
setengah jam kemudian, aku telah tiba di rumah, kulangkahkan kaki menuju kamar lalu mencuci wajah di toilet, rasa sakit di kepala ini sudah reda, tapi bayangan bayi pucat di kamar mandi itu malah tak dapat hilang dari kepalaku. ya Tuhan kenapa aku?''padahal sudah lama sekali arwah Bayi itu tak pernah lagi menerorku. apa saat ini dia merindukan aku, ibunya? mendadak perasaan menjadi sedih. bukan aku yang membunuhmu nak! kamu ku lahirkan dengan keadaan sudah tak bernyawa lagi, jadi jangan pernah menghantuiku. aku tak bersalah jelas atas kematianmu, walau jika kamu terlahir hidup pun.... aku tetap berencana mengantarmu kepada ayahmu, Revan, agghhh.... b******* itu. ke mana perginya dia? sudah lama aku tak lagi menerornya karena ada padatnya rutinitasku.
segera kuganti baju dinas ala advokat ini dengan kaos oblong dan celana pendek, lalu berbaring di tempat tidur. sebaiknya aku istirahat saja dulu, mungkin kecapean makannya hampir mua pingsan tadi. aku mulai memejamkan mata dan berharap bisa tidur siang ini.
getaran suara ponsel di atas nakas, membuat tidur ini jadi terusik, segera kuraih benda pipi itu dan mengamatinya. ternyata ada panggilan dari nomor baru, langsung saja aku geser tombol hijaunya.
''halo''sapaku.
''halo Reyna aku Dany '', ujar suara dari seberang sana.
ya ampun,deni lagi,Deni lagi mau apa sih dia?''tahu dari mana dia ponsel nomor ponselku, sungguh menyebalkan pria ini!.
''ada apa lagi deny, tanya aku geram.
''reyna, please.... jangan dimatikan dulu, aku hanya ingin bicara masalah persidangan tadi. apa kamu punya segala bukti yang sudah kamu tuduhkan kepada pak Angga tadi? kalau semua buktimu sudah kuat, aku akan mengundurkan diri saja jadi pengacaranya, sebab Dia tidak ada bilang tentang semua yang telah kamu beberkan tadi.''hujannya dengan nada bicara yang cepat, mungkin dia takut aku matikan ponsel.
''hmm... semua bukti dan saksi sudah kami siapkan, kamu itu selalu membela orang yang salah, sama seperti dirimu yang memang penjahat. penjahat jadi pengacara penjahat, sungguh miris!''cibirku.
''bukan seperti itu, Reyna _''
''sudahlah, jangan menggangguku lagi dan pura-pura baik, aku muak denganmu!''statusku sambil memutuskan sambungan telepon.
kuhala nafas panjang lalu bangkit dari tempat tidur, belum sempat aku melangkah menuju kamar mandi, ponselku malah kembali bergetar, aku segera membalikkan tubuh dan meraih benda pipi itu, ternyata telepon dari ibu.
''assalamualaikum nak''. ucap dari ibu seberang sana.
''waalaikumsalam Bu'', jawab kok sambil duduk kembali di tempat tidur.
''Kamu apa kabar, Reyna ?''tanya ibu dengan nada senang.
''Alhamdulillah baik bu, keluarga di sana bagaimana kabarnya?''aku senang mendengar suara ibu, aku merindukan wanita yang amat kusayangi itu.
''baik juga, Reyna, Kamu kapan pulang nak?''kami di sini merindukan kamu,''ujar ibu lagi yang memang sudah lama menginginkan aku pulang.
aku terdiam, sudah tujuh tahun lamanya aku tak pernah pulang kampung, tepatnya sajak petaka malam tahun baru itu, luka lama kembali muncul ke permukaan masa kalam itu kembali membuat hati ini perih, semua karena Revan, aku hancur karenanya. aku takkan bisa tenang sebelum membuatnya mati membusuk di penjara.
''reyna,, kamu masih di sana nak?''suara ibu membayurkan lamunanku.
''eh,iya,Bu...hmmmm ...anu...''aku menghela nafas berat.
__ADS_1
''kapan kamu mau pulang, nak? kalau kamu mau tetap bekerja di sana, tidak apa-apa, tapi setidaknya kamu bisa pulang sebentar, barang seminggu. ibu kangen berkumpul denganmu, keluarga di sini juga selalu menanyakan kabar tentangmu '', ujar ibu lagi.
''hmm.... iya Bu bulan ini, Reyna bisa pulang, dua minggu lagi Reyna masih harus mendampingi klien sidang, Reyna usahakan bulan depan deh semoga saja agak longgar jadwal sidangnya''. aku berusaha menyenangkan hati ibu.
''Alhamdulillah kalau begitu, Reyna, ibu senang sekali, kalau kamu sudah pulang ke rumah, ibu mau mengadakan acara selamatan, nak, ibu doakan semoga terakhirmu selalu lancar''.
''amin'', aku tersenyum haru mendengar ucapan ibu.
panggilan telepon kami akhiri, aku jadi galau sekarang, bimbang juga hendak menginjak kampung, aku takut ada salah satu warga yang mengetahui aibku tujuh tahun yang lalu, peristiwa pemerkosaan itu sungguh trending sampai ke pelosok penjuru, bagaimana ini?
aku menggigit bibir.
******
waktu terus berlalu, hari ini sidang putus sidang perebutan hak asuh antara klienku, Mbak Madinah dan pak Angga, yang kini sudah tiga kali ganti pengacara namun tetap tak bisa memenangkan kasus ini.
''terima kasih ya, Reyna, semua berkat kamu, saya bisa memenangkan hak asu 2 anak saya, saya berhutang Budi dengan mu,maaf.... saya tidak bisa memberikan apa-apa untukmu, hanya kue ini saja'', ujar Madinah sambil memberikan sekotak kue ke tanganku saat kami sudah keluar dari ruangan sidang.
''nggak perlu repot-repot, mbak, Saya senang kok bisa membantu Mbak Madinah'', jawabku sambil menerima kotaku yang sudah ia sodorkan kepadaku.
tak lama kemudian, cara sok baik yang selalu membela penjahat ini malah menghampiriku yang masih ngobrol dengan Madinah kursi taman di bawah pohon, di samping pengadilan.
''tidak apa-apa terima kasih'', jawab Madinah sambil tersenyum dan menerima jabatan tangan Deni.
''itu kue bikinan mbak Madinah.....''Deni menunjuk kotak kue di tanganku.
''iya,, kalau ada acara dan mau order kue, bisa pesan ke saya saja hehehe.... maaf saya malah promosi'', jawab Madinah sambil tersenyum lagi, iya terlihat semangat bahagia karena terkini hak asuh dua anaknya sudah berhasil jatuh kepadanya.
''buka dong Raina kotak kuenya, saya juga ingin mencicipi kue bikinan bak Madinah'', ujar Deni lagi sambil tersenyum sok imut.
''maaf nih,... saya bawanya cuman satu kotak saja.''Madina tersenyum tak enak.
aku melirik jengkel pria di samping Madinah dan membuka kotak kue itu Dan meletakkan di atas meja di hadapan kami, tanpa disuruh lagi, pria tahu malu itu langsung mengambil satu kue dengan bentuk donat bertoping coklat kacang dan melahapnya dengan nikmat.
''ayo, Reyna, cicipin kuenya!''ujar Madinah.
aku tersenyum dan mengambil satu kue, selalu mencicipinya.
''hmm... enak mbak, Saya minta nomor WhatsApp saja, soalnya Mama saya paling suka kue donat seperti ini, nanti apa bisa diantar atau bagaimana?''tanya Deni.
__ADS_1
''diantar, pak,, Madina menutup mulutnya, mungkin ia bingung untuk menyebut nama pria sok akrab itu di samping kami.
''panggil saya saja Deni, Mbak tulis nomor WhatsApp saya di sini''Deni memberikan ponselnya kepada Madinah.
'' iya Madina mengangguk
beberapa saat kemudian.
''ini nomor saya, kalau mau pesan kuenya, wa saja. nanti akan diantar sampai rumah soalnya saya ada kerjasama sama Abang antar''oh iya, kalian serasi sekali deh kalau saya lihat, seletup Madinah yang membuat donat di mulutku ini terasa bersangkut di tenggorokan.
''uhukk.... uhuuuuk...''aku terbatuk-batuk mendengar.
kata-kata Madinah segera kuraih air mineral di saku jas dan menunggunya.
''semoga bisa merealisasikan perkataan Mbak Madinah, doakan saja semoga Reyna mau membuka pintu hatinya untuk saya,''ujar Deni sambil melirikku.
hah, memang minta dihajar dia ini nampaknya, aku melirik jengkel pria berwajah putih pucat seperti mayat itu.
''jangan ngawur Deni, aku menatap tajam ke arahnya.
''hahaha... kalian berdua ini lucu sekali, kalau dilihat dari wajahnya sih, kalian ini mirip, kata orang sih, mirip itu artinya jodoh,''Madinah tertawa sambil menutupi mulutnya.
''amit-amit deh berjodoh sama dia Mbak mendingan jadi_''aku menggigit bibir dan tak bisa melanjutkan kata-kata perawan tua'pun tak pantas untukku yang memang sudah pernah diperkosa secara bergilir dan sudah pernah melahirkan pula.
'''ya sudah, apa mit pulang deh terima kasih, Reyna dan Denny.''Madina bangkit dari kursi dan pamit pergi.
''terima kasih kue donatnya, Mbak hati-hati di jalan''. Deni melambaikan tangan kepada Madinah, iya memang suka sok akrab, issh....
aku menghela nafas berat lalu bangkit juga dari kursi.
''reyna, jangan pergi dulu! aku masih mau bicara denganmu!''Deni malah menarik tanganku.
kegeraman di hati ini tak bisa kutahan lagi, lirik tanganku darinya dan mendaratkan pukulan di wajahnya, saat aku hendak melanjutkan untuk memukulnya Deni malah menangkap tanganku.
''reyna, jika memukul bisa membuatmu tak menyamakan aku dengan teman-temanku, lakukan saja! pukulah aku sesukamu tapi biarkan aku untuk mengobati luka di hatimu, aku memang bersalah, karena tak bisa menolongmu dan biarkan aku menembus kesalahan itu dengan menikahimu!''ujar Deni dengan raut serius.
''aku semakin genggam mendengar kan kata-kata tak masuk akalnya dan berusaha menarik tanganku dari genggamannya, dia benar-benar sudah gila!''aku membenci hingga ke tulang sumsum!..
bersambung
__ADS_1