
Keduanya sudah sembuh, dan acara pertunangan mereka segera dilaksanakan.
Elsa masi tidak puas dengan kejadian kemarin.
Elsa menceritakan semuanya kepada Ibu Retno.
"Wanita itu siapa sayang? " tanya Ibu
"Tanya saja sama Flander Bu, aku bertanya berulang ulang tapi tidak menjawabnya, aku bingung dengan sikap Flander Bu"
"Jangan seperti itu Nak, mungkin saja orang itu tak dikenal Flander"
"Flander Bu, yang bicara duluan sama wanita itu, aku yakin mereka pasti sudah saling kenal"
"Ya sudah, nanti Ibu tanyakan ke Flander dan juga orang tuanya"
Ibu Retno menelpon Ibu Rita soal kejadian sama Elsa kemarin itu, dan ingin memastikan siapa wanita itu.
"Halo,ada apa Bu Retno?" Ibu Rita menjawab telepon
"Elsa, katanya kemarin ada ada bertemu seorang wanita dan sepertinya wanita itu mengenal Flander"
"Nanti saya langsung tanyakan Flander ya, Bu"
"terimakasih Bu" Ibu Retno menutup teleponnya.
Ibu Rita segera menemui Flander anaknya itu.
"Flander, ada yang Ibu tanyakan ke kamu"
"Ada apa Bu? "
"Ko, kamu tidak beritahu mama kalau kemarin sama Elsa waktu di pasar itu ada kejadian apa? "
"Aku ketemu Rina Bu"
"Apa? memang gila perempuan itu"
"cukup Bu, kami tak sengaja menemuinya waktu Elsa ingin membeli jamur makanan kesukaannya itu"
"Apakah Elsa sudah mengetahui kalau Rina itu Istri Mu?"
" Belum Bu, aku berusaha hindari Rina"
Ibu Rita bingung, Ia gelisah kalau itu semua akan ketahuan. Ia ingin pindahkan Rina sejauh jauhnya, agar tidak bertemu lagi keduanya.
"Pak, kita harus pindahkan Rina" kata Ibu Rita kepada Pak Dewa
"Mengapa?"
"Ibu Retno menelpon, bertanya soal kejadian Elsa sama Flander kemarin di pasar, mereka bertemu Rina di sana"
Pak Dewa kaget mendengar itu.
"Aku harus pindahkan kemana lagi anak itu, aku rasa sudah aman disitu"
"Aman bagaimana pak? kalau kita ketahuan bagaimana Pak? " jawab Bu Rita ketakutan
"Aku akan menghubungi mata mata yang ada di sana"
__ADS_1
Pak Dewa menghubungi asistennya yang di tugaskan untuk mengamati kemanapun Rina pergi.
Rina disuruh tak boleh pergi kemana mana selain di rumahnya saja.
Rina disuruh tak boleh kemana mana, rutinitas yang dilakukan setiap hari dibatasi. Semua itu disampaikan kepada nenek dan dilanjutkan ke Rina.
"Nek, Aku tak bisa seperti ini terus Nek, aku sudah diasingkan terus aku dilarang untuk kemana mana, sangat muak dengan kehidupan ini"
" Salahku, kemarin sudah mengijinkan mu ke pasar"
"Jangan jangan karena bertemu si pecundang itu" ucap Rina emosi.
"Pasti ada masalah di sana" kata nenek
"Nek, jika ada nomor teleponnya aku ingin sekali berbicara dengan mereka"
" Tak boleh nak, kamu ikut apa yang nenek katakan"
Rina sepertinya kehabisan sabarnya, Ia ingin bertemu salah satu keluarga Flander dan membicarakan soal dirinya dengan Flander.
"Aku sudah tak mampu, kehidupan ini membuatku sesak nafas" ucap Rina kesal.
Untuk pertama kalinya Rina mengirim sebuah surat yang isinya peringatan agar tidak mengatur kehidupannya di sana, karena Ia sudah tenang dan nyaman di desa itu.
Jika ada masalah mengenai perusahaan itu bukan kesalahannya tetapi itu semua kelalaian orang orang yang ada di dalam perusahaan itu sendiri.
Ia pun menyatakan dalam surat itu, supaya keluarga Pak Dewa tak usah mengurus dan masuk dalam kehidupannya, soal Flander Ia tak akan peduli lagi, Ia sudah menganggap Flander tak ada.
Surat itu pun di kirim ke Rumah Pak Dewa.
Setelah satu hari, surat itu pun tiba di rumah.
"Itu surat Pak yang dikirim untuk Pak Dewa"
"Dari mana? " tanya Flander curiga, karena kalau untuk Ayahnya biasanya langsung ke perusahaan bukan langsung di rumah.
"Dari Desa Mahoni Pak yang di tujukan ke Rumah ini, ada alamatnya di dalam surat itu Pak"
"Baiklah, aku akan beritahu Ayah jika Ayah datang"
"Baik Pak, permisi"
Flander curiga, itu untuk pertama kalinya. apalagi dari Desa, tapi Flander tak tahu Desa Mahoni dimana.
"Mahoni?" sepertinya aku pertama kali mendengarnya,
Apa aku buka saja Amplopnya? Ayah tak mungkin marah jika isinya tak penting baginya"
Flander membuka dan membacanya, Ia terkejut dengan Isinya yang ternyata peringatan Rina yang sangat berani dan tegas itu.
" Rina benar benar gila"
Setelah membacanya, Flander mencari tahu dimana tempat yang di tinggal Rina. Ia sangat marah dan ingin membicarakan langsung dengan Rina.
Setelah mencari tahu, Flander menghubungi pengamat hidupnya Rina yang ada di sana, Ia baru tahu kalau Ayahnya menugaskan kepada pengamat itu untuk mengamati kehidupan Rina selama di sana.
Flander memerintahkan agar pengamat itu segera menemuinya di ruangan perusahan.
Pengamat itupun segera datang dan tiba di tempat tujuan.
__ADS_1
Pengamat di arahkan ke ruangan Pak Flander.
Bunyi ketukan pintu, dan disuruhnya masuk.
"Silakan duduk! " kata Flander.
Mereka pun membicarakan soal Rina yang diasingkan ke Desa yang sangat terpencil itu.
Pengamat itu pun menceritakan semuanya kepada Flander.
Flander melarangnya agar tidak memberitahukan kepada sang Ayah jika Ia sudah mengetahui itu semua.
"Apa kamu punya bukti selama kamu ada di sana?"
" Aku menyimpan semuanya"
"Coba tunjukan! "
Pengamat itu, membuka isi tasnya ada banyak foto foto selama Rina ada di sana.
Flander melihatnya satu persatu, Ia pun terkejut melihat ada beberapa foto yang aneh.
"Dimana kamu melihat Rina bersama laki laki ini? "
"Di perjalanan ketika Rina ingin ke ladang"
"Siapa laki laki itu?"
" Aku sama sekali tak mengenalnya"
Flander tak lanjuti pembicaraan dan hanya diam dengan emosi. Disuruhnya pengamat itu pulang dan meninggalkan beberapa foto itu.
Menggenggam tangannya dengan kuat ingin sekali pergi ke desa itu dan menemui Rina di sana.
Flander mengambil kunci mobil, dan segera keluar ruangan, Ia ingin ke tempat Rina berada.
Telepon berbunyi, Ayah menelponnya, menyuruhnya agar segera ke kantor karena ada tamu penting yang harus dilayani.
Flander memberi alasan, tapi Ayahnya dengan keras mengatakan kalau segera datang karena Tamu sudah menunggu lama. Flander pun menuju kantor perusahan.
Rencananya gagal, Ia menelfon pengamat itu, dan disuruhnya mengamati Rina kemanapun Ia pergi.
"Aku tidak sabar ingin sekali menemui Rina, penasaran dengan laki laki itu, untuk kedua kalinya aku melihatnya Ia bersama lelaki yang tidak ku kenal"
Flander memikirkan Rina, itu yang membuatnya tidak konsentrasi dengan pekerjaan.
Flander tak sabar ingin sekali ke sana tetapi keadaan yang menghalanginya.
Akhirnya Flander balas dengan mengirimkan sebuah surat untuk Rina.
Ia pun menulisnya dengan emosi.
Surat itu yang isinya tentang peringatan supaya Rina tidak menemui dan bersama Pria itu lagi.
Jika Ia mendapatkannya, maka tidak akan segan segan akan memberinya Pelajaran bahkan mengancamnya untuk membunuh Pria itu.
"Aku akan membunuhnya jika Ia terus terusan mengganggu hidup Rina" kata Flander yang merasa sangat jengkel.
Rina pun membacanya, Ia sangat marah kepada Flander.
__ADS_1
Ia mengingatkan Flander agar tidak mengganggu hidupnya lagi dan jangan pernah ikut campur urusan pribadinya.