
Whaat, ini tidak seperi ku bayangkan. Dia gila atau apa, audisinya besok. Sial kenapa jadi pelupa sih. Bakat, bakat aku harus tampil apa. Aku sih bisa berjoget tapi masak iya. Aku rasa bukan veshenku, kecantikan ah yang benar saja. Jika aku mengikuti bukankah mereka akan mengenaliku sebagai “ Tak Tersentuh ”.
Bukan hanya itu aku ingin tertawa keras meninju tembok melihat reaksi mereka. Yang hina tak selamanya hina, dan yang puji tak selamanya akan di puji. Bagaimana jadinya sampah yang mereka buang dan selalu menjadi sasaran bulanan diam - diam tanpa mereka sadari fans beratku. Ckk ..., memang dunia terbalik.
Karena besok adalah hari di tetapkannya audisi. Seluruh siswa di himbau belajar di rumah. Setelah jam mata pelajaran kedua selesai. Sementara siwa yang menjadi panitia di harapkan kumpul dan mempersiapkan acara besok. Aku berdiam diri sambil menunggu sopir rumah datang.
Aku pulang setelah semua penghuni berkurang banyak. Mobil Kijang berwarna putih berhenti tepat di depanku. Pak Danu sopir pribadi papa hari ini di tugaskan untuk menjemputku. Karena papa belum mengizinkan aku menaikinya sendiri.
__ADS_1
Takut aku kenapa - kenapa lagi. Aku menghentikan pak Danu membukakan pintu, biarkan aku bisa sendiri. Dia hanya mengangguk, setelah benar - benar aku duduk dengan nyaman. Mobil bergerak perlahan menjauh dari gerbang sekolah.
Aku mengucapkan salam memasuki rumah sebagaimana yang mereka ajarkan kepadaku. Mencium telapak tangan sebagai tanda baktiku. Aku tak mendapati papa hanya kakak yang duduk santai menonton televisi. Kakak paham aku sedang mau apa, tebakannya benar aku sedang mencari mama.
Ternyata mama sedang membuat pudding dan beberapa kue untuk kami. Meskipun mama adalah nyonya tapi mama tak gengsi membuatkan kami ini semua. Meski kami memiliki banyak pelayan dan koki, tapi aku akui buatan mama tak ada tandingannya. Mama suka coba - coba hal baru, kreatif mama dalam memasak patut di acungi jempol.
Setelah berganti pakaian aku mendekati mama dan memeluknya dari belakang. Aku terkikik mana kala mama selalu menggodaku. Tikus kecil makanannya banyak. Iiihhh mama …. rajukku.
__ADS_1
Mata berbinar melihat kilauan cahaya makanan tersaji rapi dalam wadah yang tepat. Satu sendok berhasil membuatku tersenyum tanpa kata. Aha aku ada ide, karena mama banyak masakan. Aku ingin merivew dan menyajikan dalam kontenku. Tampilannya tak kalah dengan hidangan restoran bintang lima.
Siapa tahu, aku bisa buat bisnis ya meskipun aku tetap mengandalkan mama sebagai koki utamanya. Mama tak risau mana kala anak keduanya meminta banyak makan. Karena banyaknya makan tetap saja membuatnya tak berdaging. Intinya mama senang ketika aku kembali berdekatan dengan mama setelah peristiwa di pagi hari.
Aku kembali ke singgasana ku berada. Dan memeriksa pesanan yang ku inginkan pada mama. Beberapa rak dorong membawa beberapa hidangan melewati kakak yang duduk di ruang keluarga. Kakak ku curiga dengan semua banyak makan masuk ke kamarku. Dia mengangguk pelan setelah pelayan pergi.
Bergantian kakak yang mendorong untuk terakhir. Aku sudah siap dengan kotenku kali ini, dengan dandanan khasku. Selalu memakai topeng sebagai alat penyamaran. Di depan layar yang menyala banyak penonton menungguku untuk segera memulainya. Mereka penasaran, kali ini akun “ Tak Tersentuh ” akan menyajikan tayangan apa ya.
__ADS_1