
Ku kira mommy Bei Zijin seperti cerita - cerita yang pernah kubaca. Beliau tidak bertanya macam - macam padaku tapi justru berteriak tak kalah kencangnya. Seperti tadi memanggil anak kesayangannya dengan sebutan Baby Zi. Disebut namanya dengan teriakan Bei Zijin dia langsung gelagapan dan berlari menuju lantai atas dimana aku berada. Jelaskan pada mommy ini apa ha ?.
Kau membawa perempuan tanpa sepengetahuan mommy dan daddy. Dasar anak kurang ajar ada udang dibalik kamar. Belum terjawab, beliau berbalik ke arahku. Mengitariku dari atas sampai bawah. Memindai dengan kedua matanya mencari sesuatu. Suasana ini membuatku mati kutu. Aku masih setia memegang kendali dimana mukena atasan masih terpasang dengan sempurna.
Gawat, … Gawat, … Gawat, …
Aku berlari kencang dengan cepat dimana tikus kecil sedang beribadah di kamar ku. Saking terlena membuka hadiah yang dibawa daddy dan juga kepo dengan paman. Membuatku terlupa dengan keberadaan tikus kecil. Sementara yang ku takuti mereka tidak berada di kamar atas, lalu di mana mommy membawanya. Jangan - jangan mengusirnya karena wajahnya yang buruk rupa melewati pintu belakang.
Segala penjuru aku telusuri bak orang kesetanan kehilangan sesuatu. Tapi aku juga tidak menemukan mommy, atau jangan - jangan habislah tikus kecil. Daddy dan paman bingung mengikuti ku berlarian kayak anak kecil. Memainkan petak umpet dengan seseorang, mereka menyerah tidak lagi mengikutiku. Tak jauh dari kami, dua insan bercanda ria memeluk wanita cantik di samping mommy. Siapakah dia ?
Aku ingin melepas atasan tapi dicegah olehnya. Aku melihat beliau keluar dan kembali lagi membawa gamis seperti milik kakak. Hanya saja ini tidak terlalu lebar tapi cukup menutupi. Beliau tidak banyak bicara sama halnya dengan Bei Zijin menurun dari mommy. Beliau tersenyum ramah dan memujiku sekilas.
__ADS_1
Meninggikanku lalu menghempaskan kembali, beliau menganggapku sebagai pacar putranya.
Selama ini Bei Zijin tidak pernah sekalipun membawa teman sekolahnya. Dan ini pertama kalinya seorang wanita sepertiku. Beliau mengajakku ke dapur dimana ingin mengetahui seberapa bakatnya aku. Dalam mengisi perut kosong anak kesayangannya kelak jika sudah menikah denganku. Ingin ku jawab bantahan tapi aku juga tidak tegaan. Aku harus bagaimana ? Aku menyeimbangi langkah beliau dalam berjalan menggandengku penuh semangat.
Setelah mendengar penuturanku bibi kepala pelayan pergi dari tempatnya meninggalkan kami berdua. Aku sudah memasak makanan banyak untuknya, tapi beliau masih tidak percaya. Melihat sajian terhidang cukup cantik dan rapi. Beliau menantangiku untuk membuat sup ikan koi seperti makanan di resto. Beliau tidak mau tahu pokoknya aku harus bisa, calon menantu tidak boleh manja.
Haduh, Bei Zijin awas kamu ya …! Pekikku dalam hati. Ini baru pertama kalinya aku memasak sup, jadi aku bermodalkan ponsel dan tekad untuk menyenangkan mommy. Tidaklah sulit tapi harus cukup jeli dengan tingkat kematangan sempurna tidak overcook dan tidak wondercook.
Sesuap beliau seperti juri pertama kali untukku. Aku cukup lama tidak memasak, dulu saat tinggal bersama ayah. Aku sering memasak untuk keluarga barunya. Tanpa ayah sadari akulah dibalik makanan nikmat yang sering tersaji di atas sana. Tapi ayah dengan bangganya membela istri janda barunya yang memasak.
Dan mustahil gadis kecil sepertiku bisa sehebat itu aku tidaklah berpengalaman. Bahkan aku juga hanya mencicipi sedikit hasil makananku. Tanpa memperbolehkan aku duduk makan di kursi bersama. Malangnya aku …
__ADS_1
.
.
.
.
Jangan lupa sedekahnya ya para reader ku yang ku sayang. Berilah kami like, coment, hadiah dan dukungan. Jangan lupakan untuk stay tune di karya kami. Jangan lupa semangatin authornya dong biar tambah gereget di tiap karya — karyanya. Biarkan karyanya dapat mengguncangkan dunia. Author sangat matur thanks you, jangan lupa ya tinggalkan jejak kalian.
Salam hangat dari author
__ADS_1