepetak.
__ADS_1
β Makanlah β¦! β perintahnya padaku.
β Kamu mau aku menghabiskan makanannya, yakin ?β aku tak percaya tetangga sebangku ku sebaik ini. Aku sedikit curiga.
β Ada apa dengan mu ?β aku memicingkan mataku.
β Pembuangan sampah. Aku selalu harus membuang sisa makanan β ku pikir itu kata yang cocok.
β Oh, ku pikir karena permintaan maafmu karena tadi. Membalasku dengan memberiku makanan ini β tidak ku sangka dia bisa bermulut pedas.
Sudahlah nanti saja, aku melihat kembali tikus kecil dengan kalapnya makan. Bahkan belepotan seperti anak kecil, sungguh menggemaskan di lihat. Aku ingin tertawa ngakak karenanya. Semua itu ku urungkan dengan banyak makanan penuh di mulutnya dia melihat ke arah ku.
Aku menemani bunda membeli alat make up, tak jauh dari kami hanya lewat satu sekat. Aku melihat wajah gadis cupu ini hampir mirip dengan. Ucapan batinku terjeda saat aku mencoba dan melakukan pembuktian. Apa yang aku lihat tidaklah salah. Aku tergagap melihatnya yang benar saja tebakanku salah.
Aku melihat matanya sama seperti yang ku lihat kemarin. Hanya saja rambut gadis kemarin panjang berwarna hitam pekat dan berombak. Sementara ini terikat dan berikal semua.
Kunyahan ku berhenti sejenak, diam tak tergerak. Aku menatapnya dan dia juga menatapku hanya saja aku kaget melihat tingkahnya.
__ADS_1
Dia melepas kacamata yang ku pakai, terpaku dan terdiam tanpa kata. Glukk, menelan semua makananku dengan tatapan bingung. Bukankah dia yang membuatku berlarian di mall. Dan membuatku mencium om tampan yang mesum.
Apa jangan - jangan dia mencurigai aku adalah orang yang sama. Tapi kan tidak mungkin aku sudah merenovasi keseluruhan tampilan gaya dan cara bicaraku. Apa yang dia lihat lagi, rasanya ingin berlari saja dari sini. Jangan sampai dia tahu kebenarannya.
.
.
.
.
Aku mencoba mengalihkan fokusnya pada makanan yang saat ini ku ratakan menjadi satu. Aku memasukkan dalam satu wadah makanan dan mengocokknya seperti anak kecil yang ingin tahu isi kotak hadiah sebagai penentu. Apakah berisi uang koin atau seperti mainan kecil lainnya.
Aku tersenyum tipis padanya tapi yang ku dapat wajah datarnya. Aku terlalu antusias menikmati makanan yang di bawanya. Sampai melupakan pemberinya. Dan benar saja ciptaan mahakarya campuranku memang tak terkalahkan. Sudah ku bilang ini makanan enak, dengan entengnya makanan sisa tidaklah mungkin enak.
...Jangan lupa sedekahnya ya para reader ku yang ku sayang. Berilah kami like, coment, hadiah dan dukungan. Jangan lupakan untuk stay tune di karya kami....
__ADS_1
...Jangan lupa semangatin authornya dong biar tambah gereget di tiap karya - karyanya. Biarkan karyanya dapat mengguncangkan dunia. Author sangat matur thanks you, jangan lupa ya tinggalkan jejak kalian....
...Salam hangat dari author...