
Hari ini aku akan telah ada janji dengan klienku, penawaran harga cocoklah bahkan aku yakin akan kejujurannya dalam hal ini. Aku sudah melihat riwayat kehidupan semua tentang klienku. Pantas tidaknya untuk ku bantu, jika dia sanggup akan konsekuensi.
Aku akan datang dengan senang hati. Semua urusan telah tersedia cukup rapi, dia mengajak ku datang ke café di jalan yang jauh dari kediamanku. Aku hanya mengenakan hudie kebesaran, celana panjang ketat dan tas selempang biasa. Aku tak mau jadi sorotan, jadi aku hanya memakai topi hitam dan masker dengan warna hitam.
Sedangkan dia memakai pakaian tadi, aku yakin dia buru - buru menemuiku setelah kepulangan kerjanya. Setelah mengetahui kedatanganku dia membawaku ke ruangan vvip. Ku tolak, aku tak ingin buang - buang waktu banyak berbasa basi yang sekiranya banyak kata.
Dia mengetahui arah tatapan mata tajamku, meletakkan sebuah berkas dalam tas hitam miliknya. Deal, dia berharap akan membawa keberhasilan tidak terduga untuknya. ku habiskan minumanku dan keluar mendapati asistenku, aku melemparkan berkas ke arahnya. Berjalan masuk ke mobil taksi yang telah ku pesan sepuluh menit yang lalu.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Aku berhenti di salah satu mall terbesar dan terlengkap. Aku pun masuk melihat kesana kemari banyak tiap dagangan yang mereka jual. Aku berhenti di salah satu toko kecantikan, aku berjalan melihat kesekian kalinya mencari produk yang ku gemari.
Aku oleskan sedikit pada bibirku dan merapatkan sejenak. Aku sangat puas, dan memilih beberapa alat make up lainnya. Tak jauh dari sana, aku melihat tetangga sebangku ku berjalan dengan wanita seperti tante - tante. Aku melihat dia sangat manja padanya, dan bergandengan layak sebagai pasang kekasih. Dia mendekat oh tidak, jangan sampai dia melihatku dimana.
Aku merogoh masker dalam tas kecilku tapi tak ku temukan. Aku berusaha menghindarinya hingga suara kasir mengejutkanku untuk memindai pembayaran. Dia melihat, jantungku tidak aman.
Aku segera berlari menjauh darinya dengan berteriak memanggil namaku. Aku kelabak kakinya terlalu panjang dibandingkan milikku. Aku sudah tidak sanggup berlari jauh, aku masih tidak menyerah.
Dia berusaha melepaskan pelukanku, tapi aku tak mau kalah darinya. Aku takut tetangga sebangku ku mengenaliku. Suaranya masih terdengar kini malah mendekat. Aku langsung melingkarkan ke dua kakiku pada pinggangnya.
Dia berontak membuatku turun, belum sempat terlepas aku naik sedikit lagi. Hingga ada adegan kami seperti sedang melakukan hubungan terlarang. Dia bahkan mengatakan jijik padaku, aku melihat bayangannya tak jauh dari kami.
Aku langsung membungkamnya dengan bibirku yang seksi ini. Dia mematung, melepaskan berontaknya. Aku juga tak mau kalah, jangan sampai dia melihatku. Sepertinya dia menikmati permainanku. Dia akhirnya membalas meskipun kaku.
.
__ADS_1
.
.
.
.
Aku terlalu aktif dalam gendongannya, seperti wanita lapar akan belaian. Dia melihat ke arah kami dan berlalu begitu saja. Yes, aku berhasil dia tidak lagi mengejarku. Aku mematung dengan kelakuan kami. Aku tak sadar, dia masih bermain dengan bibirku.
Dasar om mesum, aku pun melompat dari badannya setelah menggigit bibir bawahnya. Siapa suruh mesum padaku, aku meminta maaf akan kejadian tadi. Dan membayarnya dengan uang seratusan yang berjumlah enam lembar. Dia menolak dan memintaku untuk bertanggung jawab padanya.
...Jangan lupa sedekahnya ya para reader ku yang ku sayang. Berilah kami like, coment, hadiah dan dukungan. Jangan lupakan untuk stay tune di karya kami....
...Jangan lupa semangatin authornya dong biar tambah gereget di tiap karya - karyanya. Biarkan karyanya dapat mengguncangkan dunia. Author sangat matur thanks you, jangan lupa ya tinggalkan jejak kalian....
...Salam hangat dari author...
__ADS_1