Dari Aku Yang Hampir Menyerah

Dari Aku Yang Hampir Menyerah
45. Habislah...


__ADS_3

Masih setengah jam, di akhir masak tikus kecil membuat pudding kesukaanku dan mommy rasa coklat. Dan juga beberapa salat buah, baik untuk kesehatan. Tak lama, alarm ponselku berbunyi menandakan pengingat waktu untuk segera menunaikan ibadah sholat. Di rumah ini hanya bibi kepala pelayan saja yang muslim sepertiku. Aku berminat meminjam mukena tapi dicegah oleh Bei Zijin.


Dia melemparkan tas kecil yang menggelembung beserta sajadah mini. Dan memberiku kamarnya sebagai tempat untukku sholat. Aku hanya mengiyakan dan mengekor menuju kamar mandi mengambil air wudhu. Sebelum ritual perutku melilit diare karena tadi pagi bersemangat makan soto bibi. Tidak bisa di tahan, jika sudah berbau kamar mandi aku selalu dibuat betah tidak boleh pergi.


Aku membersihkan semua anggota lengkap dari awaluha hingga akhiriha. Semua sesuai syariat islam, aku juga menyapu bersih semua makeup yang mendarah daging pada wajahku. Begitu sejuk dan segarnya, sebenarnya aku ingin mandi sebelum sholat. Mengingat ajakan dadakan Bei Zijin membuatku lupa segalanya. Sudahlah hanya sebentar dan menemani orang tuanya saja tidak masalah.

__ADS_1


Menuju sebuah ponsel dimana nama kakak lagi yang muncul segede pucuk kelingking memenuhi layar. Setelah memastikan baik keadaanku dan juga niatku baik, kakak menyetujuinya dan setelah selesai memintaku segera pulang tidak boleh melimpir kemana - mana. Kakak yang begitu pengertian. Aku pun menyudahi panggilan dan melaksanakan sembahyang dengan khusyuk.


Beberapa pengajaran mama dan kakak membekas dihatiku. Seakan aku dituntun dengan sendirinya. Aku merasa sedikit demi sedikit aku dapat mengingat kenangan. Tentang pemilik sosok tubuh yang ku tempati. Tidaklah lama beberapa menit saja, aku menerapkan dzikir singkat. Ini bukan rumahku dan disini aku menumpang sebagai teman. Aku belum tahu agama Bei Zijin aku menghargai perbedaan di antara kami.


Saat aku berdoa suara wanita tengah baya menggelegar seisi rumah. Aku juga mendengar suara pintu berdecit, apakah ada yang datang kemari. Tinggal melepas mukena bagian atas ditahan seseorang. Dia adalah Nyonya besar sekaligus ibunya Bei Zijin. Dia menatapku penuh selidik, apalagi menatapku menggunakan atasan mukena dan juga berada di kamar anaknya. Habislah aku …?

__ADS_1


Waktu adalah uang tapi sekarang aku lihat dia bersantai diri sambil melihat beberapa postingan seseorang. Jiwa kepoku muncul, aku melihat wanita cantik berada di layar ponsel miliknya. Apa itu pacar paman yang selama ini identitasnya di sembunyikan dari kami. Sekelebat, aku ingin memastikan wanita itu seperti yang ku temui di Mall. Apa dia takut kalah saing takut kekasihnya berpindah padaku.


Jangan lupa sedekahnya ya para reader ku yang ku sayang. Berilah kami like, coment, hadiah dan dukungan. Jangan lupakan untuk stay tune di karya kami. Jangan lupa semangatin authornya dong biar tambah gereget di tiap karya — karyanya. Biarkan karyanya dapat mengguncangkan dunia. Author sangat matur thanks you, jangan lupa ya tinggalkan jejak kalian.


...Salam hangat dari author...

__ADS_1


note :


semoga kebaikan selalu bersama mengiringi langkah kita dimanapun berada


__ADS_2