
"Pak, ada informasi penting dari Pak Roy" kata salah satu karyawan kantor perusahan
"Ia bagaimana? informasi apa? " Flander menanggapi dengan cepat dan penasaran.
"Pak, katanya Ibu Rina sedang kritis di Rumah Sakit, dan bayinya juga mengalami hipoksia yang menyebabkan anggota geraknya mengalami kebiruan.
" Apa? "
tapi Flander masih bingung dengan pilihannya apakah Ia harus ke Rumah sakit atau disitu mengurus keluarga dan pekerjaannya.
" Pak, "
"Aku akan segera ke sana"
Flander tergesa mengambil kunci mobil dan langsung menuju tempat Rina dirawat.
Semua orang di rumahnya mencarinya kemana mana tak ketemu.
Ibu Retno sedang membutuhkan Flander.
Mereka mencoba menghubungi Flander tapi tidak nomor handphonenya tidak aktif.
"Aku harus cepat ke sana semoga Rina dan anakku baik baik saja" ucap Flander sambil menyetir mobilnya dengan sangat kencang.
Flander sedang berada dalam kesulitan Ia harus meninggalkan Ibu demi keselamatan Istri dan anaknya.
Sungguh pilihan yang sangat rumit, tapi semoga semuanya berjalan lancar dan aman.
Flander langsung menuju Rumah sakit dimana Rina dan anaknya dirawat.
__ADS_1
Ia sangat gelisah. sampai di Rumah Sakit di dapatnya Roy sedang mengurus semua administrasi Rina bersama anaknya.
"Roy, dimana Rina? dimana anakku? apa mereka baik baik saja? " tanya Roy gelisah
"Hey, Silakan langsung ke ruangan Nifas kamar VIP"
Flander segera ke sana dan tak banyak bertanya langsung masuk di salah satu kamar VIP itu, Rina dan buah hati sedang belum sadarkan diri dan terdapat selang oksigen.
"Oh, Istriku maafkan aku aku tidak bersama mu ketika kamu melahirkan buah hatiku, maafkan Ayah juga Nak, Ayah tidak bermaksud meninggalkan mu. Ayah sayang kalian" bisikan Flander kepada Istri dan anaknya.
Flander diminta untuk tanda tangan karena sebagai kepala keluarga untuk sang istri dan anaknya.
"Ayolah sadar sayang, aku disini di samping mu"
Flander meminta ijin kepada Perawat untung menggendong anaknya. betapa hangatnya pelukan sang ayah.
Flander tak bisa menahan air mata setelah melihat si mungil yang begitu tampan seperti dirinya.
"Kamu sangat tampan mengalahkan Ayah mu ini" ucap Flander lembut kepada anaknya.
Flander pun diminta untuk menyiapkan segala perlengkapan Ibu dan bayinya. Tetapi semua itu telah disiapkan Roy seminggu sebelum Rina melahirkan.
"Kok bisa, aku malah kalah sama Roy, geraknya begitu lincah" kata Flander dalam hati.
Roy belum selesai mengurus administrasi, Flander menunggu sadarnya sang istri hingga akhirnya tertidur lelap di samping Istrinya itu.
"Anak ku... " panggil Rina dengan lembut tapi belum sadarkan diri juga.
"Anak aku dimana siapa yang membawanya? " tangan Rina sambil mencari cari di sekitar samping kiri kanannya.
__ADS_1
Dijambaknya rambut Flander sang suami yang sedang tidur di sampingnya itu hingga Flander pun terbangun.
"Rina, kamu sudah sadar sayang? "
Mata Rina masih belum buka, Ia hanya berbicara mungkin sang Istri sedang bermimpi.
Dipegangnya tangan Rina dengan keras berusaha menyadarkan sang Istri.
"Rina, Ayo bangun sayang, maafkan aku seandainya kamu tahu bagaimana rumitnya hidupku mungkin kamu akan mengerti dan memaafkan aku" Flander berbicara pelan di telinga sang Istri.
Roy akhirnya datang dan melihat Flander ada di samping Rina. Ia tak mau mengganggu dan memilih untuk tetap duduk di kursi luar.
Flander mengetahui kedatangannya dan akhirnya di suruh untuk masuk ke dalam.
"Bagaimana? kamu aman? " tanya Roy
"Aku memilih untuk keselamatan istri dan anak, tentang di sana mungkin aku bisa menyelesaikannya nanti"
"Jika ada apa apa biar aku saja, kamu ngurusin dulu di sana "
"Kok ngomongnya gitu? "
"Ia, aku salah? di sana lebih penting, istri dan anak lain kali saja"
Flander menatap Roy dengan geram, Ia tak suka Roy berbicara seakan akan Ia tidak pedulikan Rina dan anaknya.
"Apa kamu masih saja ingin bertengkar di depan Rina dengan keadaannya seperti ini? "
"Sudah, kamu tak usah mengumpan emosi ku"
__ADS_1
"Aneh, kamu emosi sedangkan aku yang dengan susah payah mengurus istri dan anaknya orang lain aku tidak pernah emosi dengan suaminya" ucap Roy dengan sindiran.
Flander sepertinya tak mau melanjutkan pertengkaran itu, Ia memilih diam dan kembali melihat kondisi sang Istri.