
"Kalian kenapa ribut? seperti anak kecil saja" ucap Rina dengan nada tinggi.
Keduanya diam, Flander tak ingin terjadi pertengkaran antara mereka, apalagi ada Nenek mereka harus menjaga perasaan Nenek.
"Maaf Rin, aku hanya sedikit memberinya peringatan" ucap Roy.
"Aku bingung kalian berdua memang susah akur, tapi kalian harus paham, ada Nenek disini"
Flander tak menjawabnya, Ia hanya diam saja.
"Ayo, minumlah" Rina hidangkan kopi hangat untuk mereka berdua.
Flander dan Roy saling memandang antara satu dengan yang lain.
"Aku tak ingin melihat kalian bertengkar lagi" ucap Rina
Kopi sudah dihabiskan Roy, Ia melirik di sebuah cangkir yang ada di sebelahnya masih penuh dan utuh.
"Sayang, tambahkan secangkir kopi lagi, sepertinya ada yang kehausan"Ucap Flander
" Keterlaluan kamu! "ucap Roy kesal
Rina membawa secangkir kopi, Ia bingung untuk siapa kopi itu.
"Mas, kopi mu tidak di minum? mengapa di suruh nambah? "
Flander mengambil kopi itu dan menaruhnya di depan Roy.
"Ia kehausan" ucap Flander
"Sungguh kamu membuatku marah" Roy menggelengkan kepalanya tak mengerti.
Setelah selesai minum, keduanya diam tampah bicara.
"Ayo, kita pulang" ngajak Roy
"Aku tetap disini, ini rumahku" jawab Flander
"Dasar Pria tidak bertanggung jawab"
"Kamu kalau ingin pulang ya pulang saja, jangan membuatku marah, nanti kamu pulang bawa benjolan"
"Rin, Nek, Aku pamit pulang ya"
"Nak Roy semua masakan sudah siap, ayolah makan dulu"
Roy merasa tak enak Ia kasian sama Nenek yang selalu menyiapkan makanan setiap kali Ia datang.
"Nek, maaf aku lain kali saja, aku banyak kerja dan harus pulang sekarang"
"Nak Roy makanlah sebentar, Nenek tahu kalian berdua bertengkar terus dari tadi, tapi itu bukan alasan untuk tidak mau makan"
Roy pun duduk untuk makan bersama dengan Flander.
__ADS_1
Ia menatap Flander dengan kesal.
"Roy, makanlah yang banyak kamu sudah capek mengurus ku dan membantu aku, terimakasih Roy"
Flander melirik ke arah Rina, tatapannya seolah tak suka dengan ucapan Rina.
"Sama sama Rin, aku akan selalu ada saat kamu membutuhkannya" jawab Roy.
Flander memandang Roy dengan tatapan tajam.
Mereka melanjutkan makan sampai habis.
Setelah itu Roy pamit pulang
"Rina, Nenek terimakasih ya aku pamit pulang"
"Ia Nak,terimakasih juga sudah membantu Nak Rina"
"Ia Nek segera beritahu aku jika sangat membutuhkan bantuan"
"Tidak mereka tidak membutuhkan Mu" Flander menjawab Roy
Nenek mengerti dengan kedua anak itu, Ia sudah terbiasa dan paham dengan anak muda seperti mereka.
"Nak Flander, Roy anak baik mungkin Ia tak suka karena Nak Flander membiarkan Rina sendirian, Nenek melihatnya Ia sepertinya sangat peduli pada Nak Rina"
"Nenek percaya padanya? "
"Nenek tak tahu maksud kalian tapi menurut nenek Roy anak yang baik, tak apa apa jika Ia sekali sekali membantu Istri mu kan? "
Nenek memberitahukan soal kejadian hari hari kemarin saat Roy datang ke rumah ingin mengetahui kabarnya Rina.
Wajah Flander berubah setelah mendengar cerita nenek, kelihatannya Ia tak suka sama Roy.
"Nek, Aku tak suka jika perbuatan Roy berlebihan seperti itu"
"Nak, mungkin itu niat baiknya Nak Roy, jangan berpikir yang bukan bukan"
"Rina" Panggil Flander
"Aku mau ngomong sebentar sama kamu"
"Kenapa lagi? Ayo istirahat! kamu kecapaian "
"Kamu tuli ya? Aku bilang kamu ke sini sebentar"
Rina pun pergi ke depan ruang tamu, Flander melihatnya dengan raut wajah marah.
"Flander, kamu jangan terlalu berpikir yang macam macam, aku sama Roy tak ada apa apa"
"Kamu diam! aku tak suka kalau aku belum ngomong jangan bantah dulu"
Rina pun diam Ia takut sama suaminya itu.
__ADS_1
"Kamu ingin membalas aku? "
"Mas, apa maksud kamu? "
"Aku bilang kamu diam! "
Nenek menasihati Rina, agar tidak usah menanggapinya. karena Flander sedang marah sebaiknya kita sebagai wanita diam saja dulu. Nanti bikin masalahnya tambah panjang jika tidak mengalah antara satu dengan yang lain.
"Kamu bisa bisanya lembek begitu sama laki laki lain yang bukan siapa siapanya kamu"
Flander sangat marah dan nadanya sangat tinggi. Pipi yang begitu merona dan mata yang sangat mungil akhirnya basah. tangis Rina sangat sedih sepertinya Ia tak sanggup lagi menjelaskan kepada Flander.
"Kamu mengapa nangis? Aku tidak memukul mu"
Rina ngambek tak mau menanggapi suaminya.
Flander pun memeluk erat tubuh sang istri.
Rina mengelakkan tangan sang suami. Ia tak ingin di peluk. Namun pelukan itu semakin kuat dan erat, Rina tak sanggup menahannya karena tubuh Flander nampak kuat menempel dengan tubuhnya.
"Aku tak mau dipeluk" Rina ngambek, air matanya membasahi pipi.
"Mengapa? kamu tak suka aku berbicara seperti itu? "
"Terserah! aku tak mau dipeluk aku ingin sendirian"
"Kamu tak merindukan ku? " tanya Flander
"Aku tidak berhak merindukan siapa pun meski Ia adalah suamiku, mungkin sekarang Ia di sisiku tapi aku tak tahu akan hari esok mungkin Ia bersama pelukan yang lain"
"Jaga bicara Mu Rina! apakah kau ingin di sakiti?"
" sudah, aku memang selalu tersakiti, apa yang membuatku bahagia, ternyata aku salah dan itu membuat orang lain tersakiti"
"Maksud kamu Roy? " tanya Flander.
"Kenapa memangnya kalau Roy? "
"Sudah ku duga, kamu pasti sangat tertarik padanya karena Ia selalu memperhatikan kamu saat aku tak ada di sini? Ia? " Tanya Flander sambil menekan kuat mulut Rina.
Rina tak bisa bicara apa apa, air mata yang bisa menjawab sakitnya.
"Ayo kamu jawab aku! kamu tak bisa menjawabnya? Roy spesial buat kamu? " Flander melepas tangannya.
"Kamu seharusnya bersyukur, ada orang yang membantu istri mu, bukan malah berpikir yang bukan bukan seperti ini, lagian kamu sebenarnya sadar bagaimana jika kamu seorang suami apakah membiarkan istrinya begitu saja seperti ini, kamu tak malu? ada laki laki lain yang rasa simpatiknya lebih dari kamu? Karena apa? karena Ia kasihan, Ia peduli di tinggal pergi suami di singkirkan dari keluarga. sebenarnya kamu yang salah atau aku? " tanya Rina dengan nada tinggi.
"Oh ya begitu, kalau aku tahu begini jadinya, aku tidak usah buang buang waktu untuk datang ke sini"
"Kamu egois Mas, aku sedang mengandung anak mu dan bagaimana jika nanti Ia datang? kamu tidak berubah. Perusahan yang selalu di utamakan. Aku sungguh tidak mengerti dengan mu"
" Sampai kapan pun kamu tetap tidak mengerti dengan ku, karena ada orang lain yang lebih ngertiin kamu" Ucap Flander
Rina terdiam, tak tahu apa yang harus di jelaskan lagi kepada suaminya.
__ADS_1
Roy yang jadi bahan pertengkaran mereka, padahal tak ada hubungan apa apa antara Rina dan Roy.
Mungkin karena Flander jarang menjenguk Rina, hal itu yang membuatnya gampang cemburu.