Diceraikan Suami Dimalam Pertamaku

Diceraikan Suami Dimalam Pertamaku
bab 42 Clara


__ADS_3

''bagaimana dengan wajah barumu,aris?"tanya dokter bedah plastik yang sudah mengubah semua bagian dari tubuh pasiennya itu memberikan sebuah cermin kepada sosok cantik yang kini sedang duduk di atas tempat tidur rumah sakit terkenal di kota itu.


"hmm.... Cantik, aku suka wajah sexy ini, rambut panjangku tapi.... suaraku masih belum berubah, aku mau semuanya berubah! dan satu lagi, Aris sudah mati... panggil aku Clara,ya Clara itulah namaku, karena wajahku kini secantik boneka Barbie," Aris sangat puas akan hasil operasi yang ia sudah jalani ini.


"tenang, semuanya bisa diatur,"sang dokter menyunggingkan senyum puas. Aris menatap gundukan di dadanya yang terlihat begitu montok, lalu meraba kelaminnya yang juga sudah berubah bentuk. semuanya sempurna,iya kini telah resmi menjadi wanita dan tak satu orang pun yang tahu tentang perubahan jata dirinya ini termaksud kedua orang tuanya.


"selamat tinggal Aris, pria kotor dan mantan napi, kini kamu telah terlahir kembali dalam sosok wanita cantik bernama Clara. Namaku Clara akan membuat semua orang mencintaiku dan aku akan mematahkan hati para mereka,"harus membatin dengan menyunggingkan senyuman sinis.


"oke, besok kita akan jalani operasi pita suara, beristirahatlah dan siapkan dirimu untuk besok Clara!"ujar sang dokter.


Aris mengangguk dan kembali berbaring di tempat tidur rawatnya..


****


"cinta ayo nak? ujar Ilham sambil membuka pintu mobilnya.


tes yang sudah menginjak usia 5,5 tahun, kini sedang duduk di bangku taman kanak-kanak. sedangkan aura baru berusia 3,5 tahun.


Aurel berdiri di depan teras, mengantar keberangkatan suamin dan Putri sulungnya pagi ini.


"kakak dan papa hati-hati, pulangnya bawa es krim ya!"teriak aura.


Aurel melambaikan tangannya, mulai menjalankan mobilnya menuju jalan. ia akan mengantar cinta ke sekolah lalu setelah itu baru ke kantor.


"mama... aura mau main sepeda boleh? tanya Putri bungsunya itu saat sang Mama hendak menggandeng tangannya masuk.


"hmm.... boleh deh, tunggu sebentar mama ambilin sepedanya dulu!"jawab Aurel sambil masuk ke garasi lalu mengeluarkan sepeda roda tiga dengan warna pink itu.


"asik.... aura bersorak senang dan langsung bermain sepeda.


"hati-hati sayang!"hujan Aurel sambil menata putrinya itu yang kini sudah mulai memutari halaman depan rumah mereka dengan memacu sepedanya.


"iya mama....."jawab aura sambil tertawa girang.


Aurel menatap putrinya itu dengan senyum bahagia karena kelincahannya, dua putrinya ini memiliki warna kulit berbeda, cinta agak gelap,sedangkan aura berkulit putih tapi keduanya sama cantiknya dan kasih sayangnya sama walau cinta anak yang terlahir dari suatu konspirasi.


dari arah samping rumahnya,setelah melihat pria yang sedang mengamati Aurel dan menatapnya dengan kerinduan, sambil sesekali menyesap kopinya,beruntung bisa menyewa rumah yang tepat bersebelahan dengan rumah mama dari putrinya itu. Cinta, gadis kecil yang tadi sudah ia lihat juga saat berangkat ke sekolah. iya tahu, kehadirannya takkan diinginkan dan mungkin hanya akan menimbulkan masalah baru, maka dengan itu ia takkan menampakkan wujudnya, iya hanya akan mengamati dari jauh sambil mengumpulkan keberanian untuk mendekat.


****


"Hay,, mau es krim?"seorang pria menghampiri cinta yang sedang duduk di kursi taman sekolahnya.


"Om ini siapa?"tanya cinta,iya tak mau langsung menerima es krim yang disodorkan pria itu sebab pesan bundanya,ya tak boleh menerima pemberian dari orang asing walaupun ini ia sedang kelelahan setelah bermain ayunan tadi.


"Om papahnya salah satu anak yang sekolah di sini juga, cuman dia lagi batuk jadi nggak mau es krim ini. daripada dibuang, mendingan Om kasih kamu yang kayaknya lagi kehausan."pria bernama Irfan itu pasang tampang manis di hadapan cinta,hari ini sengaja datang ke sekolah putrinya hanya untuk bisa sekedar menyapanya sebab ia sudah tak dapat menahan dirinya untuk tak mendekat.


"siapa anak Om? laki-laki atau perempuan dan kelas mana?"tanya cinta,sambil berusaha menelan ludah seperti yang paling menyukai es krim dan akan sulit menahan godaan ini.


"dia perempuan, cantik juga kayak kamu, ambillah, Om orang baik-baik kok dan bukan penculik anak-anak...."ujar Irfan berusaha meyakinkan sebab ia melihat raut kekhawatiran di wajah Putri kecilnya itu.


"terima kasih Om,"cinta menerima juga es krim rasa strawberry dari pria yang menurutnya baik tuh walau ia baru mengenalnya.


"iya sama-sama, siapa namamu, cantik? Irfan pura-pura bertanya.


"cinta Om,"jawab cinta sambil menjilati es krim di tangannya.

__ADS_1


"kamu suka es krim cin?"banyak Irfan.


"suka banget,om. anaknya Om suka es krim juga nggak kalau nggak lagi batuk?"tanya bocah berambut keriting dengan bulu mata lentik itu.


Irfan tersenyum sambil mengangguk.


"kringggg"


"anak-anak, waktu istirahatnya sudah habis ayo masuk!"terlihat beberapa guru berdiri di depan kelas yang dicat warna-warni dengan gambaran bunga dan atribut lainnya agar kelas terlihat menarik dan cantik.


"om, cinta masuk dulu. terima kasih es krimnya."cinta berlari menuju kelasnya.


Irfan mengangguk dan menatap putrinya itu, iya begitu senang bisa ngobrol dengannya walau hanya sebentar. iya mulai berandai-andai, andai Aurel mau memberikan cinta kepadanya.iya pasti akan sangat senang tapi hal itu sangat mustahil walau Mama dari putrinya itu telah memiliki anak yang lain bersama Ilham.


Irfan menghembuskan nafas berat, lalu memasang kacamata hitam juga topinya.ia akan segera pergi dari tempat ini karena tak ingin Ilham atau Aurel melihatnya, ia akan datang esok lagi untuk melihat cinta,bocah kecil yang wajah mirip darinya.


*****


"apa rencanamu selanjutnya,car? apa kamu tetap tak mau menerima carnaval? dia putramu yang sangat tampan dan pintar,"Margaretha sambil menunjuk bocah berusia 4 tahun yang baru pulang dari sekolah PAUD, iya diasuh dengan sangat baik di rumahnya oleh dua pembantunya.


Carolina menggeleng sambil menghisap dalam-dalam rokoknya.


"kalau kamu sudah tak mau merawatnya, ke panti asuhan saja,"jawab Carolina dengan tatapan ke arah kolam renang, mereka sedang mengobrol di teras belakang rumah sang pengacara.


"aku takkan tega melakukan hal itu, dia akan tetap di sini kalau begitu. Aku menyayanginya, apa aku boleh memberitahu Irfan tentang anak kalian ini?"katanya Margaretha lagi.


"jangan, pria bodoh itu jangan sampai tahu tentang carnaval! dia pasti akan senang, aku tak mau itu terjadi. kalau kamu tak mau terbebani olehnya, kamu bisa melempar dia ke panti asuhan, mar, tapi jangan beritahu dia ke Irfan!"Carolina menatap tajang sang pengacara sambil menjatuhkan puntung rokok dan menginjaknya dengan kesal.


"kenapa juga kamu tak mau menerima lamaran Irfan? sepertinya dia benar-benar mencintaimu, kalian bisa hidup bahagia bertiga, dengan putra kalian. cobalah buka hatimu untuk dia!"ujar Margaretha lagi.


Margaretha menarik nafas panjang dan membuang wajah ke samping, iya benar-benar tak mengerti jalan pikiran kliennya itu. untuk beberapa saat, keduanya saling diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing.


"besok aku akan terbang ke Bali, mau liburan dulu, aku pulang dulu, ingat.... kalau kamu nekat memberitahu Irfan tentang carnaval.... aku akan melakukan sesuatu yang mungkin akan membuatmu shock."Carolina bangkit dari kursinya lalu menangkap masuk ke dalam, dia akan kembali ke apartemennya. iya tahu kalau pengacaranya yang seorang janda itu menyayangi putranya jadi iya akan mengancam pengacaranya agar tak memberitahu Irfan tentang anak mereka.


"hey....Tante..."carnaval yang sedang bermain bola di ruang tengah menyapa sambil tersenyum.


"Carolina hanya melengos, tak ada rasa keibuan sedikitpun di hatinya, ia melangkah cepat menuju pintu utama.


"mama.... Tante itu siapa? dia cantik sekali...."ujar carnaval sambil menghampiri Margaretha yang ia panggil dengan sebutan mama, sedangkan dua pembantu lainnya ia sebut dengan panggilan ibu dan bunda. Iya mempunyai tiga Mama di rumah ini, walau ia tak mempunyai seorang ayah pun.


"dia Kliyen mama, ya sudah, kamu lanjut main,nak. Mama mau antar Tante tadi ke depan dulu."perkereta mengusap kepala bocah dengan hidung mancung dan alis tebal itu.


Carolina masuk ke dalam mobilnya dan tancap gas menuju pulang,iya benar-benar tak ingin kalau Margaretha memberitahu Irfan tentang putra mereka. kalau pengacaranya itu nekat, maka ia akan membawa pergi karnaval dan membuangnya ke luar negeri.


"brakk."


Karlina yang menyetir sambil melamun, tiba-tiba menabrak mobil yang berhenti mendadak di depan.


"sial!"Carolina memukul stir dengan kesal,lalu bergegas turun untuk melaporkan pengendara mobil berwarna merah itu di depan.


seorang wanita bertubuh tinggi keluar dari dalam mobil itu lalu melangkah ke belakang mobilnya untuk melihat apa yang terjadi pada mobilnya.


"hey,, kamu, kok berhenti mendadak begini!"Carolina dengan emosi yang meluap-luap.


"hey,, kamu belum, buta ya bukan?. apa tidak lihat break lamp yang saya nyalakan itu?!"balas sang wanita dengan pakaian sexy itu.

__ADS_1


Carolina menatap ke arah lampu mobil yang masih menyala itu, ternyata dirinya yang salah karena tidak fokus pada mengemudi.


"saya mau kamu ganti rugi, kalau tidak... saya akan bawa kasus ini ke kantor polisi!"... ancaman sang wanita bernama Clara alias Aris yang kini resmi berevolusi.


"oke oke,, jangan lapor polisi. saya akan ganti rugi,Carolina kembali ke mobil lalu mengambil dompet lalu menyodorkan beberapa helai uang kepada Clara yang kini menatapnya dengan bengis.


"kamu pikir uang ini cukup hah?!"Clara memutar bola matanya dengan memegang lima lembar uang berwarna merah.


"maaf.... di dompetku hanya ada segitu..."Carolina yang angkuh hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"oke lain kali.... hati-hati dalam berkendara!"Clara membalik badannya lalu masuk kembali ke mobilnya.


Carolina membuang pukulan ke udarah, dia kesal tapi tak bisa berbuat apa-apa. Sedangkan Clara,iya segera tancap gas dan tertawa puas karena mantan pacarnya itu tidak mengenali dirinya. ia merasa sukses atas perubahan besar dalam dirinya ini.


Clara kembali ke rumahmu, sebuah rumah 2 lantai di kawasan elit yang baru ia beli ketika kembali ke Indonesia. Untung saja ia mempunyai banyak aset kekayaan dari orang tuanya, jadi akan tetap bisa hidup enak walau sudah tak bekerja lagi.


Clara mulai meng-upload, foto-foto seksinya di sosmed, dia ingin menjadi selebgram dan kalau pergi menjadi artis sekalian. iya benar-benar menginginkan dunia barunya, tanpa ada satu orang punya mengenalnya.


****


"cinta, aura... kalian dapat dari mana itu?"tanya Aurel saat kedua putrinya itu naik ke atas, setelah bermain di halaman rumah.


"dikasih sama Om di sebelah rumah,"jawab kedua serempak.


dua putrinya itu langsung berlari masuk dengan membawa boneka Barbie yang diberikan oleh sang tetangga yang tadi sempat menampakan diri dari pagar pembatasan rumah.


Aurel menekan alisnya sambil melangkah ke halaman rumah,sepengetahuannya rumah di sebelah itu kosong tapi kok dua putrinya mengaku dikasih boneka. iya mendadak menjadi merinding karena makannya dengan hal misteri.


"kalau hantu.....nggak mungkin juga nongol di siang hari tapi kok aku nggak pernah lihat penghuni rumah sebelah itu...."Aurel membatin sambil melangkah mendekat ke arah pagar pembatasan sambil mengamati rumah yang memang sudah sejak lama kosong itu.


"Irfan yang melihat Aurel sedang mengamati rumahnya langsung menutup kembali tirai yang ia sibak sedikit itu, sebenarnya tak masalah jika mama dari putrinya itu tahu kalau mereka bertetangga,tinggal menunggu waktunya saja sebab dia juga sudah berani menampakkan wajahnya kepada ke dua Putri Aurel. iya juga sering menemui cinta di sekolahnya.


beberapa hari berlalu...


sore ini,Aurel mendapati dua boneka Barbie yang didapati dua putrinya dari tetangga sebelah rumah itu tergeletak di lantai ruang tengah.iya mulai berpikir untuk mengucapkan terima kasih kepada penghuni rumah sebelah itu walau hingga detik ini ia belum pernah melihat penampakannya.


Aurel berjalan menuju pintu berlalu keluar menuju halaman, iya kembali mengamati rumah yang terlihat kosong itu.


tak lama berselang,sebuah taksi berhenti di depan rumah itu lalu keluar seorang pria yang wajahnya sangat tidak asing di matanya. iya melongo dan tak menyangka kalau tetangganya ada ayah biologis dari cinta.


"Irfan!"ujar Aurel kaget.


Irfan yang hendak membuka pagar rumahnya langsung menoleh ke samping dan langsung beradu tetap dengan Aurel.


Irfan tersenyum lalu membuka pagar rumahnya, dan kemudian mendekat ke arah pagar pembatas rumah.


"jadi... kamu yang memberikan boneka Barbie kepada kedua putriku?"tanya Aurel dengan memperlihatkan dua boneka di tangannya.


"dua putrimu dan satunya adalah putriku.... Putri kita..."Irfan tersenyum.


"jangan macam-macam,fan!"jangan mencoba membuat ula lagi!"status Aurel dengan perasaan yang menjadi tak nyaman atas kehadiran dari pria yang sebenarnya tak ingin ia cintai lagi itu.


"aku nggak akan macam-macam rel. Aku cuman satu macam saja, yaitu... bisa melihat pertumbuhan putriku.. hanya itu saja kok..."Irfan kembali tersenyum.


Aurel menghela nafas berat, iya mendadak saat takut kehilangan Putri rambut keriting itu,iya takut Irfan mau ngambilnya walaupun terlihat lebih bersahabat dari dulu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2