Derita Dalam Cinta

Derita Dalam Cinta
Membawa anak ku pergi


__ADS_3

"Rina, kamu tidak apa apa? "


Rina buka mata perlahan dan memanggil namanya Flander.


"Ia sayang aku ada disini, di samping mu"


Nama Flander terus di panggil Rina, Ia sudah sadar tapi belum sepenuhnya melihat.


"Dimana aku? Flander dimana? "


Flander pun merangkul sang Istri dan mengatakan bawa Ia ada disitu.


"Flander, apa aku sedang bermimpi melihat Mu? "


Sambil menangis Rina seakan tidak percaya kalau itu adalah Flander suaminya.


"Tidak sayang, ini aku, maafkan aku, aku terlambat datang "


Rina memandang wajah suaminya itu, mengelus rambutnya sambil berbisik pelan


"Anak Mu sudah datang, apa kau masih mau menelantarkan anak mu dan aku? aku harus mengurusnya sendiri atau kamu akan membawanya ke Rumah, biar semua orang tau bawa Putra Mu telah lahir"


Flander tak bisa menahan air mata, Ia merasa sangat bersalah dengan apa yang telah Ia lakukan selama ini.


"Kamu tahu, aku akan menunggu beberapa minggu sampai semuanya normal barulah aku datang membawa anak ku dan juga istri ku ke sana"

__ADS_1


Flander tidak bisa memaksa keadaan, dengan melihat kondisi Ibunya sedang tidak baik, seisi rumah sedang kacau apalagi dengan Perusahan.


Mungkin selain Ibunya, Ayahnya juga akan syok jika Ia akan membawa istri dan anaknya ke sana. Ia tidak ingin semuanya menjadi kacau, dan sambutan untuk anak dan istri menjadi masalah di rumah itu.


"Ya sudah, jika kamu tak mau melakukannya, aku akan membawa anak ku pergi" kata Rina dengan kecewa


"Kamu gila, kamu tak bisa kemana mana selain di rumah itu saja"


"Tidak, aku akan membawanya pergi"


"Memangnya kamu akan kemana? "


"Aku akan membawa anak ku pergi, kamu terserah ngurus aja segala kesibukan Mu, aku tak akan mengganggu hidup mu"


"Rina, kamu belum baikan cobalah tenang dulu jangan bicara seperti itu lagi, aku tak ingin mendengarnya"


"Ya untuk apa aku di sana? aku bosan dengan sikap mu yang begini terus, jika kamu hidup untuk Ayah dan Ibu juga untuk perusahan Mu, sebaiknya dulu kamu tidak usah menikahi ku"


"Stop bicara!" Flander menutup mulut Rina


"Mengapa? apa kamu menganggap ku benda mati? sampai aku di suruh tak boleh bicara, aku capek melihat Mu"


Flander memilih diam, Ia tak mau pertengkaran itu terjadi karena emosionalnya tidak stabil.


Flander tidak mau membicarakan apa apa.

__ADS_1


Omelan Rina tak dianggapnya.


"Aku tak peduli, aku akan pergi sejauh jauhnya dari hidup mu, aku ingin tahu apakah semuanya akan baik baik saja jika tak ada aku"


"Aku tak akan mengijinkan mu pergi"


"Kamu tak bisa mengatur ku, hidup ku bukan urusan mu"


"Kamu tahu apa yang aku lakukan jika kamu tak mau mendengar ku? "


Rina tak peduli dengan apa yang suaminya katakan Ia akan benar benar pergi dari Rumah yang selama ini Ia tinggal. Ia tak mau mendengar apa apa lagi dari Flander, kiranya dengan kehadiran buah hati mereka Flander akan membawa pulang mereka, tetapi malah sebaliknya. Rina sangat kecewa.


"Aku akan mengantar Mu dan tinggal beberapa hari di sana menemani mu, aku akan kembali ke rumah dan menjenguk Mu kembali"


"Terserah" Rina tidak mau bicara banyak


"Jika kamu tak mau mendengar, Aku bisa saja membunuh mu! kamu mengerti? " ucap Flander tegas


"Jika itu mau mu, silahkan bunuh aku sekarang" tegas Rina


"Sudah, kamu jangan macam macam, kamu jangan membuat pikiranku jadi kacau"


"Aku tidak lagi peduli dengan omong kosong mu"


"Biar aku saja yang pergi, aku akan mati biar kamu puas, kamu sama sekali tak mengerti apa yang sedang aku alami, aku harus banyak Terima ancaman hidup, sebaiknya aku mati saja, lagipula hidupku hanya menyusahkan kamu"

__ADS_1


Flander putus asa karena Rina tak mengerti dengan apa yang telah terjadi dengan dirinya.


__ADS_2