
Jika boleh bicara, dia sudah lelah mengingatkan ayah kandungnya. Dia sudah besar bukan anak kecil lagi. Dia ingin kebebasan bukan kekangan. Bebas bukan berarti hidup sebebas - bebasnya semaunya sendiri. Dia ingin hidup layak dan normal, bukan seperti burung dalam sangkar.
Tapi jangankan mendengarkan suara hati anaknya, tapi dengan tidak sabaran. Memukul, menjambak dan juga meneriakki umpatan kata - kata pedas. Luka batin dan fisik yang di deritanya membuat hari kian terpuruk.
Setelah terbangun akan tidur singkatnya, bisakah dunia menyapa dengan halus dan senyum. Teriakan dan hinaan di lontarkan oleh kedua orang tua yang hampir berumur setengah abat. Menggedor pintu kamar dengan kerasnya di pagi hari dan mencela mengumpat segala aktifitasnya dengan buruk.
Apakah mereka tidak berfikir bahwa yang dikatai dan perlakukan tak baik itu adalah anak kandung mereka. Setiap hari melakukan aktifitas seperti layaknya manusia normal. Hanya saja setiap apa yang dilakukan olehnya selalu mendapatkan hinaan tiada berhenti.
Jika ada yang salah, maka ajarilah dengan benar bukan mencaci dan bermain fisik. Dalam rumah tangga kekerasan fisik itu tidaklah di benarkan. Sampai membuat keributan setiap hari, itu bukan yang dia inginkan. Mungkin kedua orang tuanya lah yang tidak bisa menerima kekurangan sang anak. Jelas - jelas sudah tahu tidak bisa apa - apa, mana ada kalnyaa kebaikan sedikit. Mereka sikapi dengan di luar nalar.
__ADS_1
Tidak ada yang bisa di banggakan, percuma saja lebih baik tidak usah memakai pakaian seperti ini. Dasar tidak punya otak, pembuat masalah. Bahkan adakalanya dia disamakan dengan binatang. Untuk sekedar mengisi sesuap nasi pun, dia harus rela menunggu sampai kedua orang tuanya selesai makan.
Di kamar sepetak itu, dia merebahkan tubuhnya. Merehatkan sejenak dan meletakkan beban dunia. Sungguh dirinya tak sanggup tapi mengapa tuhan yakin dengan pundaknya. Pada kenyataannya dia tak sekuat itu. jam menunjukkan pukul setengah sepuluh malam.
Matanya masih sama meringkuk diam di bawah selimut garis - garis. Dia menginginkan perutnya terisi, semenjak kepulangannya sekolah sore. Dia berharap ibu tirinya itu tidak pulang ke rumah. Biarkan dia menginap berhari - hari dirumah ibu mertuanya itu. nenek telah tiada sebelum ayah menikah lagi.
Hanya ada kakek yang ku bisa andalkan. Meski telah tua, tapi beliau sosok yang sangat aku sayangi. Melebihi diriku, mengingat kembali beliau selalu berada di garda depan membantuku. Dalam masalah apapun, kakek tak pernah bermain kasar dan mengangkat tangan.
Hingga umurku yang ke Sembilan, beliau benar - benar pergi dari dunia ini. Meninggalkan kami, dia hanya diam saat melihat sekujur tubuh tak berdaya. Di malam pertama takbir idul fitri, dia pun memberi nasihat dan memperingati adik - adik kecil. Untuk tidak menabuh gendering dan juga dengtur keras - keras. Entah kenapa dia tidak suka dan dirinya merasa tidak nyaman seperti akan terjadi sesuatu yang besar nantinya.
__ADS_1
Di rumah tua, kakek berkumpul seluruh keluarga. Mereka menangis dan beberapa kali di tuntun untuk selalu menyebut nama tuhan. Dia panic saat tahu bibi kecil dari ayah beberapa kali pingsan. Melihat kakek dalam keadaan seperti itu. mereka mengelilingi beliau.
Dia tak bisa menangis, hatinya kata orang bagaikan batu. Melihat sekitar menangis tak terbendung sementara dirinya tidak. Dia hanya melihat dari jauh kerumunan, tak berani mendekat. Sebenarnya dia tak kalah terpukul akan kehilangan kakeknya. Satu - satunya orang yang dekat dan menyangi dan membelanya kini telah berpulang.
Dia tidak tahu harus bagaimana dia bersikap. Ingin menangis tapi tak bisa air mata tak mau keluar setetespun. Dia diam membisu, bibir kecilnya terkatup rapat menutup dengan erat. Gemetaran dia mulai mencoba mendekat. Dia melihat tatapan kea rah kakeknya. Dia ingin menolong, dia tahu saat itu sang kakek kesusahan.
Dalam dunia lain kakeknya pasti seperti cerita dal buku - buku yang pernah dia baca. Beliau dihadapkan dengan keadaan tidak mudah. Tangan kecilnya menggenggam erat tangan panjang nan kering itu. Bahkan saking lamanya menderita sakit membuat kulit bersatu dengan tulang. Tabir daging bagaikan kain yang amat tipis.
Mata yang sayu membola tiada berkedip, rontaan jerat rintih hanya menggeser. Nafasnya memburu dan beberapa teriakan rontaan. Dalam kondisi ini disebut naza.
__ADS_1
Jangan lupa sedekahnya ya para reader ku yang ku sayang. Berilah kami like, coment, hadiah dan dukungan. Jangan lupakan untuk stay tune di karya kami.
Jangan lupa semangatin authornya dong biar tambah gereget di tiap karya - karyanya. Biarkan karyanya dapat mengguncangkan dunia. Author sangat matur thanks you, jangan lupa ya tinggalkan jejak kalian.