
Ilham dibawa para nelayan itu ke kampung mereka dulu, sambil mencarikan info untuk bisa pulang ke kota xxx, kota kelahirannya, di mana anak dan istrinya berada.iya menarik nafas lega saat sudah tiba di kampung yang sedikit lebih maju dari pulau yang dihuni Nayla dan pak Imron, sebab ia melihat ada beberapa tower di sana, berarti di sini ada sinyal ponsel.
''pak, apakah di sini ada sinyal ponsel?''Ilham bertanya saat sudah tiba di salah satu rumah nelayan yang mau menampungnya sekarang.
''ada nak, pakai ponsel saya saja kalau mau menelpon keluarganya. nomornya ingat nggak?''pria yang mengaku bernama pak Imran,pria paruh baya sang pemilik kapal tadi memberikan ponsel jadulnya kepada Ilham.
''Alhamdulillah, berarti saya bisa menelpon istri saya, terima kasih ya, pak Imran. saya pinjam ponselnya dulu,''Ilham tersenyum senang dengan mendekap ponsel itu, harapannya untuk bisa pulang sedikit menemui titik terang.
Ilham manakah nomor ponsel Aurel,adik angkat yang sudah menjadi istrinya walaupun pernikahan mereka belum disahkan di mata hukum dan agama,wanita yang selalu membuatnya berjuang untuk bisa pulang dan berkumpul lagi selalu memenuhi hatinya itu.
''halo'assalamualaikum,''suara yang begitu ya rindu pun terdengar di telinganya.
''waalaikumsalam.dek, ini kakak....''ujar Ilham dengan air mata kebahagiaan karena akhirnya bisa mendengar suara wanita yang amat ia cintai itu.
''halo, kak Ilham.... kakak di mana? kakak selamatkan? nada cemas bercampur harus membuat Aurel segera berlari keluar dari kamar dan menghampiri mama dan papanya yang sedang bermain dengan putrinya di ruang tengah ma,pa, ini kak Ilham yang telepon.''
''iya dek,, kakak selamat. kakak kangen sama kamu, sayang....''Ilham mengembangkan senyumannya dengan hati yang luar biasa bahagia.
''sama,aku juga kangen kakak.....''air mata langsung meluncur, membasahi pipi Aurel.
''loudspeakerin,rel! Tanya Ilham ada di mana?''Della langsung paket dan menghampiri Aurel, iya senang akan kabar ini.
belum sempat Aurel menekan tombol lauspeaker, tiba-tiba suara Ilham seperti terbawa angin lalu panggilan terputus.
''kak, kakak di mana? kok putus?''Aurel jadi panik, raut bahagianya langsung meredup seketika.
''Aurel,Ilham kenapa?''tanya Della ikutan panik.
''teleponnya terputus mah, kak Ilham beneran selamat mah, tapi kita belum tahu dia ada di mana.''Aurel berkata dengan gemetar karena rasa bahagia yang kini berganti bimbang.
''coba telepon balik, rel!''model Malik yang ikutan cemas campur panik juga.
Aurel mengangguk dan mencoba menelepon nomor tadi tapi nggak bisa, nomornya sudah tidak aktif.
''ma,aku yakin kalau yang tadi itu kak Ilham, tapi sekarang nomornya malah tidak aktif lagi.''Aurel menangis sambil memeluk mamanya.
''sini nomornya, rel, biar papa coba hubungi atau juga menyuruh orang untuk melacak keberadaannya!''Malik marai ponsel Aurel dan menyalin nomornya.
sedangkan di kampung nelayan, tempat Ilham berada, iya sedang kebingungan akan ponsel yang mendadak mati itu.
''ponsel saya memang begini, nak, suka mati sendiri sebab baterainya sudah sok dan lagi pula.... sinyal di sini juga tak begitu. kamu harap maklum saja,namanya juga kampung,''pak Imran segera mencharger ponsel bututnya.
Ilham menghela nafas berat,tetapi kerinduannya akan sang istri sedikit terobati karena sudah mendengar suaranya walau sebentar, iya semakin tak sabar untuk segera pulang.
''dek, tunggu kakak, ya!''Ilham baruku Mama sambil memegangi dada,hatinya begitu merindu karena selama ini mereka tak pernah berpisah selama seperti sekarang. iya sudah tak sabar untuk bisa segera pulang dan berkumpul kembali.
''nak Ilham, nanti sore saja kamu menelponnya, ponsel saya masih di charger,''fajar pak Imran sambil menghampiri Ilham yang sedang duduk di dekat pintu.
''iya pak, terimakasih. tadinya saya sudah berbicara sama istri,,rasanya sudah lega dan bahagia bisa mengabari mereka kalau saya selamat dari kecelakaan maut itu....''Ilham tersenyum bahagia.
''syukurlah nak,ini keajaiban dari Allah untuk kamu soalnya yang saya tonton di televisi kemarin, katanya sama penumpang pesawat itu dinyatakan meninggal.''pak Imran menatap tamunya itu dengan terharu.
''Alhamdulillah pak,Allah masih memberi saya umur yang panjang soalnya kasihan anak dan istri saya kalau saya pergi mendahului mereka, apalagi anak saya masih bayi....''Ilham membayangkan wajah menggemaskan putrinya, cinta, bayi berambut keriting yang ia sayangi sejak dari dalam kandungannya itu.
*****
Malik melaporkan tentang Ilham yang menelpon ke nomor Aurel ketimbar dan meminta kepada tim melacak nomor ponsel yang digunakan Ilham untuk mengetahui keberadaannya. tim segera bekerja dan langsung mengetahui keberadaan satu-satunya korban pesawat Lion JT-007 yang selamat itu.
''lokasinya ada di kampung xxx, sebuah kampung para nelayan yang berada di utara TKP, baiklah, sekarang juga tim evakuasi akan menuju ke sana,''jelas salah satu tim itu kepada Malik.
__ADS_1
''saya ikut,''jawab Malik senang campur haru karena tak menyangka kalau anak angkatnya itu selamat dan keyakinan putrinya terbukti benar.
''baiklah, tim sedang mempersiapkan kapal untuk menuju lokasi. satu jam lagi kita berangkat.
segera menekan nomor-nomor ponsel istrinya untuk mengabari akan keikutsertaannya menjemput Ilham ke kampung para nelayan itu.
''ma, papa akan ikut rombongan tim Basarnas menjemput menantu kita ke kampung xxx. kampung para nelayan.... lokasi Ilham menelepon tadi,''ujar Malik senang.
''jadi lokasi Ilham menelpon sudah berhasil diketahui pak?''Della tersenyum senang mendapat kabar dari suaminya.
''iya ma, Ilham akan pulang, tunggu kami!''Malik tak berhentinya tersenyum karena rasa bahagia yang tak terhingga ini.
''iya pah,hati-hati perginya dan semoga kita bisa segera berkumpul kembali,''jawab Della.
''ya sudah, papa tutup teleponnya, kabarkan ke Aurel tentang ini,''Malik mengakhiri panggilan teleponnya.
hari itu juga, Malik bersama tim Basarnas menjemput Ilham ke kampung nelayan. Aurel dan Della menanti kepulangan mereka dengan berdebar-debar.
*****
''agghhh...sial, puas kamu Aris, telah mencoreng nama baik keluarga kita,''Wulan melemparkan koran pagi ini ke wajah Aris, putra tunggalnya yang kini telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus video porno,walau kini masih menjadi tahanan luar dan kena wajib lapor setiap hari serta tak bisa bepergian ke luar kota.
Aris terdiam, iya tak kuasa menjawab perkataan sang papa. hidupnya telah hancur saat ini, iya juga sudah dipecat dari rumah sakit, ijazah kedokterannya seakan tak berguna lagi saat ini. apalagi bayangan dindingnya jeruji besi sudah menghantuinya setiap saat.
''sudahlah pak, Aris juga terpukul atas masalah ini,''Marlina berusaha menenangkan sang suami.
''segera berkemas, Marlina, kita liburan ke Jerman saja sampai kasus ini mereda. aku tak sanggup bertemu para sanak family juga teman-teman.... aku mau menghilang saja dari kota ini,''Wildan akhirnya.
''jadi, kita akan meninggalkan aris sendirian di sini pak?''Marlina menghembuskan nafas berat.
''tiga pengacara sudah cukup untuk mengurusnya di sini, kita tak perlu ikut andil lagi. dia sudah dewasa jadi.... biarkan dia sendiri yang menanggung akibat dari kelakuan Tak punya otak itu!''bentuk willan masih dengan emosi yang meluap keluar.
Wilan beranjak menuju kamarnya, sedangkan Marlina Masih berdiri memantau di dekat putranya, iya dilema saat ini, antara mengikuti suaminya atau tetap bersama putranya.
Marlina menghela nafas panjang dan menepuk pundak putranya.
''Aris, Mama yakin kamu akan sanggup menjalani semua ini. Berani berbuat, maka harus berani bertanggung jawab. menjalani sama ini dengan ikhlas, dan dekatkah diri dengan yang maha kuasa. Mama akan selalu doain yang terbaik buat kamu. mungkin semua ini sudah mencari jalan takdirmu, maafkan mama, Mama harus ikut papamu sebab kamu tahu sendiri..... kalau kamu dan dia memiliki kesamaan, sama-sama menyukai wanita dan tak dapat jauh dari hasrat,''Marlina melangkah meninggalkan sang putra, menuju kamarnya, di mana wilan sudah berkemas untuk segera meninggalkan kota ini.
''pa, jadi kita akan berangkat sekarang? Katanya Marlina.
''iya, kita akan langsung ke airport. aku sudah tak kuasa menanggung malu karena ulah putramu,''jawab wilan sambil mengemasi pakaiannya ke dalam koper.
Marlina tak menjawab lagi, iya pun mulai berkemas pula
****
dari pagi, Carolina mengalami sakit kepala dan mual-mual. iya jadi bimbang akan keadaannya, sebab selama 2 bulan di dalam sel tahanan ini iya belum mengalami datang bulan. iya takut perbuatan terakhirnya bersama Irfan membuahkan hasil, sebagian lupa meminum pil pencegah kehamilan, ditambah pola Irfan mengganaskan tanpa memakai pengaman. kiranya semakin gila saja, dia tak bisa membayangkan bakalan hama di dalam penjara.
''hoek... Hoek...''Carolina menutupnya menahan rasa mual.
dia melambaikan tangan kepada polisi wanita yang berjaga di depan selnya dan mengatakan tentang apa yang ia rasakan saat ini. iya juga meminta untuk dipanggilkan pengacaranya.
beberapa saat kemudian, pengacaranya telah tiba dengan membawa tespek, benda pesanan Carolina. kini dengan berdebar-debar,wanita plester Indon-Jerman itu menunggu hasil dari benda kecil di tangannya yang telah ia celupin ke urinenya.
''sial!''umpat Carolina sambil memegangi kepalanya saat melihat dua garis merah pada saat tes kehamilan yang langsung ia lempar ke lantai itu.
Margaretha, sang pengacara memungut benda kecil itu dan melihat hasilnya.
''kamu hamil car? kok bisa?sang pengacara mendadak ikutan pusing akan masalah yang semakin banyak yang melilit kalian yaitu.
__ADS_1
''ini gara-gara Irfan, dia malah meniduriku sebelum kami ditiru waktu itu,''Carolina penerbangan Tak habis pikir akan permasalahan yang tak henti menerpanya itu.
sudah pusing karena tuntutan kepadanya atas beberapa kasus itu, apalagi ancaman masa tahanan yang tentunya akan berlipat ganda, gini iya malah hamil.
''aku mau anak ini gugur, belikan aku pil penggugur kandungan!''Carolina mencengkram bahu sang pengacara dengan tatapan nanar.
''aku Tak habis pikir denganmu yang seorang dokter ahli kandungan tapi malah bisa kebobolan seperti ini.''Margaretha ikut pusing.
''tutup mulutmu, jangan mengguruiku! lakukan saja semua perintahku!''Carolina segera bangkit dari depan kursi ruang besuk lalu masuk kembali ke dalam sel-nya.
Margaretha menggaruk kepalanya lalu memutuskan untuk mendatangi Irfan, ayah dari janin yang dikandung kliennya.
beberapa saat kemudian,dia sudah berhadapan dengan pria bertubuh tinggi gelap dengan kumis dan brewok yang sudah memenuhi wajahnya itu karena sudah dua bulan tidak bercukur.
''kalau kita hamil anak fan, dan dia memintaku untuk membelikan pil penggugur kandungan. Bagaimana menurutmu?''bertanya Margaretha dengan tatapan tajam ke arah pria di hadapannya.
''apa? Carolina hamil?!''Irfan terbelalak, perasaannya jadi tak karuan saat ini, antara panik dan juga senang.
''iya, bukankah kalian bersama beberapa jam sebelum terciduk? apa pendapatmu atas masalah ini?''katanya Margaretha lagi.
Irfan terdiam, andai mereka tak sedang ditahan di balik di jeruji besi, mungkin ia akan langsung melamar teman tidurnya itu di atas berita bahagia ini tapi kini keadaannya sedangkan baik jadi ia juga bingung atas masalah ini.
''apa kamu setuju kalau Carolina menggugurkan anak kalian?''katanya marga retha lagi saat suasana hening sejenak.
''aku mau bertemu Carolina.''Irfan bangkit dari duduknya dan melangkah menemui petugas jaga dekatnya.
Margaretha menunggu di tempat duduknya, iya juga tak setuju kalau Carolina menggugurkan bayinya karena tak mau semakin memperkeruh suasana, tetapi ia bingung jika membayangkan kliennya yang akan mengandung selama di dalam sel itu.
beberapa saat kemudian, Irfan sudah berada di ruang besuk tahanan wanita. dia penjaga terlihat berdiri di belakangnya Carolina diapit seorang penjaga wanita dan diantar ke hadapan Irfan.
''ada apa kamu ke sini b*******?''4 Carolina yang langsung terbakar emosi saat melihat kedatangan Irfan.
''kita harus bicara, duduklah!''putar Irfan sambil meraih tangan Carolina.
''tidak ada yang perlu dibacakan aku membencimu setan!''Carolina menatap tajam ayah dari janin yang sedang ia kandung itu.
''kini sesama setan, Carolina, jadi harus saling menguatkan. apalagi kini kamu sudah mengandung janin sang setan! kita akan membentuk dia jadi setan kecil dan akan meneruskan tahta dua setan....''Irfan tersenyum sinis
. Carolina mengepelkan tangannya dengan tatapan tajam ke arah pintu ruang, di mana berdiri Margaretha,sang pengacara yang pastinya sudah memberitahu tentang kehamilan pada Irfan padahal ia tak mau b******* di hadapan satu tahun masalah kehamilan ini.
''sayang ''Carolina... kumohon jangan gugurkan anak kita!''Irfan berusaha berkata Dengan lembut, sambil berusaha meraba perut Carolina.
''aku tak mau anak ini! Carolina menepis kasar tangan.
''tetapi aku mau....''Irfan masih berusaha bersabar akan sikap kasar Carolina.
''kita akan menikah setelah keluar dari penjara nanti, jangan bunuh anakku! aku mau dia,''ujar Irfan.
Carolina tersenyum sini selalu bangkit dari duduknya.
''aku tak mau anak ini!''ketuk sambil berlalu dari hadapan Irfan.
''penjaga, jangan biarkan Carolina menggugurkan kandungannya! aku tak ingin anak kami dibunuh, aku mau dia!''teriak Irfan mulai terpancing emosi akan sikap Carolina.
keduanya langsung dipisahkan, Irfan segera diseret dua penjaga untuk kembali ke sel tahanannya. begitu juga Carolina
xxxxx
dua hari dua malam, akhirnya Malik dan tim Basarnas tiba juga di kampung nelayan, tempat keberadaan Ilham. pencarian pun mulai dilakukan dengan menghubungi nomor telepon yang digunakan Ilham untuk menelpon Aurel kemarin tapi nomor tersebut malah tidak bisa untuk dihubungi hingga akhirnya para tim harus mendatangi dari rumah ke rumah.
__ADS_1
''Ilham, kamu di mana nak?''Malik membatin sambil terus melangkah mencari keberadaan anak angkat yang sudah ia anggap sebagai anak sendiri itu.
Bersambung.....