
Ketika Flander sedang makan siang bersama Rina, terdengar panggilan teriak yang membuat Flander bangun dan segera lari menuju suara itu.
Flander mencari asal suara itu, ternyata dari kamar Pak Dewa. Flander membuka paksa pintu kamar dan dilihatnya Pak Dewa sedang terbaring lemas di bawa lantai.
Flander dengan panik, memeluk Ayahnya dan digendongnya menuju keluar untuk segera dibawa ke Rumah sakit.
"Ada apa? bagaimana ini bisa terjadi? " tanya Flander dengan panik.
"A-aku melihatnya jatuh dari atas tangga, dan aku teriak ketakutan" jawab salah satu pelayan yang biasa mengurus makanan untuk Pak Dewa setiap hari.
"Ayah sudah makan? " tanya Flander
"Aku sudah mengantarnya tetapi Pak Dewa tak juga makan" jawab pelayan itu.
Flander tidak ingin berbicara banyak, menyetir mobilnya dengan laju sangat kencang. Flander mengantar Ayahnya ke Rumah sakit. Rina mengikutinya dari belakang karena Flander tidak membawa apa-apa ke sana.
Flander panik, Ia tak tahu apa yang harus dibawanya ke Rumah sakit. Tetapi Rina adalah Istri yang hebat, Ia tahu apa yang di butuhkan saat di sana nanti. Rina bersama sopir Pribadi nyusul Flander dari belakang.
Setibanya di sana, Flander ditanya perlengkapan yang harus disiapkan oleh petugas kesehatan. Ia hanya bingung dan tak tahu harus jawab apa. Tanpa Ia sadari kalau Rina sudah di belakangnya.
"Rina, sejak kapan kamu disini? sama siapa kamu? " tanya Flander dengan tatapan aneh.
__ADS_1
Rina menunjukan ke sopirnya itu, bahwa sopir itulah yang mengantarkan Ia ke Rumah sakit. Flander menyerahkan semua urusan di rumah sakit itu kepada Rina.
"Lain kali jangan gegabah seperti itu Mas, " ucap Rina kesal.
"Ia, soalnya aku sangat panik tadi"
"Untung saja aku melihat Mu pergi, "
"Ia, makasih sayang"
"Baiklah, kita berdoa biar Ayah mertua tidak kenapa-kenapa"
"Kamu jangan takut, Ayah pasti baik-baik saja"
Rina keluar masuk kamar dimana Pak Dewa sedang berbaring terpasang infus dan oksigen. Rina menatapnya sedih, air matanya tak bisa tertahan.
"Mas, kamu harus mengontrolnya terus, karena Ayah lagi tidak sadar, " ucap Rina ketakutan.
Flander duduk di samping Ayahnya sambil menunggu Ayahnya sadar. Petugas kesehatan mengatakan kalau Pak Dewa sedang tidak sadar, kemungkinan Pak Dewa mengalami stroke.
Flander panik. Ia tak mau hal itu terjadi pada Ayahnya. Semua masalah akan terancam jika Flander harus tangani sendirian. Dalam hati Flander berdoa semoga tidak terjadi apa-apa dengan Ayahnya.
__ADS_1
Menunggu sudah lama, Pak Dewa tak kunjung sadar akhirnya Flander memanggil Dokter agar segera cek kondisi Ayahnya.
"Rin,bagaimana dengan anak kita? " Flander mengkhawatirkan anaknya yang ditinggal di rumah.
"Tak apa-apa Mas, dia aman di sana" jawab Rina.
"Aman bagaimana? perasaan ku tak enak, mungkin saja dia nangis di sana"
Flander menyuruh Rina segera pulang ke rumah, karena Ia sangat mengkhawatirkan anaknya. Rina pun segera pulang.
"Ada apa-apa dengan Ayah, telfon aku ya Mas, "
"Ia, nanti aku telfon kok, "
Rina melangkah keluar menuju mobil bersama sopirnya. Sepanjang perjalanan, Rina selalu berpikir dengan keadaan Pak Dewa. Karena perbuatan mereka yang membuat suasana rumah jadi tak baik seperti ini.
Setibanya di rumah, memang benar anaknya sedang menangis. Tangisan yang sangat keras itu membuat pengasuhnya panik ada apa sebenarnya dengan anak itu. Tidak seperti biasanya menangis dengan suara yang keras.
"Anak ku, kenapa jadi begini? " tanya Rina kepada pengasuh bayinya itu.
"Aku juga panik Bu, kok nangisnya dari tadi tak kunjung henti" jawab pengasuh.
__ADS_1
"Baiklah, tak apa-apa, mungkin saja Ia merasa sedih karena kakeknya sakit di sana" jawab Rina dengan wajah sedih.