Derita Dalam Cinta

Derita Dalam Cinta
Jatuh pingsan


__ADS_3

"Apa? aku tidak ingin semua ini terjadi"


"Kamu egois, tidak pernah berpikir dan mengerti tentang aku"


"Kamu sudah gila, lagi lagi kamu memintaku membuat kamu bahagia, kamu mustinya berpikir, sebenarnya aku yang butuh kebahagiaan bukan kamu, kamu bisa saja gandengan sama wanita mana saja yang kamu suka, kamu hidup mewah, kamu tidur ditempat yang nyaman punya segalanya, apakah belum bahagia juga? "


Ditariknya tangan Rina, dan jatuhkan Rina kebawa, tangan kirinya menutup mulut Rina, agar Rina tidak melanjutkan bicaranya.


Keadaan yang menjepit, membuat Rina tak bisa bergerak.


Rina yang posisinya dibawa, dan Flander diatasnya menjepit tubuhnya dengan kuat.


"Kamu tidak bisa bicara apa apa lagi"


Flander menekan istrinya dengan kuat, Ia sudah tidak berpikir kalau Istrinya baru habis lahiran harus banyak istirahat bukan malah membuatnya tambah beban dengan berbagai warna kehidupan.


Pertengkaran yang tak kunjung selesai itu, membuat Flander merasa resah, Rina membuatnya benar benar marah.


Rina sudah tak ingin tinggal di rumah itu lagi dan ingin pergi dengan membawa si buah hati.


Itu yang bikin Flander geram, masalah bertubi tubi datang, selain di rumahnya sendiri dengan orang tua nya, kali ini lagi dengan Rina istrinya itu.


Kehidupan yang membuatnya benar benar gila.


"Tak bisa kah membuat aku tenang? kamu seharusnya istirahat jangan banyak bergerak! kasian luka mu belum membaik dan keadaan mu masih sangat lemah " Flander peduli dengan Rina.


Rina melawan, Ia sudah tak mau mendengar ucapan dari mulut Flander.


"Aku bosan Mas, mendengar mulut manis yang tak ada habisnya dan ujungnya aku yang merasa sulit dan tanggung beban, tidak aku tak ingin ada disini aku ingin pergi secepatnya"


Flander pusing, menjambak rambutnya dengan kuat di atas meja, membanting semua barang yang ada disitu, ingin sekali rasanya menampar istrinya tapi Ia sadar kalau istrinya lagi belum sehat.


"Aku ingin kamu diam sekarang juga! omongan mu tak ada manfaatnya! " bentak Flander karena Rina terus terus saja mengomel.


"Sekalian bunuh saja aku! tidak ada masalah" jawab Rina


Flander menatap Rina dengan tajam, matanya merah emosinya sedang tidak stabil mendengar kalimat yang dilontarkan oleh istrinya.


Rina tak sedikitpun peduli seberapa marahnya Flander terhadap dirinya.


Rina dengan keadaan yang masih sangat lemah dan belum bertenaga itu, memaksa dirinya untuk beraktifitas dengan mengemasnya semua pakaiannya.


Flander masih merasa terganggu dengan sikap istrinya yang tak mau mengalah itu.


Menuju ke arah Rina berada, membuang semua pakaian yang sudah diatur rapih, merendamnya ke dalam bak air kecuali pakaian anaknya.


Semua pakaian basah tak tertinggal satupun.

__ADS_1


Semua isi dompet Rina di bongkar bangkir dan akhirnya Ia menemukan sepucuk surat yang berisikan alamat tempat tinggal dan nomor handphone.


Rina berusaha untuk mengambilnya tapi gagal, Flander menolaknya sangat kuat ke arah tempat tidur.


"Milik siapa ini? jawab!" teriak Flander semakin kencang


Rina tidak menjawabnya.


Flander ke arah dimana Rina duduk langsung mencekik Rina.


"Aku tanya, milik siapa ini? " menunjukan surat itu dihadapan Rina.


Rina tidak sanggup bicara, karena cekikan yang amat kuat rasanya ingin mati saja.


Flander menanyakan hal itu berulang ulang, tetapi Rina tak bisa menjawabnya.


Rasanya napasnya sesak, sepertinya tak mampu lagi untuk bernafas cekikan semakin kuat itu dengan tatapan yang sangat tajam dan dalam.


Matanya merah sepertinya ingin sekali membunuh istrinya.


Rina menyerah, ingin teriak tapi tak bisa, suasana makin menegangkan, akhirnya lepas juga tangan dari cekikan itu.


Rina jatuh lemas ke tempat tidur keadaan semakin tak berdaya.


Diangkatnya lagi Rina ke atas dan kembali menanyakan milik siapa alamat itu dan nomor Handphone.


Rasanya tenggorokan sudah luka dan rasa perih sepertinya Ia membutuhkan air minum.


Yang ada dalam pikiran Flander hanyalah kecemburuan, Emosinya tak terkontrol jika kecemburuan merasuk dalam pikirannya.


Pikirnya itu adalah pemilik laki laki kenalan Rina.


Tatapan yang masih tajam itu benar benar membutuhkan penjelasan dari Rina siapa pemilik alamat yang ada dalam surat itu.


"Aku tidak peduli sepertinya kamu harus mati sekarang"


Ditariknya kembali lengan Rina menempel ke tembok.


Rina mengikuti alurnya, tubuhnya tak kuat lagi.


Rina akhirnya menutup mata, menyerahkan segalanya dengan perlakuan Flander ke dirinya.


Wajahnya sangat pucat bibirnya kering rambutnya berantakan. Tubuhnya hampir jatuh ke lantai dan akhirnya di tahan Flander dengan cepat.


Flander menggendong istrinya sambil dibawanya ke tempat tidur.


"Sayang" panggil Flander dan tangannya meraba detak jantung Rina Ia ketakutan jika benar benar Rina akan meninggalkannya selamanya.

__ADS_1


Flander menghubungi Roy agar segera ke rumah, Ia benar benar membutuhkan bantuan.


Roy dengan cepat menuju ke rumah Flander. Roy gelisah kalau terjadi apa apa dengan Rina di sana.


Rina masih tertidur lemas di tempat tidur belum sadarkan diri juga.


"Kamu segera datang! Rina pingsan"


Roy mengambil kunci mobil dan juga alat alat kesehatan miliknya yang sebelumnya Ia adalah mantan Dokter.


Bunyi mobil di depan rumah, Flander keluar bertemu Roy teman baik dan juga teman bertengkar.


"Bagaimana bisa ini terjadi Flander? " melihat kondisi Rina yang tak berdaya.


Flander menceritakan semua kejadian yang barusan terjadi dengan Rina.


Roy melihat ke arah leher ada lebam bekas cekikan Flander.


"Flander, apa ini? sambil menunjukan arah leher Rina.


" Aku yang melakukanya karena terlanjur emosi"


"Kamu gila,aku sudah menduga dari awal kalian pasti bertengkar makanya aku memintanya untuk ikut kesini tapi kamu tak mengijinkannya"


Emosi Roy semakin bertambah dilihatnya pakaian Rina semuanya terendam di dalam bakal air.


"Kamu gila Flander, aku ingin sekali menonjok mu dengan kuat"


Flander hanya terdiam merasa dirinya telah bersalah melakukan itu semua.


"Kamu jangan seperti itu, bagaimana bisa masalah dari rumah kamu bawa bawakan kesini, akhirnya Rina yang yang harus jadi pelampiasan"


Terus bicara dan marah tangan Roy sambil bergerak memeriksa keadaan Rina dan sambil mengobatinya.


"Kamu sangat keterlaluan, kamu tidak punya hati dengan seorang perempuan hebat seperti Rina"


Kata Roy kecewa campur sedih.


Flander hanya bisa diam, Ia sudah tahu pasti dirinya akan di ngamuk oleh Roy teman bertengkar itu. Ia memilih diam dan mengalah tida ingin bicara apa apa.


"Jika kamu tak sanggup mengurusnya, biar aku saja" kata Roy dengan jengkel.


"Aku sudah menjelaskan semuanya, tapi mulutnya yang tak bisa diam dan ngomelnya yang tidak pernah berhenti" Flander mencoba kembali menjelaskan.


" Pokoknya kamu gila! kamu egois kamu membuat hidup Rina jadi seperti ini"


Roy terus saja tak bisa menahan marahnya ke Flander.

__ADS_1


Buah hati mereka masih di Rumah sakit karena kondisi yang belum membaik dan belum sehat.


__ADS_2