Derita Dalam Cinta

Derita Dalam Cinta
menanti kelahiran


__ADS_3

Sudah sangat lama Flander tak menemui Rina lagi, hal itu membuat Rina sangat gelisah dan pikirannya pun kacau.


Dua bulan menunggu kedatangan suaminya tapi tak kunjung datang padahal tinggal tunggu beberapa minggu saja Ia akan segera melahirkan.


Sembari menatap keindahan luar rumah sambil mengelus perutnya yang semakin membesar itu kelihatannya Ia sangat sedih.


"Berapa lama lagi aku menunggu, kerjaku hanyalah menunggu dengan tidak kepastian seperti ini, sepertinya aku sudah sangat lelah" Rina bicara sendirian.


Mengingat semua kejadian dan penderitaan yang Ia hadapi rasanya Rina tak kuat lagi menahan.


Ia tak mau berlama lama dengan kehidupan yang tidak pernah jelas itu. Ingin sekali rasanya pergi meninggalkan kehidupannya itu.


Dengan tak mampu berkata kata, banyak hal yang Ia pikirkan.


"Aku sangat lelah" kembali dengan kesedihan.


Akhirnya Rina memilih untuk menghubungi Roy karena Roy adalah satu satunya yang Ia kenal.


"Kali ini aku sudah tak pedulikan siapapun yang aku pikir hanyalah diriku dan calon bayi yang ada dalam perut ini" ucapnya tegas.


Nenek sudah sangat tua, Rina memikirkan sudah tak mau membuat nenek kerepotan dengan segala urusannya.


Ia menghubungi Roy agar segera datang ada banyak hal yang harus Ia diskusikan.


Dan akhirnya bunyi mobil pun terdengar, Itu adalah suara mobil Roy.


Kelihatan laki laki itu sangat simpatik, apa saja yang Rina butuhkan selalu di respon dengan cepat.


Roy pun langsung menuju depan rumah arah dimana Rina duduk.


"Ada apa lagi kamu? " pertanyaan Roy yang sedikit tak enak karena kejadian beberapa bulan lalu ketika Flander datang ke tempat itu.


"Ada banyak hal yang harus aku diskusikan bersama kamu, aku kasian sama nenek kelihatannya Ia sangat lemah, aku tak mau membuatnya beban lagi"


"Mana laki laki itu? pasti tak ada kabar juga kan? lihat saja Ia tak pernah menghubungi Mu walau waktu kelahiran mu sudah sangat dekat, laki laki macam apa itu" ucap Roy sangat kesal.


"Sudahlah aku tak mau membahas itu lagi, yang ada di pikiranku sekarang hanyalah hidupku dan anakku nanti, aku tak mau lagi buang waktu membahas hal yang tidak penting ini"


"Kamu memang selalu seperti itu, aku bingung dengan otak Mu" ucap Roy jengkel.


Mereka berdua membahas semua perencanaan persalinan. Sepertinya Roy adalah teman yang sangat bertanggung jawab, kelihatan kepeduliannya sangat tinggi.


"Aku sudah merencanakan semua ini jadi tak ada lagi yang membatalkan ataupun merusaknya" ucap Roy

__ADS_1


Ada banyak hal yang mereka bicarakan, dan Roy melarang Rina untuk tidak menghubungi Flander karena laki laki yang tidak bertanggung jawab.


Rina berharap agar Roy selalu menemaninya disitu, Ia takut akan hari kelahirannya tiba.


"Kamu seringlah menjenguk aku, kamu tahukan bagaimana kegelisahan ku"


"Ia, kamu yang tenang aku selalu siap di samping mu" jawab Roy.


Tak lama kemudian bunyi handphone berdering sepertinya ada panggilan di HP Roy.


Roy pun melihat, nomor baru yang menelponnya.


Nomor dari kantornya Flander.


Roy menjawabnya, Ia kaget mendengar suara Flander.


Flander menghubungi Roy untuk meminta bantuan agar Roy secepatnya bertemu Rina, karena waktu kelahiran yang sudah dekat itu. Roy tak memberitahunya jika Ia sedang ada di rumah Rina.


Flander meminta bantuan Roy agar pastikan kalau Rina selalu sehat dan baik baik saja.


"Jika kamu sudah di sana segera beritahu aku, aku ingin bicara dengan Rina" ucap Flander


"Ok, baiklah"


"Apa? bagaimana itu bisa terjadi? " Rina peduli dengan apa yang telah terjadi dengan mertuanya.


"Aku juga tak mengerti, Flander kedengarannya sangat sibuk dan bicaranya pun sangat cepat, Ia sedang mengurus Ibunya"


Rina diam sejenak, Ia ingin sekali menampar pipi Flander,tetapi Ia juga sangat kasian kepada suaminya mungkin itu tanggung jawab yang sangat besar dalam hidup Flander.


"Ya sudahlah Roy, aku bingung apa yang harus aku lakukan"


"Kamu tetap jaga kesehatan tak perlu gelisah dengan hal yang mengganggu hidup Mu" jawab Roy.


Flander tak bisa temani kekasihnya, Ia harus menemani Ibunya, karena Ia satu satunya milik Ibu Retno.


Tanggu jawab yang harus di tanggung oleh Flander sangatlah besar. Ia menginginkan Rina agar selalu disampingnya, memberinya kekuatan tetapi Rina juga membutuhkannya di saat Rina melahirkan buah hatinya.


"Ah, aku harus menghubunginya kembali " Roy lupa kalau Ia harus menghubungi Flander jika Ia sudah di rumah Rina.


Flander pun meminta agar Rina berbicara dengannya.


Merekapun berbicara sangatlah banyak, permintaan Flander agar calon bayinya itu harus sehat karena itu adalah kebahagiaan miliknya.

__ADS_1


"Rina, seberapa marahnya kamu ke aku, tolong jagalah calon bayiku agar tetap sehat, aku menunggunya dan menyayanginya"


Wajah Rina lesu, Ia tak kuat menahan tangis.


"Ada banyak hal yang harus aku selesaikan semua urusan penting untuk kamu juga anak aku nanti, aku harap kamu selalu baik disitu dan juga sehat"


"Kamu tak menemui ku lagi? " tanya Rina dengan sedih


"Aku akan kesitu setelah anak aku datang" jawab Flander


"Ok, baiklah aku harap kamu juga baik baik disitu dan tetap sehat" jawab Rina dengan air mata.


"Ia sayang, aku menyayangimu "


Flander menutup teleponnya.


"Bagaimana Rin, kamu baik baik saja? "


"Ia Roy, aku berusaha baik baik saja, Flander memang tak bisa datang di hari kelahiran nanti"


"Ya sudah, ada aku disini, kamu jangan sedih lagi"


Roy memang teman yang baik dan tanggung jawab, bersyukurlah jika ada wanita yang nanti dipilihnya.


Mendapatkan sosok laki laki yang tidak hanya ketampanan saja tapi juga punya tanggung jawab yang luar biasa.


Pembicaraan mereka selesai, Rina meminta Roy agar tidak pulang dulu, menemani dan memberinya kuat, agar Ia tidak cepat lemah.


"Roy, aku tak peduli betapa marahnya kamu pada ku, aku hanya ingin ada teman disini yang membuat aku kuat"


"Ia, selalu siap" jawab Roy


Disisi lain Roy juga mengalami hal yang serupa dengan Rina, Saudari cantiknya pergi disaat persalinan buah hati yang pertama, suaminya tak pedulikan adiknya ditinggal pergi tak ada kabar disaat mengandung buah hati mereka, itu alasan mengapa Roy sangat peduli dengan Rina karena takut kejadian itu terulang. Ia tak ingin melihat untuk kedua kalinya.


Banyak pesan yang diberikan Roy ke Rina, Rina selalu turut karena Ia tahu Roy adalah laki laki yang sangat baik meskipun kadang menjengkelkan.


Jam sudah menunjukan pukul lima, sudah waktunya Ia pulang. Roy pun pamit dan meminta Rina agar tetap menjaga kesehatannya.


"Kamu harus menghubungiku apapun yang terjadi"


"Siap selalu" jawab Rina


Roy membalik arah mobilnya meninggalkan Rina.

__ADS_1


__ADS_2