
Masalah yang tak ada habisnya, Flander sepertinya tak pedulikan apa yang sudah terjadi. Pak Dewa hanya diam saja tak berbicara apapun seperti yang sebelumnya. Mungkin saja Pak Dewa sedang tak mau memikirkan yang terlalu berat mengingat dengan usianya yang kini sudah tua.
Pak Dewa yang sebelumnya selalu sibuk dengan mengurus perusahan, kini sudah tak bersemangat. Ia hanya bersantai santai saja tak mau terlalu fokus dengan perusahan.
"Ayah, kok tumben jam begini belom ke kantor," ucap Flander yang merasa aneh dengan Ayahnya.
Tetapi Pak Dewa tidak menjawab. Ia hanya mondar mandir tak tentu arah. Flander berpikir kalau Ayahnya mungkin sedang stres dengan kejadian kemarin bersama keluarga Pak Agung.
Flander tidak peduli dengan Ayahnya, Ia segera bersiap-siap ke kantor. Rina yang selalu menyiapkan berbagai perlengkapan suaminya seperti biasa, menyuruh Flander agar berpamitan dengan Ayah mertua.
"Mas, Ayah mertua kok, kenapa ya? sudah dua hari kelihatan aneh seperti itu, " tanya Rina ingin tahu.
"Aku juga tak tahu apa-apa, mungkin saja lagi tak enak badan" jawaban lucu dari Flander yang tak mau peduli dengan sikap ayahnya yang berubah.
"Mungkin saja kerena masalah kemarin Mas, aku takut Ayah mertua kenapa-kenapa" Rina gelisah dengan sikap Ayah mertua yang semakin diam.
__ADS_1
"Sudah, aku mau pergi. " Flander pamit dan mengambil tasnya dan segera menyetir mobil menuju ke kantor.
Rina merenung kembali di kamar tidurnya. Ia merasa terganggu dengan sikap Ayah mertua yang tak mau berbicara apa-apa.
Rina kembali memperhatikan Ayah mertuanya, sepertinya Pak Dewa tidak ke kantor, dan tidak merasa beban apa-apa. Karena perasaan gelisah, Rina mendekati Pak Dewa yang sedang duduk membaca sebuah majalah.
"Ayah mertua, " Panggil Rina dengan lembut.
Pak Dewa menoleh ke arah Rina, dan menatapnya dengan pandangan aneh.
"Apa Ayah mertua membutuhkan sesuatu? mungkin aku bisa bantu" Rina menawarkan dengan rasa takut.
"Aku baik-baik saja, aku tidak membutuhkan apa-apa" ucap Pak Dewa dengan tidak peduli.
"Ayah, sudah dua hari tak makan, nanti Ayah sakit. " ucap Rina lembut dan peduli dengan Pak Dewa.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja, mungkin aku ingin sendirian dan tak mau ada siapa-siapa yang mengganggu" ucap Pak Dewa.
"Baiklah Ayah, " Rina kembali ke belakang menuju kamarnya. Semua orang memperhatikan dengan sikap Pak Dewa yang begitu berubah akhir-akhir ini.
Pak Dewa masuk kembali kamarnya, yang tadinya sedang berada di luar. Semua orang disitu memperhatikan. Jangan sampai keadaan Pak Dewa sedang memburuk.
Salah satu karyawan di rumah itu, yang sudah lama bekerja dan Ia sangat tahu baik seorang Pak Dewa seperti apa. Pikiran tak enak pasti Pak Dewa sedang tidak baik-baik saja. Ia memberitahu agar semua orang di rumah itu, menjaga suasana yang tenang dan aman agar kesehatannya tidak memburuk.
Rina selalu berhati-hati, dan Ia tak mau Ayah mertuanya sakit. Apalah daya jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Setelah Flander pulang ke rumah, Rina memberitahukan kepada Flander agar tidak berbicara kasar pada Pak Dewa, dan selalu berhati-hati dalam bersikap.
"Ayah memang selalu seperti itu, Ia takut kalau mungkin Ia tidak akan kaya lagi," ucap Flander yang mengetahui kalau Ayahnya sedang stres dengan perusahan mereka ke depan. Mungkin saja bisa bangkrut karena perselisihan dengan keluarga Pak Agung.
"Kamu jangan berkata seperti itu, nanti terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan, bagaimana? " tanya Rina kesal.
__ADS_1